Latest Entries »

Dalam salah satu ceramahnya, ketua umum FPI, Habib Rizieq Shihab bercerita bahwa neneknya bernama Zawiyah merupakan kerabat (keponakan) Pitung.
Berdasarkan penyelusuran genealogy, sosok Pitung yang dimaksud bernama asli Raden Muhammad Ali Nitikusuma atau Salihun, kepala Pendekar kelompok Pituan Pitulung (Pitung).

silsilah-betawi1.jpg

 

Raden Muhammad Ali Nitikusuma merupakan putera dari Raden Nurul Syamsirin Nitikusuma, yang merupakan keturunan Raden Nitikusuma I bin Pangeran Kawisa Adimerta bin Pangeran Aria Jipang bin Pangeran Bagus Surowiyoto bin Raden Hasan (Raden Fattah, Pendiri Kesultanan Demak).
Raden Muhammad Ali Nitikusuma, juga memiliki kekerabatan dengan Prabu Siliwangi Pajajaran, yaitu melalui ibunda dari Pangeran Kawisa Adimerta yang bernama Ratu Ayu Jati Balabar binti Adipati Singa Menggala bin Prabu Surawisesa bin Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja)

 

Biodata

habib-rizieq-dan-istri
Nama : Habib Muhammad Rizieq Syihab
Lahir : Jakarta, 24 Agustus 1965
Ayah : Habib Husein Syihab (almarhum)
Ibu : Syarifah Sidah Alatas
Istri : Fadlun Yahya

Anak :
Rufaidah Syihab
Humaira Syihab
Zulfa Syihab
Najwa Syihab
Muntaz Syihab
Fairuz Syihab
Zahra Syihab

Pendidikan :
SDN 1 Petamburan, Jakarta (1975)
SMP 40 Pejompongan, Jakarta
SMP Kristen Bethel Petamburan, Jakarta (1979)
SMAN 4, Gambir, Jakarta
SMA Islamic Village, Tangerang (1982)
Jurusan Studi Agama Islam (Fikih dan Ushul) King Saud University (S1), Riyadh, Arab Saudi (1990)
Studi Islam, Universitas Antar-Bangsa (S2), Malaysia.

Karier Habib Rizieq Syihab
Selain mengisi pengajian-pengajian, Habib Rizieq juga pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Jami’at Khair sampai tahun 1996. Walaupun sudah tidak menjabat sebagai kepala sekolah, Beliau masih aktif mengajar di sekolah tersebut sebagai guru bidang fiqih atau ushul fiqh. Pengalaman organisasinya dimulai ketika Beliau menjadi anggota Jami’at Khair, ormas berbasis keturunan Arab dan Habib. Habib Rizieq juga pernah menjabat Dewan Syari’at BPRS At-Taqwa, Tangerang. Sebelum menjadi Ketua FPI, beliau pernah menjadi pimpinan atau pembina sejumlah majlis ta’lim se-Jabodetabek lalu dari mulai berdirinya FPI (tahun 1998) sampai 2002 menjabat sebagai Ketua Umum FPI, dan dari 2003 sampai sekarang menjabat sebagai Ketua Majelis Tanfidz

Source 1

Source 2

ketua-mui-dan-ahok-serta-tim-kuasa-hukum

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin hadir menjadi saksi ahli pada sidang lanjutan perkara dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama yang digelar pada Selasa (31/1/2017),

Berdasarkan pantauan Portal Islam, berikut 5 pukulan telak yang disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin saat menjadi saksi di persidangan kasus penistaan Ahok.

 

1. Ahok Telah Menghina Al-Quran dan Ulama

 

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan, sebagai seorang non-muslim tidak etis Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 dalam pidatonya di Kepulauan Seribu. “Seharusnya Pak Basuki tidak bicara Surat Al-Maidah karena bukan Muslim, tidak etis dan tidak proporsional,” kata KH Ma’ruf saat memberikan kesaksian dalam lanjutan sidang Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (31/1).

KH Ma’ruf pun menggarisbawahi bahwa Ahok telah menghina Alquran dan ulama terkait ucapannya tersebut. “Itu substansinya, yaitu kata-kata “dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51″, tidak ada korelasinya dengan isi seluruh pidato,” kata Ma’ruf.

“Menurut pendapat yang kita bahas (di MUI), terdakwa memposisikan Alquran sebagai alat kebohongan, memposisikan Alquran rendah. Yang sampaikan alat itu adalah para ulama, maka kesimpulannya (Ahok) melakukan penghinaan pada Alquran dan ulama,” tegas KH Ma’ruf.

 

2. Perlu Ada Tindakan Hukum Atas Penghinaan Agama

 

Ketua Umum MU KH Ma’ruf Amin mengatakan ucapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 merupakan isu nasional sehingga perlu ada tindakan hukum untuk memprosesnya.

Hal itu terkait kuasa hukum Ahok yang mempertanyakan sikap MUI DKI Jakarta yang menyebutkan telah menegur Ahok untuk tidak mengeluarkan ujaran kebencian dan pernyataan yang meresahkan umat Islam di DKI Jakarta. Jadi karena Ahok sudah ditegur maka tidak perlu proses hukum.

“Ini sudah isu nasional, bukan lagi masalah daerah di mana berpotensi menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” kata KH Ma’ruf saat memberikan kesaksian dalam lanjutan sidang Ahok.

 

3. Teguran Belum Jawab Tuntutan Masyarakat
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin pun menyatakan tidak ada pertentangan antara teguran dari MUI DKI Jakarta dengan sikap dan pendapat keagamaan MUI terhadap ucapan Ahok.
“Karena teguran itu belum menjawab tuntutan masyarakat. Masyarakat juga berharap bisa ditindaklanjuti ucapan terdakwa ini kepada penegak hukum sehingga dianggap cukup,” ucap KH Ma’ruf.
KH Ma’ruf menyatakan sikap dan pendapat keagamaan
terkait penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dibahas oleh empat komisi di dalam MUI.
“Empat komisi yang terdiri dari komisi fatwa, undang-undang, pengkajian, dan informasi melakukan penelitian dan investigasi di lapangan kemudian melakukan pembahasan,” tuturnya.
Setelah dilakukan pembahasan di empat komisi itu, kata KH Ma’ruf, hasilnya dilaporkan kepada pengurus harian.

“Kemudian dibahas lagi di pengurus harian termasuk saya. Pengurus harian itu ada ketua umum, wakil ketua, dan sekretaris-sekretaris. Pengurus harian inti ada sekitar 20 orang,” katanya.
KH Ma’ruf menyatakan setelah pembahasan dalam pengurus harian kemudian lahir sikap dan pendapat keagamaan MUI yang menyimpulkan bahwa ucapan Ahok yang mengatakan “dibohongi pakai Surat Al-Maidah ayat 51” itu merupakan penghinaan terhadap agama dan ulama.
4. Kasus Penghinaan Al-Quran Ini Bukan Terkait Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51
KH Ma’aruf Amin menegaskan kasus penghinaan Al-Quran dan Ulama yang dilakukan Ahok bukan terkait dengan tafisr (perbedaan tafsir) atas surat Al-Maidah ayat 51 pada kata auliya. Hal ini menanggapi permintaan tim penasihat hukum terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tersebut, khususnya terkait ‘auliya’ dalam surat al-Maidah ayat 51.
“Apakah makna dari kata ‘auliya’ dari al-Maidah 51? Apakah maksudnya teman dekat‎ dan menganggap proteksi dan saling pelindung?” ujar salah seorang penasehat hukum Ahok dalam persidangan.
KH Ma’ruf menjelaskan bahwa tafsir al-Maidah ayat 51 tidak menjadi objek dalam pembahasan fatwa MUI ‎yang menyatakan terdakwa Ahok telah menistakan agama Islam saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Seribu. Fatwa MUI dikeluarkan berdasarkan pernyataan Ahok yang menyampaikan al-Maidah ayat 51 kepada warga Pulau Seribu.
“Tafsir Almaidah tidak menjadi objek pembahasan. Karena yang menjadi objek pembahasan adalah pernyataan Ahok di Kepuluan Seribu (kalimat “dibohongi pakai Surat Al-Maidah ayat 51″),” kata Kyai Ma’aruf.

 

5. Pertanyaan Tim Hukum Ahok Tidak Relevan
Pengacara Ahok bertanya tentang kepemimpinan Donald Trump di Amerika saat ini yang baru saja mengelurkan kebijakan kontroversial dan mengaitkannya dengan pernyataan KH Ma’ruf.
“Di Amerika, Donald trump mengeluarkan kebijakan imigran yang kontroversial, gimana dikaitkan dengan pernyataan anda?” tuturnya.
Mendapati pertanyaan itu, KH Ma’ruf menyatakan pertanyaan itu tak ada kaitannya dengan pokok perkara. Sehingga, dia enggan memberikan jawaban. “Sudah tak relevan, sudah ke mana-mana pertanyannya. Bukan porsi saya,” tegas KH Ma’ruf.
mui_pendapat-dan-sikap-keagamaan

 

SOURCE

Pasca 212, Indonesia Telanjang

Adalah Perang Badar, perang yang bersejarah bagi umat Islam di awal perkembangannya ini yang Allah pilih sebagai penentu eksistensi agamaNya di muka bumi. Perang yang dipilih sebagai penegas,pembeda; mana mereka yang benar-benar beriman, mana yang kufur, dan mana yang munafik. Bagaimana tidak dengan musuh yang berlipat-lipat jumlahnya kaum mu’min diuji perintah untuk menghadapi mereka bagaimana pun juga. maka disinilah penyaringan itu terjadi, disinilah buih-buih itu dipisahkan dari sari.

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٢٣)
123. sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah[225]. karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلاثَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُنْزَلِينَ (١٢٤)
124. (ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu Malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُسَوِّمِينَ (١٢٥)
125. Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

============================

maka miriplah kisah jum’at akbar 212 kemarin dengan peristiwa badar. dimana sekelompok orang dihalang-dihalang untuk menyuarakan tuntutannya ke ibu kota, tekad membaja tak menyurutkan langkah mereka walau berbagai usaha penggagalan diarahkan bertubi-tubi. Dari mulai larangan menggunakan angkutan bus, selebaran kepada ormas-ormas agama maupun perorangan untuk tidak mengikuti, cibiran, hinaan, berita hoak, hingga fatwa-fatwa ‘orderan’ yang masif disuarakan menjelang hari aksi.

 

ytr

 

Namun apa daya, dimulai dari sekelompok rombongan dari kabupaten Ciamis yang nekad jalan kaki, siapa sangka dukungan datang dari mana-mana. makin hari mereka makin viral, bagai bola salju yang menggelinding ke berbagai penjuru. maka saksikanlah,bak ada laser yang mengubah monas menjadi medan magnet, maka tarikannya menyebar kemana-mana. Tak peduli naik apa, tak peduli disana apa.
” Kami menyambut, kami menyahut..labbaikallohmma labbaik”

 

malaysia-212

 

link :  Inilah Prilaku Ahok Yang Memicu Aksi 212

 

Syahdan kisah berakhir, dan kenangan manis terukir.. one day in your life.

Mari kita beranjak kepada mereka yang antipati terhadap aksi ini. saya hanya bisa menyimpulkan; tak semata-mata mereka yang mengikuti-setidaknya mendukung aksi 212 kecuali dimuliakan, dan tak semata-mata mereka yang menentang dan mencaci kecuali dihinakan. Mari simak beberapa contoh berikut ini :

1. Aksi Tandingan 412

begitu ramai media (termasuk buzzer) yang menyebut aksi2 umat islam itu sebagai aksi politik, aksi anti etnis, mengganggu ketertiban, aksi bayaran, pasukan nasi bungkus, dlsb. Maka di 412 lah Alloh ta’ala balikan ucapan mereka dan hinakan kelakuannya.

2. Nusron Wahid

Entah siapa yang memberi dia gelar intelektul muda muslim, padahal aksi dia di ILC edisi Ahok jelas menggambarkan kedangkalan pemikiran dan ketidakhormatannya kepada para ulama yang lebih tua. Maka menjadi tukang sampah bagi ‘majikan-majikan’nya yang cuma melongo & tertawa-tawa cukup menjadi hukuman yang pantas untuknya.

3. Sari Roti

Entah apa yang ada dipikiran manajemen sari roti sehingga membuat pernyataan klarifikasi pasca aksi. sudah bagus brandnya naik karena ‘dipromosikan’ pedagang, eh malah dirusak kelakuan sendiri. apanya yang salah dengan menggratiskan, toh itu ada yang borong/ membayarkan sehingga setoran tetap masuk dari para penjual. Tapi mungkin karena sudah sentimennya tinggi khas para ahokers,jadilah bikin pernyataan macam-macam. So, tanggung sendiri akibatnya !

Mereka yang dimuliakan

begitu banyak cerita ajaib yang menimpa para peserta aksi, dan saya tak sanggup menuliskannya disini. Hanya satu yang saya sebut, seseorang yang telah dinobatkan oleh ikatan Muslim Tionghoa sebagai  ”Man Of The Year 2016”, dialah al mukarrom Habib Rizieq Shihab.

Ya, kepemimpinannya terbukti, mampu memimpin 2 aksi yang melibatkan jutaan orang tanpa berakhir rusuh. Ini pun menular kepada  citra FPI sendiri, dari semula mencibir  (termasuk saya sendiri..tapi lebih sebagai kritik + ) menjadi menghormati. ya, begitu masifnya pencitraan hingga kesan buruk saja yang terdengar.

Semoga setelah aksi ini apa yang kita harapkan terwujud, karena yang kami pinta bukan negara tapi justru apa yang kita cita-citakan bersama; kedamaian dan keadilan di negeri kita yang tercinta. Amiin.

 

Wallohul musta’aan.

 

(catatan u/ nanda & istri tercinta, oleh: Alfin M. Nur, dari arena aksi Lapangan Monas, 212).

  1. Umi & ananda abi tersayang, semenjak sore kemaren iring2 helikopter mengitari lapangan monas dn masjid istiqlal, bberapa helikopter y sempat abi baca ada dari UN (PBB), kepolisian, dn bberapa heli lainnya, tidak kurang dari 7 – 10 heli berputar2 di langit Jakarta.
  2. Semenjak malam hingga subuh sirine kepolisian terus meraung2 menyusuri tiap jalan dn gang2 di seantero Kota, terutama di titik aksi.
  3. Mulai subuh, jalan2 kota sudah sangat padat. Hingga waktu dhuha, jalan2 banyak di penuhi pejalan kaki y menempuh ke titik kumpul.
  4. Abi berjalan tidak kurang 2 Km menuju titik aksi. Sepanjang jalan sudah banyak relawan y menyambut peserta aksi y menyediakan berbagai makanan; dari y ringan hingga makanan berat, air minum juga disediakan, sungguh mengharukan, terasa lingkar ukhuwah y demikian erat.
  5. Sepanjang jalan, banyak masyarakat y menyapa dan menyambut peserta aksi bak pahlawan.
  6. Umi dan nanda tersayang, tiba2 saja awan menaungi peserta aksi, suasana y abi rasakan demikian teduh, kami luar biasa ramai tapi sangat teratur.
  7. Bahkan y unik yang abi rasakan, seolah2 Allah menyetel cuaca berdasarkan suasana aksi di lapangan. Ketika do’a y dipimpin Ust. Arifin Ilham di kumandangkan dan hampir keseluruhan peserta aksi menitikkan air mata, Allah kirimkan gerimis seperti gerimisnya hati kami, dan ketika perwakilan umat ini; Ust. Habib Rizik, Ust. Hidayat Nur Wahid, atau Ust. Bahtiar Nasir, menyampaikan orasi penyemangatnya, segera gerimis berganti dengan mentari y nyalang, seolah mewakili gelora orator y membakar semangat, dn ketika Syeikh ali Jabir melantunkan Ayat Suci dg suaranya y merdu, cuaca pula berganti dg angin sepoi2 y nyaman. Allah Engkau hadir dalam gelora ini, dan kami sangat merasaknnya (hal ini juga di singgung oleh Ust. Bahtiar Nasir dalam orasinya).
  8. Sungguh abi merinding, menyaksikan di atas langit lapangan Monas, Allah menggantung awan2 seperti layaknya puzle2 y siap di gerakkan buka tutupnya mentari. Ada awan y abi saksikan sangat pekat (hitam) tentu ia mengandung air y siap di turunkan, ada awan y tipis, tentu ia seperti sutrah, y melapisi pancaran sang mentari, dan kesemua awan2 ini bergerak dg takdir Nya y sangat harmonis.
  9. Umi dan ananda abi tersayang, seketika kami berdiri mengatur shaff2 u persiapan shalat jum’at, dengan tiba2 Allah mengirimkan guyuran hujan. Kami seketika bertakbir, menyaksikan harmoni alam y di paradekan Allah hari ini diatas langit Monas. Kami menikmatinya…, air langit ini berbaur dg aliran air mata ini y tdk kuasa u di tahan.
  10. Tidak ada seorangpun y berganjak dari posisinya. Guyuran hujan ini membersihkan jiwa2 kami, membasuh dosa2 dn kemaksiatan y mungkin melekat di diri2 ini, serta menyegarkan bagi saudara2 kami y menempuh jalan kaki beratus kilometer (ribuan kafilah dari Ciamis satu diantatanya).
  11. Shalat Jum’at terbesar sepanjang sejarah umat ini. Dulu pernah.. Tapi sudah begitu lama… Lebih kurang 700-an tahun y silam. Ketika Sulthan Muhammad Al Fatih menaklukkan Constantinopel, ia memimpin barikade pasukan y berjumlah 200-an ribu pasukan itu utk Shalat Jum’at di hadapan Kota Constantin sebelum penaklukan.
  12. Hari ini, lebih kurang 7 juta orang itu menyusun shaff y rapi, shalat jum’at tersyahdu dn terbesar sepanjang sejarah dunia, dan menggetarkan jiwa2 kami serta seluruh dunia y menyaksikannya.
  13. Parade Harmoni alam kembali terjadi lagi… Allah menghentikan kembali guyuran hujannya setelah shalat jum’at selesai.
  14. Aksi Bela Islam yang Allah hadir di tengah2 aksi. Allah…, selamatkan bangsa dn agama ini, hadirkan kami sebagai pasukan pembela syari’at Mu, bersama anak keturunan kami hingga al-haq tegak di muka bumi ini.
  15. Ganjarkan Jannah bagi kami, dan pertemukan kembali kami dalam reuni akbar di padang mahsyar, di mana saat itu kami dan keturunan kami serta umat ini merindukan pembelaan KitabMu: Al-Qur’an, sebagai jawaban karena pembelaan kami atasnya di bumiMu…. Aamiin.
  16. Nanda abi tersayang…, Catatan kecil ini sebagai saksi utk kalian 10 – 20 tahun nanti, ketika kalian menceritakan pada buah hati kalian.., Bahwa dahulu, kalian memiliki ayah y turut dlm barisan membela agama ini, sebagai penegasan bahwa al-haq harus terus di bela oleh keluarga ini dan kita merupakan keluarga y tidak rela agamanya di nista oleh siapapun dan sampai kapanpun. Aamiin.
  17. Salam cinta abi, untuk umi dan anak2 dari arena aksi Bela Islam 212, Lapangan Monas, Jakarta 2 Desember 2016.

# Semoga ikhtiar kecil ini menjadi pemberat u kita mampu meraih JannahNya… Aamiin.

cyrgstduaaapqep-jpg-small

JAKARTA, FOKUSJabar.com: Setelah memeriksa dan menelaah lebih lanjut, Kejaksaan Agung (Kejagung) segera melimpahkan berkas perkara Ahok ke pengadilan.

Berdasarkan hasil analisa Kejagung, perkataan serta pidato Ahok di Kepulauan Seribu seharusnya dikenakan dakwaan Pasal 156 dan Pasal 156 a KUHP.

“Fakta yang diteliti menggambarkan perbuatan yang dilakukan yaitu memenuhi unsur Pasal 156 dan 156 a KUHP,” jelas Jampidum Noor Rachmad dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (30/11/2016), seperti dikutip dari Detik.

Pasal 156 KUHP berbunyi:

Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Adapun Pasal 156a menyatakan:

Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa

Sebelumnya Polri juga sudah memberikan Ahok dengan UU Informasi dan Transkasi Elektronik (UU ITE). Namun pihak Kejagung mengesampingkan hal tersebut karena perbuatan Ahok dinilai tidak memenuhi unsur dalam UU itu.

Source 1 : news

Source 2 : Pasal 156 KUHP

NB :

Rekomendasi Tokoh Tionghoa

 

lius-sung

 

Peserta longmarch #ciamis telah tiba di perbatasan Jakarta

at-tiin

High Cost Bila AHOK Terpilih

Terlalu riskan bila Ahok dipilih kembali. Ahok terlalu gaduh. Dia dihujani batu. Dukungan sejuta KTP ternyata fiktif dan tidak membuktikan apa pun. Survei-survei sarat rekayasa. Manipulatif. Bila para taipan dan pencari nasi bungkus memaksakan diri, Jakarta bisa dilanda instabilitas di berbagai sektor. Paling cocok, Ahok diposisikan sebagai Kepala PU atau penjaga kebersihan kota.
Resistensi warga sulit padam. Arogansi dan kasar rupanya adalah karakter Ahok. Inherent dan ingrained dalam struktur genetiknya. Belum pernah ada seorang gubernur, kecuali Ahok, yang punya musuh satu republik.
Setiap hari ada saja yang diserang Ahok. Ya politisi, parpol sebesar PDI-P diultimatum, warga miskin dicaci-maki. Historian dikatain goblok. TNI dibuat tersinggung di masalah sampah Bantar Gebang. Pengusaha hotel dipermalukan di depan publik. Ahok diam saja sewaktu mantan bosnya, Bang Yos dibully Ahoker. Lembaga negara dicemooh dengan istilah ngaco. Ahok terlalu sering mengabaikan aturan; serapan anggaran rendah. Cuma Ahok yang sanggup usir wartawan dan membiarkan Ahmadiyah beribadah di Bukit Duri. Sampai penggusuran Pasar Ikan, LBH Jakarta merilis laporan Ahok menggusur 8.145 KK dan memberangus 6.283 unit usaha di 113 titik penggusuran.
Kesuksesan kerja Ahok hanya ada di dunia fantasi. Faktanya, Pertumbuhan Ekonomi turun 0,16%. Inflasi naik 0,95%. Gini Rasio meningkat 7,20%. Penduduk Miskin bertambah 3,72%. Akuntabilitas Kinerja Provinsi hanya 58,57 (hanya urutan 18 dari 34 Provinsi). Realisasi Pendapatan Daerah cuma 66,8% (urutan buncit dari semua provinsi). Penyerapan Anggaran hanya 59,32 % (terburuk se-Indonesia). Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM): hanya 0,31 (nomor 1 dari bawah dari 34 provinsi se-Indonesia).
Hebatnya, Ahok bisa lolos dari berbagai skandal korupsi; Pengadaan Bus Trans Jakarta, Pengadaan UPS, Pembelian Tanah Sumber Waras, Tukar Guling Lahan Taman BMW, Sindikasi Reklamasi Pulau dan pembelian lahan Cengkareng Barat.
Kedatangan Ahok ditolak di berbagai tempat; Koja, Kalideres, Kapuk Muara dan Penjaringan. Ketua RT/RW se-Jakarta menyatakan “Bukan Teman Ahok”. Saya sulit membayangkan efektifitas kerja seorang kepala daerah bila kedatangannya ditolak warga. Bahkan untuk acara sederhana seperti peresmian taman, Ahok harus lari tunggang langgang. Polres mesti kerahkan 500 personil, belum lagi pengerahan prajurit TNI dan Satpol PP. Plus bonus korban timpukan batu dan dua pelajar PSKD ditangkap. Ahok sungguh high cost.
Economically, Ahok juga high cost. Relawan Andreas bilang Podomoro alirkan dana 30 milyar kepada Teman Ahok untuk ngepul sejuta KTP. Belum lagi donasi teri dari ‘warga kena tipu’ yang sumbang jam dinding, printer, cetak kaos, ball poin dan sebagainya. Teman Ahok bikin booth di banyak mall. Saya kira itu ada biayanya. Pasti ada budget bayar tim Cyrus Network, beli slot acara di MetroTV, bayar media, bayar upah buzzer dan pembully. At the end, Ahok memilih jalur partai politik. Jadi, seluruh “perjuangan” relawan-bayaran dan donatur menguap begitu saja.
Politically, Ahok ngga kalah high-costly. Dia hendak mendelegitimasi partai politik. Tanpa partai politik, tidak ada demokrasi. Semua politisi, kecuali Ahok dan teman-temannya, adalah politisi busuk, pencari panggung dan koruptor. Pengumpulan KTP dan booth-booth (yang kerap dicaci maki pengunjung mall) merupakan bentuk dari kampanye terselubung dan “ilegal”. In another parlance, Ahok mencuri start.
Manuver “kutu loncat” Ahok bukan ciri pejuang politik. Di situ, Ahok jadi figur tanpa loyalitas. Statemen blak-blakan seperti “Tuhan aja gua lawan” cuma bikin Ahok tampak gak mutu. Dia tegas bilang ibunya pun bakal dia usir kalo bikin susah. Bahkan Malin Kundang tidak berpikir mengusir mamanya sendiri.
Socially, Ahok menjadi akar ketegangan rasial dan primordialisme. Sentimen anti Tionghoa naik. Ahok memicu over-confident golongan minoritas (etnis dan agama) untuk ngebully dan mencaci maki opponent. Berbeda dengan kader partai, Ahoker bersifat liar tak terkendali. Tak seperti kader partai, para free men/buzzer Ahoker ini tidak pernah mengikuti rangkaian LDK, kurpol atau diklat terstruktur dan sistematis. Gerakan dan opini mereka sepenuhnya didasari sentimen like & dislike.
Seluruh faktor di atas menjadikan Ahok berpotensi menciptakan konflik horisontal dan vertikal. Kondisi semacam ini sangat tidak kondusif bagi bisnis. Secara praktis, Ahok bikin Jakarta lebih macet dan rentan banjir. Kegiatan ekonomi mikro jadi terganggu. Produktifitas salesmen menurun. Entah berapa banyak agenda meeting harus direscheduling akibat pembangunan enam jalan tol dan betonisasi bantaran sungai. Para taipan hendaknya berpikir ulang untuk membacking Ahok. He’s too costly.

zeng-wj
*Zeng Wei Jian adalah aktivis Tionghoa yang kritis dan komit menyuarakan ketidakadilan dan penindasan (*mc)

SOURCE

Karugian Jalma Kufur

Kumaha pandangan Islam ngenaan kahadean jalma kufur garis miring kafir? Langsung kuring nukil dawuhan Allah Ta’ala ngeunaan eta :
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Jeung jalma-jalma kafir, amal-amal maranehna nyaeta lir ibarat fatamorgana di taneuh anu datar, anu disangka cai ku jalma-jalma anu dahaga, tapi mun didatangan cai eta henteu manggihan nanaon. Sarta dimeunangkeun na katetapan Allah di sisina, tuluy Allah mere ka manehna itungan amal-amal kalawan cukup jeung Alah nyaeta gancang pisan itungan-Na” (QS. An Nuur : 39).

Sabenerna Allah Ta’ala geus ngabebaskeun manusa pikeun milih agama anu di anut na di dunya ieu sabage jalan hirup anu maranehna tuju. Sabab manusa geus Allah Ta’ala bere karunia potensi fitrah pikeun nuju agama anu lurus yakni Islam sakumaha anu ditegeskan dina surat Ar Ruum ayat 30 :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Mangka hadeupkeun wajah anjeun kalawan lempeng ka agama Allah; (tetap tina) fitrah Allah anu geus nyiptakeun manusa nurutkeun fitrah eta. Henteu aya parobahan tina fitrah Allah. (Eta) agama anu lempeng, tatapi loloba na manusa henteu mikanyaho” (QS. Ar Ruum : 30).

Disagigireun boga kamampuan mikir anu bisa manehna gunakeun pikeun nimbang-nimbang agama anu lurus jeung mana anu bengkok. Kusabab eta mangsa nyatakeun yen jalma non muslim henteu dipaksa asup Islam, sakumaha Allah Ta’ala tegeskeun : “Henteu aya paksaan pikeun asup ka agama Islam, saestuna geus jelas jalan anu bener jeung jalan anu sesat..” (QS. Al Baqarah : 256).

Allah Ta’ala oge nitahkeun Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pikeun ngabewarakeun anu teges ka jalma-jalma anu nolak risalah Islam : “Jeung omongkeun, Kabeneran eta datang na ti Rabb maneh, mangka sing saha anu hayang (ariman) hendaklah maneh na ariman, jeung sing saha anu hayang (kafir) keun bae manehna kafir.” (QS. Al Kahfi : 29).

Dumasar hal eta ti dieu kara aya predikat atau stempel mukmin jeung kafir. Saha bae anu narima risalah Islam sapinuh hate, ucapan, jeung paripolah, manehna anu boga hak disebut mukmin. Sedengkeun anu nolak risalah Islam sabage jalan hirup na, manehna pantes disebut kufar alias kafir. Allah Ta’ala ngabebaskeun manusa pikeun milih predikat jeung stempel eta tanpa paksaan. Namung Allah Ta’ala mere mangrupa beja penting pikeun manusa nyaeta yen sakabeh pagawean “kahadean” anu dilakukeun ku saurang kafir eta henteu aya nilai atawa buahna disagigireun Allah, ngan fatamorgana!

Surat An Nuur ayat 39 asbabunuzul na ngeunaan jalma anu ngaran na ‘Utbah bin Rabi’ah bin Umayyah dimangsa jahiliyah ngalakukeun meditasi atawa ngaleunyeup jeung make pakean jubah pandeta Nashrani rek nyiar agama (Nashrani) anu dianggap agama anu salamet. Ngan hanjakal,  ti mangsa Islam manehna kufur kalayan paeh dina barisan kaum musyrikin Quraisy dina perang Badar. Amalan jalma kafir saperti eta, ceuk Allah lir ibarat fatamorgana anu lumangsung akibat keusik anu panas jeung gersang eta katempo jiga kobakan cai. Jalma anu haus oge bakal gumbira nempo na jeung gancang ngadeukeutan na. Tapi manehna teu bakal manggihan nanaon kusabab cai eta  ngan sakadar fatamorgana.

Tah perumpamaan eta kacida cocok pikeun jalma-jalma anu henteu boga iman ka Islam jeung henteu migawe kalawan amal anu dilegalkeun ku Islam. Manehna henteu ngajadikeun Islam sabage pandangan hirup na. Malahan manehna nganggap Islam ku sabeulah panon. Ngece. Anu nganggap manehna nyangka yen amal-amal anu manehna sangka hade eta bakal mere manfaat di sagigireun Allah Ta’ala jeung bisa nyalametkeun diri na ti azab Allah Ta’ala. Padahal ceuk Allah “Jeung Kuring sanghareupan sagala amal-amal anu maranehna pigawe, tuluy Kuring jadikeun amal eta ibarat lebu anu katiup angin” (QS. Al Furqaan : 23).

Dina kitab tafsir na Az Zamakhsyari (Al Kasysyaf juz III 237) menehna nerangkeun yen di poe kiamat engke maranehna moal manggihan ilusina eta, malahan sabalikna manehna ibarat jalma kahausan manggihan fatamorgana anu manena sangka cai. Sanggeus manehna ngadeukeutan, lain cai anu manehna panggihan, malah malaikat Zabaniyyah anu gancang nyeret manehna ka jero naraka jahanam sarta mere nginum ku cari hamiim nyaeta cai anu pang panas na! Maranehna jalma-jalma anu Allah sebut sabage jalma anu hese cape tur kapayahan namung henteu manggihan kadaharan jeung inuman kacuali cucuk jeung cai anu pang panas na. Eta itungan Allah Ta’ala anu pasti maranehna manggih jeung ngarasakeun. Komo deui Allah Ta’ala Maha gancang itungan-Na!.

Sanajan lalampahan maranehna anu alus tur hade sarta mulia di dunya saperti jadi pamimpin anu jujur, bener, adil jeung lain-lain tapi bakal ngajadi sia-sia jeung henteu boga nilai nanaon dihareupeun Allah Ta’ala kulantaran kakufuran maranehna.

Kacida rugina maranehna, gawe cape teu kapake lantaran ngajugjug jalan anu bengkok anu nyangka geus ngajugjug jalan anu lempeng. Allah Ta’ala ngadawuh :
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Nyaeta jalma-jalma anu geus sia-sia pagawean na dina kahirupan dunya ieu, sedengkeun maranehna nyangka yen maranehna geus migawe sahade-hadena” (QS. Al Kahfi : 104).

Wallahu’alam
__._,_.___

224-fatamorgana-in-desert

copy from : Risap Saprudin sapbayah@gmail.com [urangsunda] <urangsunda@yahoogroups.com>
Nov 8,2016

Bukan tulisan latah; tp ikut tabayyun..
===========
Republika OnLine/Amin Madani
Terjemahan Menurut Tafsir Jalalain Alquran Surat Al Maidah ayat 51:
﴾ ۞ يٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظّٰلِمِينَ
(51). (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin) menjadi ikutanmu dan kamu cintai. (Sebagian mereka menjadi pemimpin bagi sebagian lainnya) karena kesatuan mereka dalam kekafiran. (Siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka dia termasuk di antara mereka) artinya termasuk golongan mereka. (Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang aniaya) karena mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka. (Al Maidah 5:51)
Terjemahan Surat Al Maidah Ayat 51 Menurut Departemen Agama:
Terjemahan Surat Al Maidah mengacu pada terjemahan Departenen Agama (Yayasan Penyelenggara Penerjemah Tafsir Al Quran yang ditunjuk menteri agama dengan surat Keputusan no.20 th.1967. Terjemahan ini populer di kalangan masyarakat. Bahkan terjemahan ini dipakai dalam cetakan ‘Al Qur’an dan Terjemahanya’ yang diterbitkan oleh Raja Kerajaan Arab Saudi (Mujammma ‘ Al Malik Fahd Li Thiba At Al Mush-haf Asy-Syarif Madinah Al Munawwarah Po.O Box 6262 Kerajaan Arab Saudi). Terjemahan ini juga dibagikan secara cuma-cuma kepada Muslim Indonesia.
(51). Hai orang-orang beriman, janganalah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin yang bagi sebagian mereka yang lan. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
‘Usaha’ terjemahan dilakukan dalam masa selama 8 tahun. Para anggota ‘Dewan Penerjemah’ terdiri delapan orang, yakni Prof TM Hasbi Ashshiddiqi, Prof H Bustaman A Gani, Prof H Muchtar Jahya, Prof H M Toha Jahjya Omar, DR H A Mukti Ali, Drs Kamal Muchtar, H Gazali Thaib, KH A Musaddad, KH Ali Maksum, Drs Busjairi Madjid.
Terjemahan Al Maidah 51 menurut ’The Noble Qur’an.
“O You who believe! take not the Jews and Christians as Auliya’  (friends. protector, helpers), they are but Auliya’, then surely he is one of them. Verily, Allah Guides not those people who ara the Zalimin (polytheist and wrong-doers and njust).”
(The Noble Quran, English Translation of the meaning and comentary) terbitan Kerajaan Arab Saudi: King Fahd Complex, For The Printing of The Holy Quran PO Box No 262, Madinah Munawarrah, K.S.A, 1426 H.
Terjemahan Al Maidah 51 menurut ‘The Glorius Koran.
“O ye who belive! Take not the Jews and Crhristians for friends. The are friends one for another. He among you who taketh them for friends is (one) of them. Lo! Allah guideth not wrongdoing folk.”
The Meaning of The Glorius Koran: Explantory Translation by Mohammed Marmaduke Pickthal). Terjemahan ini dipublikasikan oleh The New Amercia Library, pada awal abad 20-an. Terjemahan ini saat itu populer di Hindia Belanda. Para generasi terpelajar saat itu –yang tidak memahami bahasa Arab– memakai terjemahan ini sebagai acuan. Salah satunya adalah Sukarno yang kerap membaca dan mengacu Alquran versi terjemahan ini.
Terjemahan Al Maidah 51 menurut Tafsir Ibnu Katsir.
Dalam ringkasan tasfir Ibnu Katsir, ‘Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir’, jilid 2, Penerbit Darus Sunnah, Jakarta, tahun 2012, surat Al Maidah ayat 51 diterjemahkan seperti ini:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kami menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia (mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang zhalim.
===
Membedah Sisi Linguistik Pernyataan Ahok “Dibohongin Pakai Surat Al Maidah 51”
Oleh : Brili Agung (Ahli Tata Bahasa)
Sebenarnya saya sudah malas untuk membahas hal ini. Namun nurani saya terusik saat pembela Pak Basuki berdalih tidak ada yang salah dengan kalimat Pak Basuki. Salah satu yang membuat saya heran adalah pernyataan Pak Nusron Wahid yang notabenya adalah tokoh NU.
Baik, dalam tulisan ini saya tidak akan berpolemik masalah agamanya (jelas saya bukan ahlinya). Tulisan ini akan lebih difokuskan untuk membedah sisi linguistik, sisi kaidah bahasa yang beliau gunakan.
Ini adalah potongan kalimat beliau :
*“Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam..”*
Sengaja saya fokuskan pada kalimat yang menimbulkan polemik ini. Saya sudah melihat keseluruhan video, dan memang masalahnya ada pada frasa ini.
*Terjemahan versi sebagian besar orang* : Pak Basuki menistakan surat Al Maidah. Al Maidah 51 dibilang bohong oleh Pak Basuki.
*Terjemahan versi pembela Pak Basuki* : Pak Basuki tidak menistakan Al Maidah 51. Dia menyoroti orang yang membawa surat Al Maidah 51 untuk berbohong.
Mari kita bedah dengan kepala dingin. Jika kita ubah kalimat di atas dengan struktur yang lengkap maka akan menjadi seperti ini :
“Anda dibohongin orang pakai surat Al Maidah 51” – Ini adalah kalimat pasif.
Anda : Objek
Dibohongin : Predikat
Orang : Subjek
Pakai surat Al Maidah 51 : Keterangan Alat
Dengan struktur kalimat seperti ini, jelas yang disasar dalam kalimat Pak Basuki adalah SUBYEK nya. Yaitu “orang ” . Dalam hal ini orang yang menggunakan surat Al Maidah 51.
Karena Surat Al Maidah 51 di sini hanya sebagai keterangan alat yang sifatnya NETRAL. Saya analogikan dengan struktur kalimat yang sama seperti ini :
“Anda dipukul orang pakai penggaris.”
Struktur kalimat di atas sama, yaitu : OPSK . Jenis kalimat pasif. Subyek ada pada orang. Sedangkan penggaris merupakan keterangan alat yang bersifat netral.
Di sini menariknya.
Penggaris memang bersifat netral. Bisa dipakai menggaris, memukul dan yang lainnya tergantung predikatnya. Yang menentukan apakah si penggaris ini fungsinya menjadi positif atau negatif adalah predikatnya.
Nah masalahnya adalah apakah Surat Al Maidah 51 bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bohong/bo•hong/ berarti tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta:
Dan inilah arti dari surat Al Maidah 51 tersebut : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Makna dari surat Al Maidah 51 tersebut sudah sangat jelas. Bukan kalimat bersayap yang bisa dimultitafsirkan. Tanpa dibacakan oleh orang lain, seseorang yang membaca langsung Surat Al Maidah 51 pun mampu memahami artinya.
*Kesimpulan saya, dengan makna sejelas ini surat Al Maidah 51 TIDAK BISA DIJADIKAN ALAT UNTUK BERBOHONG. Jadi ketika Pak Basuki berkata dengan kalimat seperti itu, sudah pasti dia menyakiti umat islam karena menempatkan Al Maidah 51 sebagai “keterangan alat” yang didahului oleh predikat bohong. Menempelkan sesuatu yang suci dengan sebuah kata negatif, itulah kesalahannya.*
Sebuah logika yang sama dengan kasus seperti ini :
Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya : “Jangan makan babi, Allah mengharamkannya dalam Surat Al Maidah ayat 3”.
Pedagang babi lalu komplain. “Anda jangan mau dibohongi Ustadz pake Surat Al Maidah Ayat 3″.
atau Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya, ” Al Quran mengharamkan khamr dan judi dalam Surat Al Maidah ayat 90″.
Bandar judi dan produsen vodka pun protes, “Anda jangan mau dibohongi Ustadz pakai Surat Al Maidah Ayat 90. ”
Jika Anda sudah membaca arti Surat Al Maidah Ayat 3 dan 90 , mana yang akan Anda percaya? Ustadz yang memberitahu Anda atau Pedagang Babi, Khamr, dan Bandar Judinya ?
Itu pilihan Anda. Namun sebagai orang yang mengaku muslim, jika Al Qur’an dan As Sunnah tidak menjadi pegangan utama kita, apakah kita masih layak menyebut diri kita muslim?

Setelah air itu surut

draft

ucscreenshot20161029062824

hh

ucscreenshot20161029064049

Posko Banjir Garut

-Untuk posko utama di Makodim, dapur umum, pos kesehatan, dan pengungsian di aula Makorem.
-Daerah terparah adalah Kp. Cimacan Ds. Haurpanggung Kec. Tarogong Kidul
-Lokasi evakuasi korban banjir dan penanganan yang luka dan meninggal sbb :

1. RS Guntur Garut

2. Aula makorem 062/Tn

3. Madrasah Asyfa Kp.Kaum lebak Kel. Paminggir Kec.Grt kota

4. Makodim 0611/Grt

5. Kantor Kelurahan Paminggir

-Posko Siaga Bantuan Bencana yg dibentuk sbb:

1. Posko Bencana BPBD Kab.Garut

2. Posko Bencana Makodim 0611/Garut

3. Posko Pengungsi Makorem 062/TN

4. Posko Aju Polsek Tarkid

5. Posko Aju Cimacan–https://www.facebook.com/notes/a