“ Apabila belum bertemu orang nya maka yang aku paling kusukai adalah yang paling baik namanya,,

Apabila telah bertemu dengan nya, maka yang aku paling kusukai adalah yang paling baik raut wajahnya,,

Apabila telah bicara dengan nya, maka yang aku paling kusukai adalah yang paling baik tutur katanya,,

Apabila telah berkenalan dengan nya, maka yang aku paling kusukai adalah yang paling baik budi pekertinya “

( Nasehat Ulama )

Dadan Ahmad Zaeni Dahlan,

entah perasaan apa yang membuatku ingin sekali bertemu dengannya , padahal kami belum pernah saling -kenal sama sekali … keinginan ku sekedar bermula  ketika mencari referensi biografi tetang Almarhmum guruku ” Al Mukarrom; KH Amin Bunyamin LC, Pimpinan  PONPES Cipari- wanaraja, Kabupaten Garut, yang berpulang  2 April silam. Saat kutelusuri di Internet, ..  bertemulah aku dengan tulisan beliau . Sunguh saya  sangat berterimakasih, karena dari semua murid  Al Mukarrom, hanya beliau yang menulis biografi tersebut di Internet, padahal belum pernah tinggal di Pondok Cipari sama sekali.  … http://hamzanmusthofa.wordpress.com/2012/04/08/in-memorian-kh-amin-bunyamin-lc/ …Rasa terima kasihku lah yang mendorongku untuk menemuinya dengan segera.

“ Pucuk dicinta, Ulam tiba “

September 2012, Alhamdulillah aku mendengar kabar dari temannya di fb bahwa ia sedang mudik dari Al Azhar untuk 3 bulan … sungguh kiranya Yang Maha Rahman meridhoiku keiginanku.

Ba’da Shubuh aku berangkat dari Karangpawitan dengan Motor Honda Legenda edisi 2005 . Meski telah ‘berumur’, benda ini cukup ‘bandel’ untuk diajak bepergian  jauh.  Namun tak dinyana.. medan yang ditempuh benar-benar berat; mendaki dan terjal

“ Mapay jalan satapak , Ngajugjug ka hiji lembur
Henteu karasa capena, da  puguh naek Ojeg …
.. urang Gunung geuning si eta, teh ! 😀 “

Namu tekad sudah bulat, akan kutamatkan meskipun berapa jauh jaraknya .. yang kukhawirkan cuma satu ; Andai motor ‘kepala tiga’  ini mogok ditengah jalan, mesti gimana ? masa seperti cerita  ‘Anak, Bapak, & Keledainya’ ?!  mesti kupanggul tu Motor ?!  .. laa haula wala quwwata illaa billaah …

Akhirnya sampai pula di puncak; kampung Tambakbaya, Desa Dano Kecamatan Leles Kabupaten . Rasa penat hilang saat disughi pemandangan luar biasa indah, Mesjid yang cantik, Bukit-bukit yang menghijau, Tanaman padi dan tanaman-tanaman khas dataran tinggi  ,serta air  yang masih mengalir jernih . Kontras dengan daerahku, dataran rendah yang mulai kekeringan.  Serasa ada di Taman Gantung Babylonia – Irak di jaman dulu .. J

Sehabis sholat Dhuha di mesji d ( 06.30) aku melanjutkan perjalanan ke rumah yang dituju.

Lingkungan Pesantern, Mesjid, Madrasah Tsanawiyyah & Aliyah ( SMP – SMA ) disatu komplek, ( rumah beliau didepan mesjid) , sebuah tempat yang cocok bagi seorang yang diproyeksikan menjadi SUKSESOR  yang sedang menempuh pendidikan diluar negeri untuk mengapliksikan ilmunya nanti.

Sebaik-baik orang di antara kamu ialah seseorang yang apabila orang lain memandang wajahnya, maka ia ingat kepada Allah, jika mendengar ucapannya maka bertambah ilmunya, dan jika melihat amal perbuatannya maka tertariklah pada akhirat’. [Al Hadits  ]

Entah apa saja yang terucap selama bersua dengannya, namun saya sangat gembira telah bertemu seorang yang kukagumi ini meski usianya lebih muda dariku.

Afwan ustadz, kuntu ghoeru muaddab ! “

– Perbincangan diantara kami, insya Alloh akan diceritakan di lain waktu.

……

Ibunda Kang Dadan

Sempat bingung ketika ditanya beliau “ Teman waktu dimana ? “

“ Di .. blog bu ,, dst  “

Kuucapkan seadanya, dan beliau hanya tersenyum  dan kembali ke ruangan tengah . Sebagaimana umumnya para Ibu di semua kampung, penampilannya ramah dan bersahaja , meski tidak mengerti tentang apa dunia diantara kami.

Tetapi, ( mengutip perkataan Ust. Fauzhil Azhim ), Marilah kita  kita kembali pada  pertanyaan, perlukah kita mengetahui IQ anak? ? Pentingkah orang tua mengetahui bakat anak ?

Sedih rasanya ketika saya katakan bahwa pengetahuan tentang bakat anak hampir tidak ada manfaatnya. Kita akan terhenyak bahwa pemahaman tentang bakat

tak banyak berperan mengantarkan anak menjadi manusia-manusia brilian.Sebaliknya, kita mendapati betapa banyak orang-orang sukses lahir dari ibu-ibu lugu. Carl F. Gaus yg berjuluk  ‘ The Princess of mathematic ” lahir dari Orangtua tak berpendidikan,, bahan ibunya buta huruf. Begitu pula sejumlah jenius lain.

Apakah sosok cerdas Imam Syafii RA lahir dari Ibu yang mendalami bakat anak ? Tes bakat bahkkan belum ada saat itu.

Apakah pula muridnya, Imam Ahmad RA lahir dari ibu yang telah belajar tentang teknik mengingat instant ? Tidak,tetapi mereka  punya ketulusan , penerimaan tanpa syarat, cita-cita besar , dan kesedian utuk bersusah payah mendampingi anaknya.

( Ibu ku sendiri , hanya tamatan SD dan kini berusia 57 tahun. Namun, subhanalloh, dengan ketegarannya membesarkan kami,  7 dari 12 anak nya menyandang gelar Sarjana & D3.. sisanya pengusaha sukses ( ^_^ ).  Bahkan mata beliau masih awas untuk membaca AlQur’an, dan masih kuat pergi ke ladang yang berjarak setengah kilo dari rumah )

mereka tak henti memberikan usapan sayang dan sentuhan penuh perhatian pada buah hatinya. Mereka tak putus-putus mendoakan anaknya. Yang mereka  bangun bukan kepercayaan diri anak (atas bakatnya ) , tetapi keyakinan  yang kuat kepada Allah Swt semenjak hari-hari awal kehidupan anak.

 Ayahanda Kang Dadan

Simple, tapi  lugas. Begitu citra pertama ku saat bertemu beliau..dan mungkin didorong niatku untuk menyambung SILSILAH.. Istilah ke-ulamaan-yang didasari hadits” Al Ilmu bisanadih :” ilmu itu harus ada sanadnya.. begitu pula diriku, kepergian almarhum guruku; KH Amin, tak ingin membuatku kehilangan tali spritualisme dengan cara bersilaturahmi murid-murid (seniorku) beliau satu persatu.

Benar saja, kami langsung akrab … dimana beliau langsung mengucapkan beberapa pesan Al Mukarrom yang menjadi pegangan hidupnya:

” Najan kuliah ari cadu maca mah, anger we belet !.. walau pun kuliah klo malas baca , tetap aja tolol .. orang-orang ternama rata-rata  membaca 6 jam dalam sehari.

Dan satu lagi :

” Tong leutik hate najan maneh rek buka pondok di luhur gunung. Da nu ngaranna emas mah najan aya dina leutak  maol jatuh harga “… jangan berkecil hati meski ingin membuka tempat pendidikan di daerah gunung ( terpencil ) karena yang  Emas itu tak akan jatuh harganya meski berada di kubangan lumpur “

Kedua nasehat itu begitu melekat pada dirinya, hingga beliau mampu membuka dan mengelola pesantren hingga sat ini . Terakhir beliau berpesan padaku, dan khususnya kami anak muda :

” Mungkin salah satu hikmah kenapa risalah Nabi terakhir ditujukan bagi seluruh penduduk dunia adalah karena ternyata di akhir jaman lahir teknologi yang membuat dunia menjadi satu kesatuan; INTERNET. Dan tugas kami generasi mudalah  untuk mengantisipasinya dengan baik .”

Masih panjang perbincangan yang ingin saya tulis , namun untuk saat in dicukupkan sekian, moga ada umur kehadapan,, Insyaa Alloh.

…….

Syahdan, saya pun pamit dari Kp, Dano dengan beribu rasa haru dan harapan .. moga pertemuan kami ada dalam naungan dan ridho-Nya, amiin.

Leles_Garut; 14 September 2012

//

//

//

//

//

Iklan