Re-post Linda & Soleh.weddingwire.com

“Akhwat itu sabar saja menanti biar ikhwan yang mencari”

Mungkin kalimat diatas sering kita dengar ketika sedang membicarakan tentang jodoh. Bahwasanya seorang akhwat itu menanti datangnya seorang ikhwan untuk menikahinya. Maka memang kata ‘penantian’ ditujukan bagi akhwat bukan ikhwan. Lantas bagaimanakah sikap seorang akhwat dalam masa penantian itu?

Dalam buku ini akan banyak disajikan bagaimana ikhtiar penantian para akhwat, apa saja yang dilakukan para akhwat dalam masa penantian, tentu saja melalui cerita-cerita yang tertuangkan didalamnya. Ada beberapa cerita tentang bagaimana seseorang bertemu dengan jodohnya bahkan disaat usia hampir kepala lima. Bagaimana bisa seorang perempuan melewati masa-masa sulit penantiannya yang panjang itu?

Ada juga akhwat yang berikhtiar menjemput jodohnya dengan mengajukan diri pada seorang ikhwan, tentunya dengan tetap menjaga izzah dan iffahnya. Hal yang mungkin masih sangat tabu di kalangan umum saat ini. Namun, hal itu pernah dicontohkan oleh Bunda Khadijah di jamannya dulu. Tentu saja, tak lupa pula, para pembaca bisa mendapatkan cerita ikhtiar penantian dari penulis sendiri di bagian akhir dari buku ini. ^_^

Buku ini bukan hanya bacaan para akhwat namun juga para ikhwan yang sering menunda-nunda menikah agar bisa mengetahui lebih dalam bagaimana perasaan dan perjuangan para akhwat dalam menanti sang pangeran berkuda putihnya. Semoga bisa membuka mata hati para ikhwan untuk bersegera menjemput sang bidadari.. ^_^

Oya, karena banyak yang penasaran dengan akhir cerita dari cerpen based on true story ‘Ketika Akhwat Mengajukan Diri’ yang dipublish di dakwatuna.com pada tahun 2011 lalu, maka para pembaca setia dakwatuna.com bisa membaca ending ceritanya dalam buku ini. Selain ada ending cerita dari Ka Mia yang mengajukan diri, ada juga ending cerita dari Dhira.. Hehe.. So, tepat sekali bagi yang penasaran untuk segera memesan buku ini ke 085695154068..

Insya Allah, buku ‘Ikhtiar Penantian’ ini akan dilaunching pada Ahad, 30 September 2012, bertepatan dengan akad nikah dan walimatul’urus kami. Bagi tamu undangan yang ingin segera mendapatkan buku ini di hari bahagia kami, silakan pesan ke 085695154068, insya Allah akan kami siapkan di hari H nanti..

Insya Allah, 100% seluruh royalty dari penjualan buku ini akan masuk ke rekening LSM Ummi Maktum Voice (http://umv.or.id/) untuk wakaf al-qur’an braille. So, niatkan sebagai sedekah ya ketika membeli buku ini.. Semoga memperlancar proses penjemputan jodoh bagi yang belum menemukannya.. ^_^

Salam hangat

LhinBlue-Soleh

——————-

Our Story (Linda)

Rabu, 13 Juni 2012 / 23 Rajab 1433 H

13.15: Asswrwb. lin apa kabar? btw mau nanya skrg lg proses dgn ikhwan? klo boleh mba coba mau proses linda sama temen mba. bolehkah? coba bicarakan sama MR ya. Boleh minta nomor MRmu? Afw..

Terkejut! Tawaran itu datang dari Mba Dessy selaku Manajer Marketing dan Komunikasi Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa. Masyarakat Mandiri, salah satu jejaring Dompet Dhuafa yang mengadakan kerjasama di bidang ekonomi dengan Yayasan Pesona Mitra, yayasan tempatku beraktivitas.

Aku mengutarakan hal itu pada sang murobbiyah (MR) dan memberikan nomor MRku pada Mba Dessy dengan seijin sang MR tentunya. Entah bagaimana pada akhirnya komunikasi antara Mba Dessy dan sang MR, sampai akhirnya aku mendapatkan kabar dari sang MR.

Jum’at, 22 Juni 2012 / 2 Sya’ban 1433 H

09.39: terkait proses linda, insyaAllah kakak mau follow up. Dr ikhwannya sdh ok, insyaAllah. CV ikhwannya akn kk kirim via email

Mules! Efek pertama ketika mendapatkan kabar, saat di PMI Kramat hendak donor darah. Penasaran, dagdigdug, siapakah ikhwan yang dimaksud? Hingga akhirnya, begitu sampai rumah, setelah menenangkan diri dengan 4 rakaat dhuha, tilawah beberapa lembar, dan dzikir sebanyak-banyaknya, tepat adzan Jum’atan, dibukalah email dari sang MR dan tertera subject: proposal pernikahan M. Solehudin. Hah? Ternyata ikhwan itu.. Sudah kuduga..

Proposal pernikahan 9 halaman itu pun kubaca dengan seksama; bagaimana visi misi pernikahannya, bagaimana latar belakang diri dan keluarganya sampai kriteria calon istri yang diharapkannya. Hari itu juga, kubacakan dan kuperlihatkan pula pada mami, papi, abang-abangku. Banyak komentar yang terlontar dan balik melempar pertanyaan tentang kesiapanku. Musyawarah dengan keluarga tak cukup satu hari namun berhari-hari, aku terus meminta pendapat semua anggota keluarga (maklum si bungsu). Hingga akhirnya, setelah memberikan gambaran kedepannya, masukan dan saran, keluargaku menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku dengan dalih; “kamu yang akan menjalani kedepannya.. kalo kamu udah mantabh, yaudah kita dukung..”

Setelah musyawarah dengan keluarga, saatnya memantapkan hati dengan istikharah. Hanya tak mau gegabah dalam memilih pilihan seumur hidup ini. Berharap pilihan ini adalah pilihan terbaikNYA pula. Hingga akhirnya..

Selasa, 3 Juli 2012 / 13 Sya’ban 1433 H

05.30: Asslm.ka, Alhamdulillah, setelah musyawarah dgn keluarga dan istikharah jg, Insya Allah keputusanku mantabh utk melanjutkan proses ini.. Ditunggu kbr slanjutnya y ka.. 🙂

Sabtu, 14 Juli 2012 / 24 Sya’ban 1433 H

Kali ini pertemuan itu tidak biasa. Biasanya kami bertemu dalam rangka acara dari Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa. Tapi, hari ini kami dipertemukan dalam rangka sebuah tujuan mulia untuk sepanjang usia: pernikahan.

Sang ikhwan datang dengan ditemani murobbinya. Pertemuan ta’aruf dirumah murobbiyahku dalam rangka saling mengenal lebih jauh selama 60-90 menit pun tak terasa. Tanya jawab pun berlangsung tiktok, mulai dari diskusi hal yang belum jelas dari cv/proposal masing-masing, karakter, sampai rencana kedepan untuk sebuah rumah tangga. Semua hal yang perlu ditanyakan, harus ditanyakan dalam forum ta’aruf, pun begitu jawabannya harus jujur, tak perlu ada yang ditutup-tutupi. Inilah yang membantah pendapat bahwasanya ta’aruf itu ibarat membeli kucing dalam karung. Justru ta’aruf itu mengeluarkan kucing dalam karung sebelum dibeli.

Hingga akhirnya, sang Murobbi menanyakan keputusan masing-masing.

“Orangtua saya sudah menyerahkan pilihan ke saya dan saya sudah menentukan dan memilih..”, itu jawaban sang ikhwan ketika ditanya mengenai keputusannya. Dan jawabanku? Meminta waktu untuk istikharah lagi. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus..

Senin, 16 Juli 2012 / 26 Sya’ban 1433 H

Kukirimkan beberapa pertanyaan tambahan terkait studi kasus tentang ketidakidealan dalam rumah tangga ke email sang Murobbiyah, untuk disampaikan pada sang ikhwan via sang Murobbi. Hanya ingin tahu pandangannya (yang belum sempat tergali ketika ta’aruf) tentang ketidakidealan sebuah biduk rumah tangga, untuk memantapkan pilihan yang sudah kupilih.

Walau kami sudah memiliki email masing-masing bahkan nomor hp masing-masing, dan sudah berteman di facebook pula, tapi belum diperbolehkan untuk komunikasi secara langsung terkait proses ini. Jadi, untuk hal-hal dalam proses ta’aruf ini, komunikasi harus melalui murobbi dan murobbiyah. Inilah yang menjaga proses menuju pernikahan yang suci untuk tetap bersih, dengan cara-cara yang disukai Allah tentunya. Ini pula yang membedakan ta’aruf dengan pacaran. Pacaran bukanlah masa penjajakan untuk sebuah pernikahan, hanya untuk kesenangan semu belaka. Sedangkan ta’aruf benar-benar masa penjajakan untuk sebuah pernikahan.

Dalam ta’aruf, tak ada jalan atau bertemu berdua, tak ada sms-an, telpon-telponan secara langsung. Semua harus melalui perantara, entah itu murobbi/murobbiyah ataupun keluarga, sebelum dikhitbah.

Jum’at, 20 Juli 2012 / 30 Sya’ban 1433 H

Jawaban dari pertanyaan tambahan pun sampai juga ke emailku. Tepat di penghujung Sya’ban menuju Ramadhan, Allah memantapkan pilihanku untuk melanjutkan proses ini.

Sabtu, 28 Juli 2012 / 8 Ramadhan 1433 H

Baru kali ini, pertama kalinya dan semoga untuk yang terakhir kali pula, aku mengijinkan seorang ikhwan untuk bersilaturahim kerumah dengan tujuan menikah. Sang ikhwan tak hanya sendiri, ia langsung mengajak sang ayah dan kakaknya. Dalam silaturahim ini, dua keluarga saling memperkenalkan diri, saling bercerita satu sama lain dan menyatakan maksud kedatangan, bahkan saling bernostalgia. Banyak kesamaan ternyata dalam dua keluarga ini, pikirku. Mulai dari pola asuh keluarga, cara berpikir, bahkan hobby Papi dan Bapak sama: badminton.

“bukan orang sembarangan karna dia langsung bawa bapaknya..”, itu kesan sang papi tentang kedatangan sang ikhwan beserta ayah dan kakaknya.

Ahad, 29 Juli 2012 / 9 Ramadhan 1433 H

Tepat sehari setelah kedatangan sang ikhwan dan keluarganya kerumah, aku mendapat kabar bahagia: aku dinyatakan LULUS SIMAK UI Beasiswa S2 Kepemimpinan Kerjasama Kemenpora-UI. Namun ditengah kebahagiaan itu, ada yang mengganjal di hati terkait proses ini (mau tahu lebih lanjut? Sila dibaca di buku ‘Ikhtiar Penantian’). Melalui MR aku menanyakan perihal itu pada sang ikhwan, sang ikhwan hanya bilang, untuk hal itu insya Allah akan dibicarakan ketika silaturahim keluargaku ke keluarganya di Bogor, sebagai balasan kunjungan silaturahim.

Ahad, 12 Agustus 2012 / 23 Ramadhan 1433 H

Hari ini, sebagai balasan silaturahim dua pekan lalu dari keluarga sang ikhwan, pihak keluargaku bersilaturahim ke Bogor. Empat keponakanku pun turut serta. Terheran-heran rasanya, begitu sampai dirumah orangtua sang ikhwan, para keponakan begitu riang bermain di teras bahkan sampai guling-gulingan. Pemandangan yang luar biasa bagiku, karena jarang-jarang melihat mereka sebahagia itu dirumah orang yang baru dikunjungi.

Awal pembicaraan dua keluarga terlihat kikuk karena bingung juga apa yang harus dibicarakan. Saat silaturahim pertama dirumahku sudah banyak cerita yang dilontarkan masing-masing keluarga, maka apalagi yang harus dibicarakan? Abangku kemudian berinisiatif memperkenalkan seluruh anggota keluarga kami pada Mamah dan anggota keluarga yang belum ikut di silaturahim pertama.

Hingga akhirnya sang ikhwan angkat bicara ditengah pembicaraan kikuk yang terjadi. Maklum, aku dan sang ikhwan tak saling berkoordinasi dan berkomunikasi terkait silaturahim ini, karena memang aku berpikir bahwa komunikasi langsung nanti saat setelah khitbah untuk mempersiapkan pernikahan. Alhamdulillah, pembicaraan pun menjadi terarah dan menghasilkan sebuah keputusan. Dari sini pula terlihat, dua keluarga sudah saling akrab satu sama lain. Dan di momen inipula terjawablah sudah apa yang mengganjal di hati. (apakah itu? Sila dibaca di buku ‘Ikhtiar Penantian’ ^_^)

“Lin, Mami jadi berasa banget Soleh itu kayak anak Mami sendiri padahal masih calon mantu..”, itulah perasaan yang terlontar dari Mami dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Ah, sampai sebegitunyakah penerimaan Mami terhadap calon menantunya itu?

Senin, 20 Agustus 2012 / 2 Syawal 1433 H

Seperti yang telah diceritakan tentang perasaan Mami terhadap calon menantunya itu, memang terbukti ketika komunikasi menjelang khitbah, lebih sering Mami dengan sang ikhwan yang bertelpon ria, setelah sebelumnya sang ikhwan meminta ijin untuk berkomunikasi langsung tanpa perantara Murobbi-Murobbiyah kami. Bahkan yang ada, Mami lebih sering menelpon calon menantunya itu dan meminta sang ikhwan untuk bersilaturahim lebaran kerumah sebelum khitbah. Maka, atas permintaan Mami, sang ikhwan yang di hari kedua Idul Fitri sedang milad yang ke-26 tahun pun memenuhi permintaan Mami untuk silaturahim lebaran kerumah.

Sang ikhwan datang bersama sang adik. Saat silaturahim lebaran ini, aku melihat begitu besar dan lapangnya penerimaan Mami dan Papi terhadap sang ikhwan, sudah begitu akrab dalam obrolan dan candaan, benar-benar seperti anak sendiri. Lebih-lebih dengan Mami, mungkin karena Mami orang Sunda dan biasa bahasa Sunda jadinya nyambung banget dengan calon menantunya ketika ngobrol dengan bahasa Sunda. Dan ini pula yang meyakinkanku bahwa insya Allah inilah pilihan yang tepat dan terbaik dariNYA. Semakin mantabh saja hati ini.

Sabtu, 25 Agustus 2012 / 7 Syawal 1433 H    

Tepat sepekan setelah Idul Fitri, hari yang dinantikan itupun tiba. Aku memang berencana mengetes mental sang ikhwan dengan meng-sms ‘sesuatu’ ketika sang ikhwan dan keluarganya dalam perjalanan menuju rumahku. Bagaimanakah bunyi smsnya? Sila dibaca di buku ‘Ikhtiar Penantian’ ^_^

Sms panjang itu yang aku sms dipenggal-penggal hanya dijawab: ‘insyaAllah’ oleh sang ikhwan dan tak sampai 5 menit kemudian ada telpon dari sang ikhwan, rupanya sang ikhwan dan keluarga sudah sampai di tempat parkiran mobil.

Acara khitbah pun dimulai ketika keluarga besarku sudah mulai banyak yang berdatangan. Dua keluarga membaur menjadi satu. Tak ada cincin yang dilingkarkan di jari manisku dalam acara khitbah ini, yang kata sebagian besar orang pada umumnya sebagai tanda pengikat. Karena memang dari awal ketika sang ikhwan menanyakan akan ada pemberian cincinkah ketika khitbah, Mami dan Papi sepakat untuk urusan pemberian cincin di akad saja nanti. Dan insya Allah setelah khitbah ini, 30 September 2012 dipilih sebagai hari akad nikah sekaligus walimatul ‘urus kami. Insya Allah.

“berasa kayak pernah ngeliat teh Linda sebelumnya, kayak udah kenaal aja, manis-manisnya kayak si Anu, padahal baru pertama kali ini ketemu”, ujar seorang Bibi sang ikhwan.

“kayak pernah kesini deh, kayak pernah ngerasain ada di acara ini, posisinya juga kayak gini..”, ujar seorang sepupu sang ikhwan.

Entahlah, apa ini yang dinamakan dejavu atau apa. Mungkin benar saja bahwasanya ruh-ruh itupun sudah saling mengenal. Ketika bertemu pertama kalipun seperti terasa sudah pernah mengenal sebelumnya.

Juli 2011 / Sya’ban 1432 H

Ditilik-tilik, rupanya pertemuan dan perkenalan itu bermula tepat setahun yang lalu di sebuah Masjid di wilayah binaan, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Dari Syaban menuju Syaban rupanya.

“Mba Linda,, ini Mas Soleh yang akan berkoordinasi untuk acara buka puasa berkah nanti..”, ujar Mas Ardian selaku Koordinator Program Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa yang menaungi kerjasama dengan Yayasan Pesona Mitra.

****

Jika pertemuan itu dimulai dari koordinasi Acara Buka Puasa Berkah 1432 H, kemudian dijaga prosesnya menuju pernikahan dengan begitu ketat dari sang Murobbi/ah dan penjagaan langsung olehNYA lewat Ramadhan 1433 H, semoga pernikahan kami pun penuh barakah.. aamiin..

######

Tahapan proses menuju pernikahan

Terima CV : 14 Juni 2012

Ta’aruf : 14 Juli 2012

Silaturahim 1 : 28 Juli 2012

Silaturahim 2 : 12 Agustus 2012

Khitbah : 25 Agustus 2012

Walimah : 30 September 2012

Ini ceritaku, semoga menginspirasi ya… ^_^

Bismilllah…

Mencoba merangkai potongan-potongan episode untuk sebuah sinetron kehidupan.

Masih teringat pertemuan kita di akhir bulan Agustus 2012 ini? Sebuah rangkaian kehidupan sejarah dimulai. Saat dimana kami sekeluarga silaturahim ke rumah mba L untuk mengkhitbah secara resmi.

Inilah awalnya..

Sebuah rencana keinginan untuk menyegerakan menikah, saya sampaikan kepada Ustadz yang membimbing saya. Sudah lama itu saya sampaikan, ternyata direspon cukup positif. Ustadz pun meminta saya untuk membuat sebuah CV berserta proposal nikah. Setelah sekian lama saya tidak memproses CV itu, saya bercerita kepada salah seorang teman halaqoh saya. Saya sampaikan jika saya memiliki ‘rasa’ kepada seorang akhwat, “Baiknya gimana ya akh?”. Kemudian jawab teman saya: “antum sampaikan ke Ustadz akh..” Ini jauh sebelum tanggal 5 Juni 2012.

Masih teringat jelas, saat itu malam menjelang dini hari. Setelah pertemuan dalam sebuah majelis yang sederhana, yang biasa kami sebut Halaqoh Pekanan. Masih teringat jelas, ketika kami semua akan pulang ke rumah masing-masing. Ketika kami sudah menunggangi motor kami masing-masing, terlontar sebuah pertanyaan ‘tantangan’ dari Ustadz saya “akh ndin, jadi nikah teh?”. Dengan memberanikan diri, saya pun menyampaikan sesuatu yang terpendam selama ini di dalam hati: “afwan Ustadz, ana ada rasa ama seorang akhwat”. Kemudian Ustadz pun menjawab “antum cari CV nya, ana proses antum”. Malam itu pun langsung berubah menjadi indah, kawan. (Bogor, 5 Juni 2012)

Setelah mendapat restu dari Ustadz, saya pun bergegas mencari CV akhwat tersebut. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh saya sendiri. Akhirnya saya meminta seseorang yang saya percaya untuk mencari CV terkait akhwat tersebut.

Pagi itu pukul 06.00 WIB saya janjian di sebuah stasiun kereta api di Bogor dengan atasan kerja saya untuk pergi ke Jakarta. Ada sebuah acara yang diadakan oleh sebuah NGO luar negeri bertempat di wilayah Senayan City. Pagi itu bertepatan dengan hari Senin, 11 Juni 2012. Rasa gundah dalam hati ini semakin memuncak, dan akhirnya saya sampaikan ke atasan saya tersebut, dimana beliau juga memiliki akses untuk mendapatkan CV akhwat tersebut.

Alhamdulillah, Kamis, 14 Juni 2012 saya mendapatkan CV akhwat tersebut yang terbungkus rapi dalam sebuah amplop. “kasihkan ke MR mu”, itu pesan dari ndoro putri (panggilan ke atasan saya) ke saya dan ndoro juga mengirimkan CV akhwat tersebut ke email saya. Dengan rasa bahagia, CV itu pun saya serahkan ke MR setelah pulang dari kantor, sekitar pukul 21.00 WIB. Saya sampaikan: “Ustadz ini CV akhwat itu”

Esok harinnya saya print kembali CV akhwat tersebut untuk diserahkan ke Bapak dan Ibu, diskusi kami memang tidak begitu lama dan banyak, karena memang mereka sudah mendorong saya untuk bersegera. Bahkan di tahun 2011 saya sudah ditawari untuk menikah.. ^_^ , jawaban saya..  Bapak hanya bilang: “kamu yang akan menjalani semua, kamu sudah dewasa, kami mah ikut aja.insyaallah”

Dan setelah itu, saya hanya menunggu kabar dari Ustadz. Kapan pertemuan itu akan diadakan. Pertemuan yang kami sebut Ta’aruf..

Saya lupa kabar dari MR terkait ta’aruf itu kapan, yang jelas info sms itu saya dapatkan sebelum pilgub DKI Jakarta.  Selang 2 hari setelah pilgub DKI Jakarta (14 Juli 2012), kami pun dipertemukan dirumah MR sang akhwat. Dalam hal ini saya ditemani oleh MR saya. Kami pun diminta untuk menggali informasi masing-masing hingga akhirnya kami diminta membuat keputusan oleh MR, apakah lanjut atau seperti apa. Karena saya sudah berbekal restu dari ortu dan MR, dengan yakin saya memutuskan : “saya sudah memilih dan menentukan, insyaallah saya akan lanjut ke tahapan berikutnya dalam proses ini”. Akan tetapi, sang akhwat tidak memutuskan langsung pada saat ta’aruf. Beliau meminta waktu untuk istikharah. Dan kami pun harus menunggu kabar lagi.

Keberkahan bulan Ramadhan sangat dirasakan oleh kami, awal bulan Ramadhan saya mendapat pesan dari MR. Isi sms nya kurang lebih seperti ini; “insyaallah ukh L siap melanjutkan ke tahapan proses berikutnya, bagaimana jika akh Soleh silaturahim ke rumah ukh L, hari Sabtu 28 Juli 2012 pukul 16.00 WIB?” . Saya komunikasikan ke ortu, bahwa proses ini Insyaallah berlanjut. Dan saya pun balik sms ke MR saya; “Ustadz, Insyaallah kami bersedia silaturahim ke rumah beliau”.  Dan perjalanan silaturahim kami (Bapak, Kakak dan Saya) pun dimulai, alhamdulillah sedikit nyasar tapi akhirnya kami sampai juga dirumah Ukh L. Sambutan yang begitu hangat dari keluarga beliau membuat kami nyaman, kami pun ngobrol dengan leluasa apa dan seperti apa maksud kedatangan kami. Hingga akhirnya kami harus membawa banyak bekal dari rumah beliau.. ^_^

Tepat pukul 20:25 WIB, Ahad, 5 Agustus 2012. Handphone ini mengeluarkan suara, tanda pesan baru masuk. Ketika dicek, ternyata sms dari Ustadz. Isinya : “Asslm. Pak, ada usulan waktu utk kunjungan keluarga ukh linda ke bogor, ahad 12/8 jam 10 pagi. Bgmn tanggapan keluarga akh soleh?”

Setelah diobrolkan dengan keluarga..

Pukul 18:25 WIB, Selasa, 7 Agustus 2012, saya pun membalas pesan ke MR. “Aslkm. Ust. Insyaallah untuk hari ahad, keluarga ana siap menerima kunjungan dari keluarga Mba L. Afwan baru dikabari.”

Seiring berjalannya waktu, hari itu pun datang. Setelah siap-siap di rumah dari pagi, ternyata keluarga beliau datang waktu dzuhur. Pertemuan itu pun berlangsung ramai, keluarga Mba L membawa pasukan yang sangat mantap. Saya pun diminta untuk menyampaikan hal-hal berkaitan dengan tahapan proses menuju pernikahan. Dengan keyakinan, kami mengharapkan ke tahapan berikutnya, dan targetan pertemuan ini pun menentukan kapan waktu untuk mengkhitbah Mba L secara resmi serta meminta izin kepada keluarga besar agar saya dapat berkomunikasi langsung (sms dan telp) dengan Mba L. Alhamdulillah permintaan itu pun mendapatkan restu dari semua pihak dan agenda khitbah pun dapat ditentukan pada tanggal 25 Agustus 2012. ^_^

25 Agustus 2012 menjadi sebuah cerita indah yang diawali dengan ujian mental dari mba L, sms yang cukup membuat saya kaget. Kenapa harus sms seperti ini? Dan setelah lamaran dari keluarga saya diterima oleh keluarga Mba L, saya diberikan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu. Suasana sesaat menjadi hening ketika saya mengucapkan salam dalam majlis tersebut. Dalam keadaan hening itu, saya tegaskan kembali bahwa niat saya menikah adalah untuk beribadah. Insyaallah. Dan saya mencoba menjawab sms-sms yang disampaikan terhadap saya dihadapan keluarga besar, insyaallah saya memilih jodoh karena agamanya. Itulah pesan Nabi Muhammad SAW.

****

Semoga perjalanan proses, saat dan menjalani setelah akad, keluarga kita diberikan keberkahan-keberkahan -Nya. Aamiin ya robbal‘alamin. Wallahu a’lam.

//

//

//

//

//

Iklan