Arafah_Saudi, Kamis, 25 Oktober 2012, 17:15 WIB —

Wakil Amirul Haj Indonesia, KH Hasyim Muzadi, menilai Indonesia sebagai negeri yang ironis. Menurut dia, Indonesia merupakan negara yang bertuhan namun banyak maksiat.‘’Negeri yang kaya dengan penduduk yang miskin. Negeri yang indah dan sebagian besar rakyatnya gelisah,’’ ujar Kiai Hasyim dalam khutbah wukuf yang disampaikan di Padang Arafah, Kamis (25/10 ) siang WAS.

Selama lebih dari satu dekade, kata dia, bencana alam tiada henti-hentinya menerjang berbagai wilayah di Tanah Air. ‘’Mulai dari tsunami, gunung meletus, angin topan, halilintar, gempa, gas yang menyembur, tanah yang retak, banjir, kekeringan, penyakit menular, hama, dan lumpur, yang sangat banyak menelan korban.’’

Mantan ketua umum PBNU itu menegaskan, tak ada seorang manusia pun yang mampu mengatasinya tanpa pertolongan Allah. ‘’Apakah sesungguhnya makna kehendak Allah dengan ini semua? Cukupkah kita mengatakan bahwa itu sekedar gejala alam?’’ papar Kiai Hasyim.

Ia menuturkan, ada beberapa faktor mendasar yang perlu diamati dalam melihat negeri Indonesia. ‘’Sebagai kaum muslimin terbesar di dunia dalam jumlah, sudahkah bertauhid dengan mapan? Beribadah dengan sungguh-sungguh? Dan bertata soial yang rahmatan lil alamin? Mengapa potensi jumlah belum tampak menjadi potensi peranan?’’ Tanya Kiai Hasyim.

Kiai Hasyim juga mempertanyakan soal pemerataan kekayaan alam yang di miliki bangsa Indonesia. ‘’Sudahkah rezeki yang disiapkan Allah di bumi dan kandungan bumi Indonesia telah diutamakan untuk bangsa Indonesia, ataukah kita membiarkan orang Indonesia menjadi asing di negerinya sendiri dalam hal mencari rezeki?’’

Pihaknya menegaskan, konsentrasi kekayaan kepada kelompok kecil masyarakat dilarang agama. ‘’Namun, sudahkah rezeki di bumi Indonesia terbagi secara merata sekalipun tidak sama, ataukah hanya milik orang kaya-kaya saja?’’

Dalam khutbah wukufnya, Kiai Hasyim juga menyoroti bidang penataan ketatanegaraan (politik). Menurut dia,amanat adalah ruh dan jiwa (hikmah) berpolitik. ‘’Sudahkah terjamin proses amanat dari kehendak rakyat menjadi kekuasaan serta dikembalikannya produk kekuasaan itu untuk sebesar-besarnya kemaslahatan masyarakat?’’

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikam itu mengingatkan agar dalam lini proses ini jangan sampai banyak yang terputus, sehingga terjadi jarak antara pemimpin dengan rakyatnya.

Terkait masalah penegakkan hukum, Kiai Hasyim menegaskan, hikmah hukum adalah keadilan bukan sekedar norma prosedural yang hanya berisi aturan-aturan yang belum berkeadilan. ‘’Sudahkah ada keadilan, ataukah hukum masih sangat dipengaruhi oleh kekuasaan dan uang?’’

Kiai Hasyim juga menyoroti bidang pendidikan. Menurut dia, pendidikan dalam sebuah bangsa haruslah membuahkan karakter, kompetensi, kemandirian, dan pengabdian masyarakat.

Ia menegaskan, karakter adalah hikmah dari pendidikan. Jika pendidikan hanya berkutat pada informasi dan pengajaran, tutur Kiai Hasyim, akan sulit membentuk karakter pribadi dan karakter kebangsaan. ‘’Padahal hanya manusia dan bangsa yang berkarakter bisa menyanggal diri dan bangsanya untuk maju sejajar dengan bangsa-bangsa yang lain.’’

Pihaknya juga mengaku prihatin dengan nasib budaya bangsa yang Indonesiawi di tengah arus budaya global. ‘’Apakah budaya kita yang Indonesiawi masih mampu bertahan di tengah arus budaya global?’’

‘’Ataukah budaya-budaya kita tergerus oleh sampah-sampah budaya yang sesungguhnya akan membongkar akar budaya bangsa?’’ Menurut Kiai Hasyim, bongkarnya sebuah budaya bangsa hampir bisa dikatakan sama dengan bongkarnya bangsa itu.

REPUBLIKA.CO.ID

//

Iklan