2 April 2012,

Guru ku, salah satu ulama besar pertama yang pernah yang aku pernah belajar padanya, meninggal dunia. Berat terasa mendengar kepergiannya. Bagiku, juga bagi masyarakat disini umumnya. Selama ini beliau dikenal sebagai ‘tiang’ berdirinya Islam di Priangan Timur, khususnya Garut dan Wanaraja, lewat perjuangannya di Majlis Ta’lim, Pondok Pesantren, Lembaga Pemerintahan (DPR), juga ketahanan masyarakat lewat konsep NKRI-Islamis yang ditinggalkan pendahulunya, KH Yusuf Tauzirie. Tiada kata terucap selain mengutip sebuah nasehat :

“ Maotul amri fitnatun , mawaotul ulama dzulmatun .. Matinya penguasa adalah fitnah ( benih kekacauan ), dan matinya ulama adalah kegelapan ( tiada penunjuk ) ”

IMG0811A

7 April 2012,

kakak ku dan Anaknya yang kedua mesti di rawat di Rumah Sakit Umum-Garut. Meski sehari-hari ia bekerja disana, justru baru kali ini ia menjalani rawat inap dalam kurun hampir 13 tahun. Mungkin ini akumulasi dari akibat jadwal kerjanya yang padat, dan jam makannya yang tak teratur; HERNIA AKUT !

Namun, yang membuatku panik adalah saat sebelum ia berangkat ke RSU,  sore itu , saat ia meminta  untuk diantar, mukanya begitu pucat, kaki tangannya begitu dingin, berkali-kali ia mengucap syahadat seolah-olah nafasnya akan berakhir. Aku tertegun, belum genap seminggu aku kehilangan guruku, apakah hari ini aku akan kehilangan pula saudara kandungku ?

Terbayang..  awal mei 2010, kakak berinisiatif membuka usaha Warnet di salah satu bagian depan rumahnya, dan aku diminta untuk menjaga dan mengelola. Jujur sebagai orang yang hanya mengeyam pendidikan SMA, plus  Pondok Pesantren 3 tahun, aku sama sekali tak punya kecakapan utnuk menjalani pekerjaan seperti itu. Namun kakak selalu memotivasi, dan menjamin akan mengajariku dengan tekun mengenai pengelolan warnet. Mungkin dari sinilah penyakitnya bermula; siang kerja rutin s/d  jam 4 sore, malam mengajariku, bahkan mereparasi PC atau perangkat warnet yang rusak. Menyesal.. dan menyesal … aku merasa begitu lambat dalam memahami pelajaran yang ia berikan, merasa kurang gigih dalam bekerja, juga kurang memiliki inisiatif untuk belajar sendiri.

Tiba-tiba , dari ruang lain terdengar tangisan ; si bungsu, 3 tahun, anaknya yang kedua badannya panas, dan masalah semakin menjadi karena ia tak mau makan maupun diberi obat apa pun.. rupanya ada semacam luka di tenggorokannya ( dalam istilah sunda ; cenang ) dan ini membuatnya  merasa sakit untuk menelan apapun, tiada kata lain : RAWAT INAP !. Maka, jadilah hari itu hari yang mengharukan nan menyedihkan. Warnet tutup 6 hari, dan aku menemani mereka di RSU.

11 April 2012,

berjumpa seorang kawan lama di RSU, membawa kabar duka; salah satu tokoh pergerakan di Garut, Ir. H. Ayub Affandi meninggal dunia. Terasa bagai petir di siang hari, ku terima kembali kabar duka. Beliau adalah salah seorang tokoh pergerakan yang aktif memerangi tindak korupsi di daerah kami, lewat perjuangannya di Ormas Laskar AMPERA 66 yang turut andil memakzulkan Bupati Garut terpilih sebelumnya; AGUS SUPRIYADI. Beliau juga keturunan salah satu tokoh Masyumi Garut; H. Mukhtar. Tak hanya itu, beliau juga aktif membina masyarakat setempat ( Desa Sukaregang ) dengan mengurus Mesjid peninggalan kakaknya yang rutin diadakan majlis Talim tiap jum’at shubuh, dengan Kajian Kitab Bulughul Maram, yang diikuti masyarakat setempat, para ustadz, juga para pengusaha. Lewat ormas itulah aku berkenalan dengan beliau, dan di mesjid itulah aku ditugaskan sebagai salah seorang marabot ( petugas mesjid ) setelah sebelumnya berhenti dari kepengurusan sebuah Panti Asuhan , dan tak punya uang untuk menyewa tempat kos  ( sudah 2 tahun aku tak tinggal di rumah, dan bertekad mandiri dengan penghasilan secukupnya )

IMG1004A

Sedih, dan sedih .. lebih menyedihkan karena aku tak mampu menyaksikan pemakamannya karena mesti menunggu kakak dan keponakanku di sini.

26 April 2012,

mendung di Garut nampaknya belum berhenti, salah satu Anggota Dewan yang Masih aktif, Hj. Mien Aminah Musyaddad, salah satu Putri Tokoh Nasional, KH Anwar Musyaddad, pula meninggal dunia.

Beliau masih menjabat sebagai salah satu anggota DPR dari fraksi PPP. Dulu maju ke pencalonan bersama guruku pada PEMILU 2009, namun karena Suaranya lebih banyak, jadilah suara guruku disumbangkan padanya demi memuluskan langkahnya ke Badan Legislatif. Setelah terpilih, selain kesibukannya sebagai anggota dewan, beliau juga aktif membina masyarakat Wanaraja lewat Majlis Ta’lim mingguan, juga aktif mengembangkan Usaha yang dirintisnya; Sentra Industri Tanaman Ramie di Jawabarat .

Namun, nampaknnya kebersamaan beliau dan dua tokoh diatas  dengan masyarakat Garut telah berakhir. Memenuhi panggilan Sang Khalik tuk meninggalkan dunia yang fana.

Ibu Mien, 26 April

http://hamzanmusthofa.wordpress.com/2012/04/08/in-memorian-kh-amin-bunyamin-lc/

http://id.scribd.com/doc/118561673/Industri-Penyamakan-Kulit-Sukaregang-Miliki-Sejarah-Panjang

http://ramiedarussalam.com/

http://wildanm.wordpress.com/2009/03/11/industri-kain-rami-garut-menembus-mancanegara/

http://id.scribd.com/doc/118562496/Mien-Aminah-Musaddad-Wafat

Desember Gulita

Hanya satu, namun terasa merangkum semua kesedihanku di tahun ini; rencana khitbah-ku yang gagal beberapa bulan yang lalu. Tak perlu ditanya apa dan bagaimana. yang jelas, sekarang aku tahu bagaimana rasanya patah hati. Aku sama sekali tak kan bersedih dengan sekedar kisah ‘ cinta monyet’, namun tentunya berduka menyaksikan orang yang pernah kita cintai, telah bersanding dengan orang lain. Rasa tak percaya dan menyalahkan diri terus-menerus.. Merasa lemah, melayang ke puncak frustasi, lalu terhempas di titik depresi.. ku coba bertahan, dan kehidupan ganas tetap berjalan.

Hingga kusadar, bahwa semua ini adalah suratan Takdir ..

” Aku diuji disisi terlemah dari diriku, meski berat tapi harus kuat . ”

Akhirnya, ku ucap syair perpisahan dan tanda penutup kisahku di Tahun 2012 ini, mengutip :

Kalau harus kujujur padamu

Terus terang kukecewa

Namun kutanya

Siapa yang mampu

Menepis takdir yang kuasa

Biar saja begitu adanya

Jangan ada air mata

Pergilah kasih

Sudah lupakan

Semua yang pernah

Kita rasakan

**

Lihat saja di mataku

Tiada dendam, tiada duka

Doaku semoga kau bahagia

Saat ini kuinginkan

Tuk meraih masa depan

Bahagia pasti kan kujelang

Jangan Ada Air Mata Paramitha Rusadi, 2009

http://www.mediafire.com/?5hiaal7hd5atgf7

Iklan