Sepintas, saat berkunjung ke rumahnya, kita tak akan berpikir itu rumah seorang pejabat penting. Sebagai salah seorang anggota Dewan, rumahnya terlalu kecil, bahkan 2 kali lebih kecil dari rumahku. Namun, ada perasaan segan yang sangat  ketika akan memasukinya, sebuah aura kuat dari seorang jenius, berani,  tegas, dan berwibawa. Karena di rumah itulah para kader dibina, putra-putri nya dibesarkan, para tokoh masyarakat berunding, bahkan para petinggi negara bersilaturahmi. Itulah rumah guru ku tercinta, Pimpinan  Pondok Pesantren Cipari Wanaraja- Garut,  KH. Amin Bunyamin LC.

 Cipari
Ada cerita tentang mengapa rumahnya dibiarkan begitu sederhana. Cerita mengenai pendahulunya, KH Yusuf Tauzirie.
 “Bapak itu rendah hati sekali. Selama saya 23 tahun hidup dengan beliau, yang paling saya ingat adalah ajarannya tentang ketauhidan. Kalau melihat saya pakai baju baru saja, bisa didakwahi sampai 2 jam tuh. Apalagi kalau membincangkan tentang harta dunia, beliau selalu mengingatkan saya,” ujar Lilis nurjanah, salah seorang keturunan beliau, di yayasan Albayyinah, Garut.
Kiai Yusuf juga ikut andil dalam perjuangan melawan Belanda. Ia sempat di tahan di sel dingin dan dikurung dalam lemari es penyiksaan. Atau ketika Orde Baru dan pohon beringin menguasai negeri ini, ia tidak segan untuk berseberangan dengan pemerintah untuk tidak ikut menundukkan diri.


Bapak itu tidak suka ikut nyoblos kala pemilu datang. Bapak juga tidak suka membungkuk-bungkuk di hadapan para petinggi. Ketika kongdam Siliwangi, Jendral Darsono, bertandang ke rumahnya pun, selain menjamu dengan menu khusus, ia pun menyuguhkan makanan khas rakyat seperti gaplek, ongok, nasi aking, dan sejenisnya. Untuk menunjukkan bahwa begitulah rakyat hidup, agar para pemangku kekuasan mengetahuinya,” .

Itulah Kiai Yusuf, bapak dari 10 orang anak sekaligus pahlawan negeri ini yang namanya kini diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Garut. Bak seorang sufi, kezuhudannya dalam beribadah senantiasa terpancar dari gayanya yang rendah hati.

Meski rendah hati, jika sudah menyentuh hal-hal prinsipil, sikapnya tegas tanpa kenal kompromi. Kasih sayangnya luar biasa. Ia tidak meninggalkan harta kekayaan untuk untuk anak-anaknya. Majid dan pesantren Cipari adalah warisannya yang masih tertinggal. Menara di masjid itu masih berdiri hingga kini dengan bekas tembakan yang menganga, menjadi saksi keteguhan Kiai Yusuf.
“Bapak adalah ayah yang tegas, ulama yang memiliki keteguhanan luar biasa. Kalau menurut Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, yang sering berkunjung ke bapak, Yusuf Tauziri itu adalah Khomeininya Indonesia,”
pungkas Lilis.

mungkin tradisi inilah, yang mengakar pada guruku, KH Amin Bunyamin L.C. Meski seorang ulama besar, penampilannya biasa-biasa.. tak ada sorban besar atau tasbih yang biasa berada di tangan. Cukup peci, sarung, bahkan seragam pendek. Begitulah beliau jika diundang ceramah. Satu kata beliau yang terngiang -ngiang ditelingaku mengenai hal ini ;
mun teu ati-ati mah, ngan sakadar ujub nu kitu teh .. Syetan hungkul tah nu ngagantung  dina sorban & tasbeh ! “
 ( Kalo tak hati-hati , hal itu hanya akan berbuah ujub,. malah syetan tuh yang bergelantungan di sorban & Tasbih )
Bahkan diakhir jabatannya di DPR. Saat beliau memarkirkan mobilnya di sebuah daerah perumahan, mobil itu raib.. lengkap dengan surat-surat nya. Namun apa yang beliau ucapkan pada istrinya :
Dasar kudu beresih !! “
( dasar mesti bersih- tak ada harta negara yang kita bawa dari senayan )
Ari urang basa can boga mobil ceurik teu ? naha mobil geus euweuh beut ceurik ?! ”
( dulu waktu kita gk punya mobil nangis, gk ? kenapa sekarang mobil gk ada mesti nangis ?! )
Alhamdulillah.. sebulan berselang, seorang sobat beliau menggantinya dengan mobil baru tanpa pamrih ( Kijang Inova ) .. Janji Alloh, pasti !
——————————————————————————————————————————————–
 Terletak di perkampungan, rumah itu terlihat sangat mencolok. Bagaimana tidak, di antara rumah penduduk biasa yang sederhana berdiri kokoh rumah nan megah tersebut.
*
Suasana pedesaan sangat kental di rumah Jalanan menuju rumah itu masih berupa semi aspal, sehingga tak jarang, kubangan hujan terdapat di bibir gang rumah i dengan luas kira-kira 2.000 meter persegi itu.tu. rumah pribadi orang nomor 1 se-Kabupaten Garutair Bupati Garut Aceng HM Fikri.
rumahacengrivkidalam
Rumah Aceng Fikri juga terlihat paling mewah di antara para tetangganya. Sisi timur rumah sang Bupati  yang maju dari jalur independen ini bersebelahan dengan sawah. Sedangkan sisi barat-nya bersebelahan dengan rumah warga lainnya.
*
Bangunan dan desain rumah Aceng Fikri pun tampak mewah dan elegan. Tembok rumah tersebut didominasi dengan warna abu-abu. Sedangkan pagar pintu masuknya berwarna hitam dengan tinggi sekitar 2 meter. Jarak rumah Aceng Fikri dari jalan raya sekitar 200 meter.
*
Memiliki rumah besar tiada salahnya, asalkan dari uang pribadi dan milik yang sah. baik sekali jika rumah yang besar itu dijadikan sarana yang menunjang kesejahteraan masyarakat setempat, misal gudang sembako, Taman baca, layanan informasi, syukur-syukur Kereta Api atau Metro Mini 🙂 .. untuk semua itu, rumah yang besar  adalah sebuah keniscayaan. Namun jika hanya sekedar pamer, atau pemuas ambisi semata, tentu akan jadi lain ceritanya. Terlebih dibangun ditengah tingkat perekonomian masyarakat yang timpang, Tunjangan Guru yang tak kunjung cair, layanan publik yang  tak memuaskan, dan berbagai sarana yang terbengkalai,.. sungguh, akan benar-benar lain ceritanya .
*
“Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dan sejelek-jelek rumah orang Islam ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan jelek” (HR. Ibnu Mubarak).
**
Ada yang mau koreksi atau menambah ..?
* * *
Iklan