Gerimis hujan di pagi hari, tanda seorang sholeh telah pergi …

( Seingatku, sejak awal tahun, baru kali ini jam setengah 6 ada hujan gerimis. Biasanya Shubuh, atau jam 8-an. Ditambah sisa purnama yang masih nampak, menambah suasana makin haru )

Image.

//

Kutulis rubrik kali ini dengan penuh kesedihan dan hati yang serasa hancur berkeping-keping. Karena seorang panutanku, tokoh kharismatik, tipe pemimpin, guru yang baik ..berbuat, mencontoh dulu baru berdakwah.., penyampaiannya mudah dicerna, sahabat kaula muda, tak pernah memilih-milih persahabatan, di saat beliau berdakwah tak pernah untuk menyinggung perasaan agama orang lain karena beliau tahu dirinya hanyalah Manusia biasa; Ust. Jefry Al Bukhary.
Mungkin latar waktu beliau meninggal lah; hari jum’at dan terbitnya gerhana bulan….menjadi pelipur lara atas kepergiannya ( Insyaa Alloh minal aaminiin ).

Uje; begitulah beliau akrab disapa, adalah salah satu sosok dai yang mengerti psikologi dakwah. Sebagai seorang yang pernah terjembab di dunia kelam (tak bermaksud membuka aib), beliau nampaknya tahu betul cara menghadapi generasi muda, dimana ia melihat mereka sebagi entitas yag perlu diayomi, disantuni, dibimbing tanpa sikap emosional, namun tetap menjaga disiplin syara sesuai kadar yg mampu mereka terima. Menyalahkan, menyudutkan, dan mendeskreditkan, memang cara paling gampang untuk dilakukan dalam menilai seseorang. Padahal dalam menyeru umat, kita mestilah ingat dengan asas kita sebagai seorang dai; Nahnu Du’at Laisa Qudhot; kita ini sekedar pendakwah, bukan hakim !

Kita tahu (tanpa bermaksud membanding-bandingkan) bagaimana MAHER ZAEN dengan pendekatan tampilan’Macho & familiar’nya mampu menuntun jutaan anak muda kembali ke jalan yang benar. Tak hanya diluar negri, tak juga generasi muda di Indonesia. Namun jauh sebelum beliau,Uje lah yang mempelopori metode serupa di negeri ini. Gaya yang gaul, suara yang lantang & bersemangat, tidak menggurui, serta mudah dicerna menjadi ciri khas dalam setiap ceramahnya.

Maka, ia pun menjadi ikon tersendiri. Salah satu peninggalan khasnya; Baju koko ‘Gaul’ menjadi trend yang bertahan sampai sekarang. Sejak dirilis awal tahun 2006-an, Koko Uje menjadi booming di masyarakat, bahkan merambah kalangan artis- musisi. Mereka tak segan mengenakan busana tersebut dalam penampilannya, baik saat menyanyikan lagu religi maupun sekedar event silaturahmi di hari ldul fitri.

Demikianlah, seorang pioner telah memperkenalkan mainstreamnya, moga menjadi teladan bagi kita semua .

Terakhir saya kutip sebuah link yang mungkin dapat menambah jelas tulisan ini dan sebuah klip lagu; kenangan beliau dengan musisi religi_Opick.

Semoga bermanfaat, wallohul musta’aan.

—————–

fimadani.com;
Psikologi Dakwah yang Hampir Mulai Dikesampingkan
April 4, 2013 5:45 pm

Jika semua da’i hanya memperhatikan para Muslim muwahhid (sudah baik tauhidnya) yang sudah paham Islam dan siap berjihad saja, siapa yang kan “merangkul” generasi muda Islam dan memahami gejolak hati mereka, menuntun mereka agar menjalani hidup di bawah naungan Islam sesuai dengan kemampuan dan cara berfikir mereka yang sangat butuh bimbingan?

Seorang Syaikh yang sangat diidolakan anak-anak muda di Sydney, Australia, menasihati saya, “Brother…., Catch their hearts first then you can bring them anywhere you want. Sentuh hati mereka dan genggam dulu rasa cinta mereka kepada Anda, bahwa Anda peduli dan perhatian kepada mereka. Setelah mereka simpati kepada Anda, Anda akan bawa mereka ke mana saja Anda mau..”

Ini salinan surat terbuka KH. Ahmad Cholil Ridwan pada salah seorang remaja tersebut:

***
Assalaamualaikum.

Bapak sering menonton penampilan Fatin di X Factor, bapak dan keluarga bangga dengan kamu yang tetap berjilbab dalam penampilanmu ikutan di X Factor. Bapak sebagai Ketua MUI Pusat yang membidangi Seni dan Budaya ingin berpesan untuk Fatin sebagai berikut:

Pada suatu saat Fatin akan dihadapkan pilihan, jilbab atau karier. Misalnya akan ada yang membisikan Fatin dengan kalimat; “Kalau mau menang jadi juara I kamu harus copot jilbab!” atau “kalau mau ikut nyanyi di luar negeri kamu harus copot jilbab”, Bapak pesan jangan sekali-kali kamu jual akidahmu demi karier duniawimu. Dan jauhi pergaulan negatif.

Jangan tinggalkan sholat lima waktu dengan alasan apapun, kalau terpaksa boleh di akhir waktu. Dan kalau betul-betul darurat bisa dijamak. Kepada umat Islam, khususnya muslimah yang sudah berjilbab dan anggota Hijabers, setiap Fatin mau tampil di “X Factor” dukunglah, niatkan untuk da’wah dan syiar jilbab.

Rumus jilbab itu 3T yaitu Tidak buka aurat, Tidak transparan, dan Tidak ketat.

Terima kasih atas perhatian Fatin dan salam buat kedua orang tuamu.

Wassalam.

KH. A. Cholil Ridwan
Ketua MUI Pusat Bidang Seni Budaya

***

Bukankah demikian mestinya nasihat seorang kakek kepada cucunya?
Saya kenal beliau (KH. A. Cholil Ridwan) secara personal karena putri beliau pernah jadi murid saya. Nama putri beliau “kebetulan” sama yaitu FATIN juga. Mungkin itu salah satu sebab beliau mendukung FATIN. Bedanya kalau yang ini Fatin Shidqia sedangkan putri beliau namanya Fatin Labibah.
Saya mencoba husnuzhan dengan beliau, dimana saya cukup dekat dengan beliau dan saya sempat berdiskusi berkali-kali dengan beliau, terlebih soal generasi muda. Saya melihat, beliau amat sangat prihatin dengan kondisi dekadensi moral generasi muda sehingga seorang Ketua MUI seperti beliau bahkan tidak memasang target muluk-muluk untuk generasi muda:
***
“Jika anak-anak di Jakarta tidak terjerumus dalam seks bebas dan narkoba, di saat kehancuran akhlak dan moral sudah luar biasa seperti ini, ini sudah sebuah keberhasilan bagi orangtua.”
***
Saya rasa, Ustadz Cholil justru mencoba mengayomi, menjadi bapak, kakek atau seorang pembimbing yang mencoba memahami apa yang tengah terjadi pada generasi muda saat ini. Itu sebuah teknik dakwah yang terbukti ampuh dan sangat efektif di negara Barat. Demikian para para da’i di Amerika, Australia dan Eropa memberikan simpati pada generasi muda yang butuh dukungan di saat gelombang penghancuran moral, akhlak dan budaya Islam sampai pada tingkatan yang sangat luar biasa. Bukan hanya disalahkan dan dipojokkan.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran 159)

Pernahkah terpikirkan untuk memntakan ampun kepada Allah buat generasi Islam yang “tersesat” itu? Pernahkah terpikirkan mengajak mereka untuk berdialog dan memahami gejolak hati mereka? Atau setidaknya menanyakan kepada mereka, mengapa mereka seperti itu?
Menyalahkan memang cara paling gampang untuk kita lakukan.

Wallahu a’lam.

Ustadz Fuad Al Hazimi – Mantan Imam Masjid Al Hijrah Sydney Australia

http://www.fimadani.com/psikologi-dakwah-yang-hampir-mulai-dikesampingkan/

—–

Iklan