( Re-Post tulisan dari Yahoo Groups Urang Sunda.. karena telah melihat sendiri jejak-jejak apa yang di ceritakan dalam tulisan ini, terharu .. )

***

Mang Irin, sosok setengah baya berseragam PJKA ini, pagi-pagi sekali sudah berada di stasiun kereta yang kini sudah tidak beroperasi lagi. Stasiun yang berupa gedung tua khas bangunan Belanda ini adalah stasiun Bayongbong, sebuah stasiun kecil yang berada di jalur kereta Cibatu-Garut-Cikajang. Sayangnya setelah beroperasi selama 57 tahun, trayek Cibatu-Garut-Cikajang ini harus ditutup. Sejak dibuka tahun 1926 dan ditutup tahun 1983, jalur kereta ini telah menjadi tulang punggung transportasi di dataran tinggi Garut.

Mang Irin adalah seorang yang sederhana.  Samar-samar saya masih bisa mengingat wajahnya yang ramah dan bersahabat. Saya masih kecil waktu itu, mungkin belum sekolah, berarti sekitar tahun 1985 atau 86. Meski jalur keretanya sudah ditutup, dan stasiun berhenti beroperasi, namun Mang Irin tetap melaksanakan tugasnya, merawat semua peralatan operasional kereta. Karena masih kecil, waktu itu saya tidak begitu mengerti tentang apa itu pekerjaan dan apa itu bakti. Yang saya tahu hanyalah bermain-main di sekitar stasiun, berjalan meniti jalur besi roda kereta, atau mengangkat bandul besi pemindah jalur rel, dan semua yang bisa dimainkan disana.

Sekarang saya baru menyadari, bahwa apa yang dilakukan oleh Mang Irin adalah sebuah darma yang didorong oleh kesetiaan dan kecintaan pada dunia kereta. Meski stasiunnya sudah tidak beroperasi lagi, namun beliau merasa memiliki dan menjadi bagian dari stasiun itu. Karenanya beliau tidak ingin semuanya menjadi terbengkalai tak terawat.

Terkadang saya merasa heran, dulu dijaman Belanda yang katanya Penjajah, justru memperhatikan sistem transportasi dan berusaha merancang moda-moda transportasi yang efektif. Pembangunan jalur kereta yang sampai ke dataran tinggi Cikajang (+- 1200m) merupakan salah satu buktinya. Belum lagi berbagai infrastruktur pendukung jalur kereta, seperti jembatan-jembatan, gedung-gedung stasiun, dll, semuanya dibangun dengan kualitas terbaik. Jembatan kereta yang ada di dekat stasiun Bayongbong misalnya, sejak dibangun tahun 1926, sampai sekarang masih kokoh berdiri. Bangunan stasiunnya pun masih ada, meski sekarang sudah tidak terawat lagi. Apalagi sejak Mang Irin wafat, tidak ada yang meneruskan mengurus bangunan itu.

Di jaman (yang katanya) merdeka ini, sistem transportasi justru seperti kehilangan arah dan idealisme. Pembangunan moda-moda transportasi seakan tidak terencana dan tidak tepat sasaran untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya. Pembangunan jalan-jalan mulai jalan tol sampai jalan mobil biasa, seakan tidak pernah cukup. Dan semakin banyaknya mobil dan kendaraan darat individualistis lainnya, berefek domino sedemikian kemana-mana. Mulai dari BBM sampai harga bawang putih.

Seandainya di Indonesia mengutamakan pembangunan kereta, mungkin ceritanya akan lain. Mungkin tidak akan ada masalah BBM, mungkin. Selain itu, Kereta itu tak kenal macet, sehingga waktu yang terbuang tidak sebanyak sekarang.

Dan siapa tahu, “tuah” kereta akan menghasilkan Mang Irin-Mang Irin baru, yang mencintai kereta dan merawat sistemnya. Sehingga angka kecelakaan pun bisa sangat kecil.

**

Saya sertakan juga beberapa foto kereta yang melayani jalur Cibatu-Garut-Cikajang di bagian attachment ( klik untuk memperbesar ).
Jadul Banget ^_^

Irpan Rispandi

Lewat+Jembatan

Kereta_penuhStasiun_Garut

Iklan