Nabi Muhammad SAW, telah mewanti-wantikan pada kita dengan gambaran nasib orang orang

yang bangkrut di akhirat nanti disebabkan karena kita menyepelekan sikap kita pada orang lain

seperti termaktub dalam al Hadits ;

Dari Abu Hurairoh RA berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW :
“ Tahukan kalian siapa orang yang merugi (bangkrut) itu ?

Para sahabat menjawab : Orang yang rugi (bangkrut) diantarakami adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya kekayaan apapun.

Kemudian

Rasulullah bersabda : Orang yang rugi (bangkrut) dari ummatku ialah orang yang pada hari

Qiyamal nanti datang dengan pahala amal Shalat, pahala amal puasa, pahala amal zakatnya,

tetapi dia datang juga dengan amal lain yakni telah mencaci (menjelekan) si ini, telah menuduh

si itu, telah memakan harta si ini (dengan jalan tidak halal) telah melukai si ini, telah memukul

si itu, kemudian diberikanlah kebaikan pahala amal orang itu kepada yang disakitinya dan

kepada yang dianiayanya, dan jika telah habis amal kebaikannya itu sebelum ia tunas membayar

kejahalan dirinya pada orang lain. maka diambil kesalahan orang lain yang disakitinya dan

dijumlahkan (dipikulkan atasnya) kemudian dia dilemparkan ke neraka

(HR. Muslim)

 

Memang kita perlu memahami bahwa sesungguhnya tidak lah akan membanggakan manakala

prilaku ibadah kebaikan yang kita lakukan disertai dengan keburukan sikap kita pada yang lain

sebesar apapun nilai ibadah itu.

Begitu juga, perlu kita fahami bahwa setiap ibadah itu mempunyai dua potensi akibat yang selalu

beriringan satu sama lainnya. Di satu sisi ibadah itu mungkin akan menjadi ladang pahala yang

akan kita panen di kampung akhirat nanti. Tetapi manakala kita tidak memenuhi syarat, adab

dan rukun dan aturan mainnya boleh jadi ibadah itu justru akan menjadi sarana mendatangkan

fitnah bagi kita kelak di hari akhir.

Sebagai contoh firman Allah SWT yang terdapat dalam al Qur’an dalam surat al-Ma’un disebutkan ancaman Allah SWT kepada orang-orang yang shalat :

 

” Maka celakalah (neraka weil) bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai

dari salatnya” (QS Al Ma’un 4)

 

Shalat yang hanya asal-asalan saja bisa menjadi fitnah dan ancaman di akhirat nanti apalagi yang tidak shalat.

Demikian juga dengan ibadah puasa Ramadhan kita. Setidaknya ada dua dalil yang juga

mengingatkan kita tentang bahaya orang yang berpuasa manakala tidak memenuhi adab dan

aturannya. Dalil pertama, Rasulullah SAW telah memberikan prediksi bagaimana banyak orang

yang berpuasa tanpa hasil apapun keculai hanya lapar dahaga. Beliau bersabda :

” Betapa Banyak Orang berpuasa tapi tidak mendapat (pahala) apa-apa dari puasanya kecuali

hanya lapar, dan betapa banyak orang yang sholat malam (tarawih) tapi tidak mendapatkan

apa-apa selain begadang saja” (HR An-Nasai)

 

Dalil kedua hadits yang menerangkan lafadz doa Jibril alaihissalam, dimana la mendoakan

keburukan kepada mereka yang mendapati Ramadhan tapi tidak mendapat ampunan dari Allah

SWT. Seperti tertera dalam al hadits.

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu’anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menaiki mimbar kemudian

bersabda: “Amin, Amin, Amin”.

Kemudian dikatakan kepada beliau, “Wahai Rosulullah, Apa (maksud)

yang engkau lakukan itu?.

Kemudian beliau bersabda: “Jibril telah mengatakan kepadaku, “Hinalah seorang hamba yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya (masih hidup) namun hal itu tidak membuatnya masuk surga”.

Aku berkata, “Amin”.

Kemudian Jibni berka lag!, “Hinalah seorang hamba yang ia telah memasuki bulan Romadhon namun tidak membuat (dosanya) diampuni,

Kemudian aku berkata, “Amin”.

Kemudian Jibril berkata, “Hinalah seseorang yang mana jika (namamu) disebutkan

padanya namun ia tidak mengucapkan shotawat, kemudian aku berkata,

“Amin”

(HR Ibnu Khuzaimah, disahihkan oleh al Albany).

 

Mengingat pada keterangan dua hadits di atas, rasanya menjadi perlu kita memahami dan

merenungkan hal hal yang menjadi sebab keburukan dari ibadah yang akan kita laksanakan itu,

karena boleh jadi selama ini kita salah menafsirkan tentang makna suatu ibadah, sehingga ibadah

ini kita anggap sebagai budaya yang biasa berlalu tiap tahunnya, selebihnya kita tidak

mempunyai terjemah lain dari ibadah itu, kita hanya melakukannya tanpa memahami inti sari

dan pesan yang terkandung dalam ibadah itu, Jika diibaratkan suatu ibadah itu berfungsi obat,

maka semeslinya apabila yang sakit sudah meminum obatnya, maka segeralah datang kesembuhan, namun apabila obat yang dianjurkan salah memakannya maka akan berakibat tambahnya penyakit baru.

 

Dalam perjalanan pelaksanaan ibadah shaum di bulan Ramadlan seringkali terjadi kekeliruan

dalam memahaminya, sehingga, berulangkali ramadlan datang kita merasakan belum

mendapatkan nilai istimewa yakni buah ketakwaan yang menjadi sasarannya, kekeliruan inilah

yang saya maksud salah memakan obat. Diantara kekeliruan itu al:

 

Pertama : Berpuasa Tidak Disertai Keikhlasan

 

Rasulullah SAW bersabda datam hadits yang sudah sangat populer di telinga kita :

” Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya….. (HR Muttafaq alaih)

Berpuasa tanpa keikhlasan,ibarat surat perjanjian tanpa materai. maka jadi tidak berlaku surat tersebut kalau tidak mau disebut sia sia saja,

Demikian pula dalam hal berpuasa jika tidak disertai niat karena Allah, maka sia-sialah amalan

tersebut sekalipun kita sudah berlelah- lelah melakukannya. Banyak sekali nampak sikap

seseorang vang niatnya bukan karena ibadah (ta’abudiyah pada Allah) boleh karena ingin

menguruskan badan, karena malu tetangga banyak yang berpuasa, karena ingin hadiah dll.

Makanya mengajarkan dan melatih anak berpuasa dengan iming-iming hadiah, sesungguhnya

pendidikan yang kurang baik dalam pembentukan karakter interes bagi anak tersebut (hingga dewasa, anak terbiasa berorientasi materialistis..)

 

Apalagi masalah puasa yang muatan keseluruhannya keikhlasan dan melatih kita ikhlas, karena

puasa itu sebagaimana dalam hadits sebagai ibadah antara hamba dengan Allah. Rasulullah SAW

bersabda:

Dari Abi Hurairoh ra. dari Nabi SAW bersabda : Allah berfirman ” Setiap perbuatan anak

adam baginya kecuali Shaum. karena sesungguhnya amal shaum itu untuK-u dan aku yang akan

membalasnya. (HR Bukhori Muslim)

 

Maksud dari hadits Qudsi diatas menerangkan bahwa ibadah puasa itu tidak terkena riya

sebagaimana (amalan) lainnya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata, “Ketika amalan-amalan yang

lain dapat terserang penyakit riya, maka puasa tidak, karena tiada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya. Oleh karena itu dikatakan dalam hadits. ‘Meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku.’

Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata, ‘Semua ibadah tcrlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan (yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya) berbeda dengan puasa. Dengan demikian memang benar keikhlasan melakukan puasa itu menjadi faktor penentu keberhasllan puasa.

 

Kedua, Berpuasa Tanpa Ilmu:

Para ulama telah sepakat bahwa dalam ibadah puasa ini dikenal istilah “Mubtilat” (yang

membatalkan) dan ” Muhlikaf (yang merusak nilainya).

Boleh jadi seseorang berhasil melalui godaan yang mubtilat /yang membatalkan tapi belum tentu

orang itu berhasil menghindari yang muhlikat yang merusak nilainya,

Rangkaian yang membatalkan puasa tidak terlalu berat dihadapi kebanyakan kaum muslimin,

karena pada umumnya setiap kita mampu bertahan untuk tidak makan dan minum serta bergaul

suami istri selama berpuasa, akan tetapi Jika berhadapan dengan yang merusak nilainya

seringkali akhimya kita terjebak, dan tanpa disadari kita telah menodainya, amalan amalan yang

sering merusak yang seringkali tanpa sadar kita melakukannya seperti, marah marah,

menggunjing, berkata kasar dan tidak patut (rofats), mendumel, melakukan hal yang tidak

manfaat dari permainan permainan, leha-leha, malas, berkata dusta, berantem (pasea :sunda) dll.

Nah amalan itulah yang seringkali merusak keagungan nilai ibadah itu. Dan kebanyakan kita tidak menyadarinya.

 

Disinilah letak kepentingan ilmu yang dapat mengawal keberlangsungan ibadah itu dapat

dilakukan dengan sukses. Ilmu akan memberitahukan mana yang membatalkan dan mana yang

merusak, Dalam konteks ibadah puasa Rasulullah SAW telah memberi peringatan melalui

sabdanya:

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Bersabda Rasulullah SAW :

“barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan kata kata dusta, malah ia mengerjakan itu, serta melakukan kebodohan, maka Allah tidak mempunyai kepentingan seseorang itu meninggalkan makanan dan minumannya. (HR Bukhori)

Orang yang melakukan puasa tanpa ilmu maka ia akan dikuasai nafsu, sedangkan nafsu bersifat liar dan selalu mendorong untuk melakukan dosa, maka hari hari Ramadlan akan

dilalui tanpa ada perubahan dan perbedaan dengan kesehariannya di luar bulan ramadlan.

 

Ketiga : Kurang Yakin Kalau Bulan Ramadlan Penuh Berkah

Kita sering salah menterjemahkan berkah. karena kebanyakan kita menafsirkan berkah hanya

pada “keuntungan materi”. Kalau usaha dagang banyak untungnya kita baru menyebut berkah,

kalau mau lebaran terbeli banyak baju baru kita menyebut berkah, kalau berkebun dan beternak

dan hasilnya bagus baru disebut berkah dst. Padahal makna berkah itu tidak terbatas pada itu

saja. karena arti berkah itu adalah “keluasan/kelapangan, Kecukupan”, yang paling dibutuhkan

kita ini sesungguhnya keluasan dan kelapangan jiwa dan pikiran dari segala kesulitan yang

menghimpit. Karena jika kita hanya dilapangkan kekayaannya sedangkan jiwanya disempitkan

maka kita hidup lidak akan pernah tenang, rasa takut dan bimbang akan senantiasa menghantui

dan kehidupan ini serasa makin dirasa sempit.

Bulan Ramadlan diistilah kan oleh Rasulullah sebagai ” Syahrul Mubarok” atau bulan yang

penuh berkah. jika dirunut makna keberkahan dalam ungkapan Rasulullah tersebut tentu

sangatlah luas yakni; terbukanya kesempatan mudah masuk syurga dengan amalan amalan yang

baik, tertutupnya kesempatan dari godaan untuk masuk neraka, peran syetan terbelenggu, dan

dilipat-gandakan pahala amal kebaikan. hingga segala amal kebaikan baik itu kecil ataupun besar

dinilai syurga dan banyak lagi. nah disitulah nilai keberkahan itu. Sehingga jiwa kita menjadi lidak sumpek lagi karena Allah tetah menyediakan berbagai balasan kebaikan yang senantiasa

kita butuhkan.

 

Coba saja kita renungkan baik baik, dalam perjalanan hidup kita ini (lalakon hirup) sepertinya

terlalu banyak dosa. kita sangat emergency membutuhkan pengampunan dan apalagi nanti

diakhirat kita membutuhkan syata’at. maka puasa dan seluruh lampirannya di bulan ramadlan

yang kita lakukan itu dapat memberikan syafaat dan kesaksian kebaikan diri kita dihadapan

pcngadilan Allah kelak hari.

Rasulullah SAW pernah bersabda :

 

Puasa dan Qiyamullail keduanya akan memberikan syafa ‘at (pertolongan) kepada hamba nanti

di hari Qiyamah, lalu puasa berkat : wahai Tuhanku, aku telah melarangnya untuk makan dan

minum di siang hari. Dan berkata pula al Qur ‘an : aku telah menghambatnya untuk kurang tidur

di malam hari, maka kami akan memberi syafaat atasnya. HR. Ahmad

 

Untuk itulah mari kita sambut bulan ramadlan ini dengan segala persiapan diri, dan kita fahami

kekeliruan yang telah kita lalui semasa yang lalu untuk kita upayakan ada perubahan dalam

melaksanakannya. sehingga nilai puasa kita benar-benar sebagai ibadah yang akan menjadi

perisai yang menghalangi dari sengatan api neraka.

 

Janganlah kita hanya mentargetkan ingin meraup keuntungan bisnis di bulan ramadlan dengan

laba yang berlipat, tapi berupayalah kita targetkan keuntungan dan laba akhirat yang lebih banyak lagi, mumpung masih ada kesempatan karea ujung kehidupan diri kita ini tidak dapat dipastikan kapan berakhimya, mungkin esok atau lusa.

 

Diperbanyak oleh :

 

Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH)

al QaSWa

Kabupaten Garut

 

al OasWa, Kendaraan Anda Menuju Baitullah

Iklan