Bagaimana pun, saya akan tetap mendukung seberapa pun hasil yang kalian capai. Namun sebagai ‘kakak’, boleh kan saya marah sedikit ?! Setidaknya saya hanya ingin mengingatkan satu pepatah pada kalian, pepatah dari salah satu pendiri bangsa; Ir. Soekarno, yang berbunyi : Jas Merah.. Jangan Melupakan Sejarah ! ( sebenarnya tulisan ini lebih ditujukan kepada couch INDRA SJAFRI selaku yang bertanggung jawab atas mereka, istilah pribahasanya; masa anak-anak disalahin ?! ) Ya, ingatkah puncak performa terbaik yang kalian tampilkan, ingatkah pula apa yang membuat kalian seperti itu ? Setidaknya saya tinjau 3 hal :

  1. Jadwal berimbang

Saya lihat, jarak antara final Vs Vietnam hingga laga melawan korsel tidak terlalu berdekatan. Malahan dengan pulang dulu ke halaman masing-masing, dimana kalian dieluk-elukan,, itu adalah obat penawar lelah yang luar biasa bagi kalian. Bandingkan dengan jadwal kalian sebelum Turnamen bulan ini (AFC); Tour Nusantara, Tur Timur Tengah (plus Umroh), Tur Nusantara 2, Hasanal Bolkiah Tropy, dan terakhir, dimana seharusnya kalian beristirahat, malah berangkat ke Spanyol menghadapi lawan-lawan yang begitu berat. Saya lihat, kalian terlalu muda untuk menghadapi jadwal sepadat itu.. andai fisik kuat, mental diragukan.

  1. No Over Eksposed

Sebaimana komitment awal, Couch INDRA SJAFRI bertekad agar kalian fokus terhadap tugas dan tidak diekspos media berlebihan sebagaimana senior-senior kalian (youtube_Hitam Putih_Trans TV_25 September 2013). Namun apa kenyataannya, meski tak jadi artis iklan, pemberitaan media, satus fb, twitter, dsb tak kalah hebatnya. Bahkan saya sesalkan sekali kalian saling mengumbar Presiden pilihan masing-masing, yang mestinya itu aib bagi kalian. Juga saya yakin berbagai tur yang bisa disaksikan secara publik (live streaming) tentu membuat semua lawan makin tahu karakter bermain kalian.

  1. First Time

Apa yang ada dipikiran kalian dengan berlama-lama menggiring bola di area kotak sedang lawan umumnya bertubuh lebih besar lebih dari kalian. Seharusnya kalian lakukan apa yang kalian lakukan saat melawan Korea Selatan.. yang dikenal dengan istilah ‘ Tipikal Timnas U19 ‘ .. saling oper bola  hingga ke sisi pertahanan lawan, diumpan ke tengah, hingga disambut tembakan first time oleh second line.. hasilnya, 3 gol bersarang dengan proses yang hampir sama. Itulah saat kali pertama saya mengagumi kalian ! .

Kemenangan lain di balik kekalahan

Selain kiamat, tiada bencana di dunia ini yang benar-benar menghapus semua harapan. Tiada istilah gagal total. Setidaknya ‘Pendidikan Karakter’ ala Coach Indra membuahkan hasil, itu tampak ketika usai Paolo mencetak gol ke gawang Uzbekistan, dia mengisyaratkan rekan-rekannya untuk sujud syukur meski ia sendiri beda agama. https://www.youtube.com/watch?v=EF_F4iN_y_E

Kendati mayoritas beragama Islam, namun tidak ada pengkotak-kotakan secara sekterian dan primordial di tubuh Timnas U-19. Semua pemain dibebaskan untuk mengekspresikan keyakinannya dan pemain lain yang tidak sekeyakinan didorong untuk menghormati perbedaan tersebut. Mereka semua hidup bersama dalam keberagaman yang dipenuhi toleransi.

Terdapat nama-nama yang berasal dari berbagai suku dan agama. Sebut saja Evan Dimas yang berdarah jawa dan beragama Islam, Maldini Pali; Anak Sulawesi Barat yang beragama Kristen, Putu Gede asal Bali yang tentu beragama Hindu, dan Yabes yang Katolik dari NTT. Tak lupa Ryuji Utomo, anak muda keturunan Jepang & Jawa. Sangat beragam.

Alih-alih menjadi terpecah belah, perbedaan latar belakang itu justru dijadikan sebagai model awal untuk menguatkan identitas kebangsaan.

” Indonesia ini tidak hanya kaya keragaman agama, tetapi juga terdiri atas beragam agama. Para pemain saya rekrut juga dari awal harus mencerminkan keberagaman itu, jadi timnas ini benar-benar mewakili wajah bangsa kita, ” Ujar sang Couch.

Akhir kata, meski kita pulang dengan tangan hampa, ada satu yang tetap kita banggakan; kembalinya identitas kebangsaan lewat sekelompok anak muda penerus kita. Menyadur ucapan rakyat Prancis saat menyambut kedatangan Timnas mereka usai kalah ‘kontroversial’ dari Italia di Piala Dunia 2006 :

No matter, they go home with the trophy, we go home with Zidane, it was more .. “

( Tak mengapa, mereka pulang membawa piala, kita pulang membawa zidane, itu sudah lebih..) _ _ _ Nasi sudah menjadi bubur, mari kita jadikan bubur ayam spesial.

#Keepspirit

pesepakbola-indonesia-evan-dimas-melakukan-selebrasi-usai-mencetak-gol-_131012212709-950

Refferensi :

– Republika Online

http://coachindrasjafri.com/

Iklan