Suatu ketika pada satu sesi training Chelsea seorang raja asal Italia bernama Zola melakukan tekel teramat keras. Keadaan baik-baik saja sampai ada seorang bocah ingusan bernama John Terry datang menghampiri dan membentak Zola. “Hei, itu keterlaluan, apa yang kamu lakukan? Mau mematahkan kakinya?” teriak Terry kepada Zola.

Seluruh anggota tim terlihat kaget dengan apa yang Terry lakukan. Jody Morris teman ‘nakal’ seperjuangan John Terry sampai harus berkomentar “bagaimana bisa seorang pemain ingusan seperti Terry bisa memarahi Zola didepan satu anggota tim, tidak pernah ada orang yang berani melakukan itu terhadap Zola, bahkan seorang Marcell Desailly pun tidak akan pernah melakukannya” ucap Jody Morris. Sebuah kejadian legendaris dalam sesi training Chelsea yang akhirnya harus terjadi.

Gianfranco Zola di London julukannya adalah “King” alias raja. Dia merupakan salah satu legiun asing tersukses dan disegani di seantero Inggris raya. Jika anda mencari 10 pemain asing tersukses di Liga Inggris sepanjang masa di mesin pencari google, Zola sudah pasti ada di list teratas, tidak mungkin tidak. Segala atribusi itu tidak berlaku bagi John Terry. Reaksinya terhadap tekel Zola merupakan salah satu bentuk perlawanan dan jiwa kepemimpiman yang ternyata benih-benihnya sudah ada sejak dia kecil, Terry merasa tidak ada yang salah dengan itu.

Hingga akhirnya seorang raja bernomor punggung 25 itu harus pensiun dari Chelsea untuk kembali ke Italia. Saat sesi wawancara menjelang Zola pulang kampung, jurnalis bertanya “apa pesan untuk Chelsea sebelum anda pergi?” Zola dengan tegas menjawab “Chelsea harus mulai memperhatikan potensi John Terry. Dia akan tumbuh menjadi pemain besar jika diberikan kesempatan”.

Sebuah pesan dari sang legenda yang ternyata terbukti kebenarannya. Terry bukan saja tumbuh menjadi pemain besar lagi, tetapi dia yang menyandang ban kapten Chelsea hingga kini. Memenangkan Liga Inggris setelah 50 tahun tidak pernah juara, memenangkan Liga Champions untuk pertama kalinya, lalu menjadi kapten tim nasional Inggris. Bocah ingusan yang membentak Zola pada sesi latihan itu kini benar-benar menjadi pemain besar.

Ucapan Zola adalah doa? Entahlah…

Berpindah ke bagian bumi yang lain, Hari itu di stadion Siliwangi Bandung tahun 2007. Skuad Persib asuhan seorang Moldova bernama Arcan Iiurie melakukan ujicoba melawan juniornya. Prototype pemain junior Bandung selalu sama ketika melawan tim senior dari tahun ke tahun. Bermain sopan, tidak boleh kasar, takut melakukan tekel, bangga bisa satu lapangan dengan para senior sambil sesekali berkhayal suatu saat mereka bisa di posisi para senior yaitu menggunakan jersey Persib senior. Sama halnya dengan para pemain senior. Merasa sebagai pemain senior, mereka seperti haram untuk kalah. Gengsi dan marah ketika ditekel.

Terlalu menghargai senior dan someah. Ini yang lazim terjadi jika tim junior Persib sedang berhadapan dengan seniornya. Sikap bangga akan tim ini mengalahkan rasa bahwa sebetulnya selama 90’ menit dilapangan apapun yang terjadi lawanmu adalah lawanmu yang harus dikalahkan.

Sampai pada satu kejadian dimana ada bocah kecil, botak, berlari sangat cepat dan bermain ngotot. Kemudian diketahui anak itu bernama Ferdinand Alfred Sinaga. Ferdinand hari itu bermain sangat merepotkan Patricio Jimenez, seorang libero paling stylish yang pernah ada di Persib asal Chile.

Pato Jimenez ditekuk, digocek, diajak sprint, dan yang paling membuat malu adalah Jimenez “dikolongin” alias di nutmeg oleh Ferdinand. Hal yang membuat bobotoh tertawa melihat kejadian itu. Jimenez tidak terima diperlakukan seperti itu hingga pada satu kesempatan ketika Ferdinand sedang menguasai bola, Pato berlari lalu menghajar tulang kering Ferdinand. Bukannya jatuh dan kesakitan, Ferdinand malah bangkit dan berdiri untuk membentak Jimenez, Pato yang merasa lebih senior membentak balik. Unik, Ferdinand tidak mundur sedikitpun malah maju untuk melawan. Hal paling rock n roll yang pernah saya lihat untuk ukuran bocah berumur 19 tahun. Keributan sekitar 10 menit yang harus dipisahkan oleh kedua belah tim. Partai dilanjutkan, bukannya menghindar, Ferdinand malah “menantang” Jimenez untuk kembali berduel. Alhasil keributan – keributan kecil terjadi lagi hingga akhirnya Ferdinand harus ditarik keluar untuk diganti. Bobotoh yang hadir di Siliwangi saat itu sontak meneriaki Ferdinand. Beberapa ada yang melempar dengan botol air mineral. Pemandangan yang jarang terjadi untuk sebuah partai persahabatan.

Ferdinand yang masih emosi keluar dengan hujatan dan makian dari bobotoh. Hingga akhirnya Arcan Iiurie harus keluar dari bench untuk menghampiri Ferdinand. Mulanya Arcan menyalami Ferdinand, untuk kemudian ia memeluk Ferdinand agak lama dan menepuk pundaknya. Di akhir pertandingan, pelatih beruban itu menjelaskan alasan kenapa dia memeluk Ferdinand. “Dia pemain bagus. Percayalah dia akan menjadi pemain besar” ucap Arcan Iiurie.

Waktu berlalu, tujuh tahun kemudian anak ingusan yang mengolong-ngolongi Pato Jimenez itu tumbuh menjadi penyerang asli produk Bandung yang paling produktif. Siapa pemain Bandung yang selama tiga musim terakhir rasio golnya selalu diatas 10 gol per musim di liga level top flight? tidak ada. Hanya Ferdinand yang mampu melakukannya. 10 gol di Persiwa Wamena musim 2010/2011 termasuk golnya ke gawang Cecep Supriatna di Si Jalak Harupat, Topskor IPL mengalahkan duetnya Edward Wilson Junior di Semen Padang dengan 16 gol musim 2011/2012, kemudian memproduksi 10 gol lagi bersama Persisam Samarinda di musim berikutnya. Produktif dan Stabil.

Waktu pengembaraannya sudah selesai seiring dengan panggilan pulang yang dilakukan oleh gurunya Djadjang Nurjaman. Djanur dan Ferdinand sebelumnya pernah berkolaborasi mempersembahkan emas untuk Kota Bandung pada Porda Karawang tahun 2006 dan menjuarai ISL U21 tahun 2009 bersama Pelita Jaya junior. Lebih dari itu, Ferdinand kecil sering tidur di rumahnya Djanur. Djanur sudah bukan lagi pelatih di mata Ferdinand melainkan seperti orang tuanya sendiri. Waktu untuk mematangkan di Batang, Magelang, Wamena, Padang dan Samarinda dirasa sudah cukup. Ferdinand akhirnya pulang kerumahnya, Persib Bandung. Djanur dan Ferdinand kali ini mencoba mengulang chemistry kesuksesan mereka sebelumnya di tanah yang sudah berjasa membesarkan karir mereka.

Bangga rasanya melihat Ferdinand memimpin tim ini di Inter Island Cup bersama Atep dan Tantan di lini serang. Tiga pituin yang menghabiskan masa kecil sepakbolanya di Bandung sekarang mimpinya terwujud, bermain untuk jersey biru Persib.

Saya lalu teringat omongan Arcan Iiurie di Siliwangi tujuh tahun lalu. Omomngan Arcan adalah doa? Entahlah…

Selalu ada sisi menarik dari seorang badboy semodel John Terry dan Ferdinand. Mereka berdua adalah contoh badboy yang sukses. Bandel, nakal, urakan, liar tetapi dirindukan dan diandalkan. Setelah Boy Jati Asmara, akhirnya kita bisa melihat lagi pemain yang bermain penuh semangat, meledak-ledak dan tidak takut akan apapun. Pengalamannya bermain diluar Bandung telah menguatkan karakternya. Kita melihat Boy Jati Asmara dengan level yang lebih canggih pada diri Ferdinand. Akhirnya kita bisa melihat garda terdepan orang yang maju untuk berperang dalam dirinya. Seakan melihat Will Smith dalam film Hancock, pahlawan memang tidak selalu harus berasal dari orang yang bersih suci. Ferdinand Alfred Sinaga adalah sosok anti-hero yang keren. Menjadi pahlawan dari sisi yang “kotor”.

Jika waktu memang berulang dan dejavu itu benar ada, mari berharap pada tweet Ferdinand pada tanggal 28 Januari ini: “Saya yakin Rudiyana akan menjadi pemain yang besar dan menjadi striker yang tajam untuk Persib dimasa depan…”

Omongan Ferdinand adalah doa? Entahlah…

Re-post :
http://simamaung.com/bocah-ingusan-itu-bernama-ferdinand-alfred-sinaga/

Iklan