Repost ; Oleh: Yoga Cholandha Kegagalan tim nasional (timnas) Indonesia di Piala AFF 2014 sebetulnya tak terlalu mengejutkan. Hasil buruk yang diderita timnas, khususnya dalam laga kontra Filipina, merupakan output yang sudah bisa diprediksi dari proses yang selama ini terjadi di persepakbolaan Indonesia. Ini memang lagu lama, tetapi sialnya, tidak ada upaya yang dilakukan oleh federasi sepak bola Indonesia untuk setidaknya mawas diri dan mengakui bahwa memang ada sesuatu yang salah dari sepak bola negara kepulauan ini. Menyusul kekalahan telak 0-4 atas Filipina ada dua pernyataan menarik dari dua pelaku sepak bola Indonesia. Pernyataan pertama, berasal dari Jimmy Napitupulu, ekswasit FIFA yang dalam kurun waktu yang cukup lama, sempat dianggap sebagai wasit terbaik Indonesia. Dalam wawancaranya dengan Detiksport, Jimmy berujar bahwa pemain Indonesia itu bodoh-bodoh dan banyak dari mereka yang bahkan tidak paham aturan permainan itu sendiri. Hal ini merujuk pada tendangan bebas dalam kotak penalti yang berbuah gol ketiga untuk Filipina. Kemudian, pernyataan kedua berasal dari Muhammad Nasuha, mantan bek sayap timnas Indonesia pada Piala AFF 2010. Nasuha mengatakan bahwa taktik yang digunakan Riedl sama seperti taktik yang digunakannya pada Piala AFF 2010 silam: bola-bola panjang langsung menuju target man. Jika pada 2010 Indonesia memiliki Cristian Gonzales, kali ini, mereka mengandalkan pemain naturalisasi lain, Sergio van Dijk. Inti ceritanya adalah, taktik Riedl kuno dan monoton. Hal ini kemudian diperkuat pula oleh pernyataan pengamat sepak bola kenamaan, Muhammad Kusnaeni, seperti dikutip dari CNN Indonesia. Menurut Bung Kus, sapaan akrab Muhammad Kusnaeni, Riedl salah mengoptimalkan peran target man yang diemban Van Dijk. Untuk mengoptimalkan peran Van Dijk sebagai target man, alih-alih menggunakan bola vertikal langsung ke depan, seharusnya Riedl menggunakan umpan-umpan silang dari sayap, lanjut Bung Kus. Dalam kesempatan yang sama, Bung Kus juga menambahkan bahwa tiga tim terkuat Liga Super Indonesia (LSI), Persib, Arema, dan Persipura sudah meninggalkan taktik ala Inggris era 1980-an tersebut. Ketiga tim tersebut memang dikenal mengandalkan permainan dari kaki ke kaki yang dibangun dari lini belakang, sehingga aneh rasanya jika sebuah tim nasional tidak mengaplikasikan taktik paling sukses dan populer yang ada di liganya. Padahal, contoh sukses taktik tersebut di ajang internasional sudah ada. Meski akhirnya harus kalah telak di semifinal, Persipura Jayapura berhasil mengaplikasikan taktik tersebut dengan baik di ajang Piala AFC. antarafoto-Persipura-Lolos-8-Besar-AFC-CUP-1 (Persipura Vs Yangon utd, AFC CUP ) … Riedl memang berhasil ‘mengejutkan’ publik Indonesia lewat ‘aksi menawan’ di Piala AFF 2010. Akan tetapi, satu hal yang perlu dicatat adalah ‘prestasi’ timnas Indonesia pada 2010 hanya sebagai runner-up dan hal tersebut diraih lewat dukungan fantastis publik Indonesia di kandang sendiri. Namun, federasi sepak bola Indonesia, PSSI (Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia), seperti terpukau begitu saja oleh capaian yang sebetulnya tak bernilai tersebut. Juara di ASEAN saja nilainya sudah sangat rendah, apalagi cuma finis sebagai runner-up? Alfred Riedle Publik Indonesia sendiri sebetulnya sudah kehilangan respek terhadap Riedl setelah pada gelaran AFF 2012 ia justru memimpin timnas tandingan di bawah KPSI ‘berlaga’ di Australia. Aksi Riedl tersebut seperti memberinya cap di muka bahwa ia adalah kacung kesayangan Tuan Bakrie. Tak hanya itu, aksi tersebut juga membuat publik menganggap Riedl adalah sosok yang mencla mencle. Setelah pada AFF 2010 ia mengecam keras intervensi politik praktis ke dalam timnas Indonesia, dua tahun setelahnya ia justru turun langsung menjadi bagian dari aktivitas politik praktis tersebut. Shame on you, Herr Riedl! Meski begitu, kegagalan spektakuler Indonesia pada AFF 2014 ini bukan sepenuhnya salah Alfred Riedl. Inkompetensi Riedl hanya merupakan puncak gunung es dari apa yang sesungguhnya terjadi di persepakbolaan Indonesia. Pernyataan Tuan Jimmy barangkali bisa menjadi salah satu bukti bobroknya sepak bola Indonesia secara keseluruhan. Bahwa pemain Indonesia bodoh-bodoh dan tidak paham aturan main sepak bola, ini merupakan fakta tak terbantahkan. Kegagalan para pemain Indonesia memahami aturan main dan menghormati keputusan wasit adalah buah dari buruknya proses yang ada di persepakbolaan Indonesia. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, timnas hanyalah output dari semua aktivitas persepakbolaan suatu negara, mulai dari level akademi atau SSB (sekolah sepak bola) sampai liga profesional. Jangan lupa bahwa kegagalan di satu level akan berimbas ke level selanjutnya, karena semua yang ada di sepak bola itu sistemik. Jangan lupa pula bahwa ini bukan hanya soal pemain, melainkan juga soal pengurus, wasit, dan semua pihak lain yang terlibat. FBL-ASIA-INA (Menyalakan flare saat pertandingan, salah satu tindakan indisipliner supporter klub Indonesia ) PSSI adalah lembaga yang diberi amanat untuk mengurusi sepak bola di Indonesia. Sebagai olahraga paling populer, harapan rakyat Indonesia akan sepak bola sudah jelas akan selalu tinggi. Namun, rangkap jabatan yang marak di PSSI, baik pusat maupun daerah, membuat para pengurus PSSI jelas tidak bisa mengemban tugas secara penuh karena harus membagi konsentrasinya di bidang lain. Hal ini kemudian berimbas pula pada kualitas pekerjaan yang dilakukan oleh para pengurus tersebut. Tak heran tentunya jika pengabaian, khususnya pada hal yang tak banyak mendatangkan rupiah, seperti pembinaan pemain muda, terjadi di mana-mana, secara serentak, dan merata. Padahal, contoh yang diberikan sepak bola internasional sudah tak kurang-kurang untuk Indonesia. Negara yang para penduduknya hobi menonton sepak bola luar negeri, khususnya Eropa ini, harusnya tahu bahwa pembinaan pemain muda adalah kunci prestasi tim nasional. Lihat saja Jerman, atau Spanyol, atau semua negara yang sepak bolanya berprestasi di tingkat dunia. Namun, alih-alih lewat proses panjang yang memang melelahkan dan menyakitkan, (hampir) semua hal di sepak bola Indonesia diselesaikan lewat gepokan uang. Mau main? Bayar dulu. Mau promosi? Bayar lagi. Mau juara? Bayar juga. Begitu terus seterusnya. Mental instan ini rasanya seperti sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia. Bukan hanya di sepak bola, melainkan di seluruh sendi kehidupan masyarakat. Ini pekerjaan rumah besar yang entah kapan akan bisa selesai. Masyakarat Indonesia sudah terlalu nyaman dengan hal ini dan kapan ini akan berakhir, tak seorangpun tahu. Lagu lama sepak bola Indonesia ini akan terus terdengar sampai akhir zaman apabila perubahan ekstrem tak segera dilakukan, karena kalau tidak, bermimpi ke Piala Dunia suatu saat akan menjadi sesuatu yang haram dilakukan oleh orang Indonesia. Sumber: — https://id.olahraga.yahoo.com/blogs/arena/rield-dan-lagu-lama-sepak-bola-indonesia-070744367.html

Iklan