Saat kita melihat berbagai peristiwa, seringkali yang kita jadikan referensi hanya berita tivi. Padahal sebagai umat Islam kita punya referensi tersendiri: Al Qur’an;kitab suci..

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikan bertumpuk-tumpuk*), lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia juga menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung, maka ditimpakannya itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia dikehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”. ( QS An-Nur : 43).
Tiada semua terjadi, melainkan atas kehendak-Nya
Tiada semua terjadi, melainkan menjadi ujian atau teguran atas kita;
manusia yang sombong dengan harta bendanya, kepintarannya, dan teknologi yang mereka ciptakan ..

Dimana ternyata karya mereka belum mampu menandingi karya ciptaan-Nya, yang baru sekumpulan awan dari jutaan kumpulan awan di angkasa
Subhanalloh.. wastagfirulloh al’adzim.

*) Dalam istilah Meteorologi, awan yang bertumpuk-tumpuk dikenal dengan nama Awan Cumulonimbus; awan vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan terjadi saat badai petir dan cuaca dingin lainnya. Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer. Pesawat tak akan bertahan di dalam pusaran awan cumulonimbus yang sangat dingin dan bermuatan petir. Karena bila butiran es-nya masuk ke engine maka dapat menyebabkan engine mati, dan membuat pesawat layaknya kertas yang diombang-ambing angin.

NB:

17 poin dalam kecelakaan AirAsia QZ8501

1. Pesawat dalam kondisi layak terbang dan dioperasikan dalam batas-batas berat dan keseimbangan.

2. Semua awak pesawat punya lisensi yang masih berlaku dan punya medical sertificate yang masih berlaku.

3. Second in command/kopilot-lah yang menerbangkan pesawat itu. Sedangkan kapten pilot sebagai pilot monitoring.

4. Pesawat tersebut menjelajah di ketinggian 32 ribu kaki. Pada pukul 23.11 GMT (06.11 WIB), terjadi kontak awal dengan ATC Jakarta. Pilot menginformasikan bahwa pesawat itu sedang berbelok ke kiri dari jalur M-635.

5. Terdeteksi radar Jakarta saat belok pukul 23.12 GMT (06.12 WIB), pilot minta kemungkinan flight level lebih tinggi ke 38 ribu kaki.

6. ATC Jakarta katakan standby. Tunggu dulu.

7. Pukul 23.16 GMT (06.16 WIB), ATC mengizinkan naik ke 34 ribu kaki.

8. Pada saat kejadian, tersedia informasi satelit cuaca yang menunjukkan ada formasi awan kumulonimbus (Cb) dengan puncak awan mencapai 44 ribu kaki.

9. Posisi terakhir pesawat ditunjukkan layar ATC Jakarta ada pada koordinat LS 03.34’48” BT 109. 41’50,47″. Ketinggian pada 24 ribu kaki. Posisi telah bergeser belok kiri.

363304_620
10. 30 Desember, Basarnas menemukan jasad dan beberapa bagian pesawat yang terapung.

11. Tanggal 9 Januari, bagian cukup besar, yakni ekor, ditemukan.

12. 12 Januari, flight data recorder (FDR) atau bagian black box ditemukan. FDR tersebut dibawa ke Jakarta dan esok harinya sudah berhasil diunduh merekam 1.200 parameter dan 147 jam rekaman suara.

13. 13 Januari, cockpit voice recorder (CVR) ditemukan koordinat LS: 03.37’18,1″ BT: 109.04. 42″ 42,2″. CVR ini merekam dua jam terakhir penerbangan AirAsia. Kondisi rekaman bagus.

14. Recorder itu dibaca dan diunduh di lab milik KNKT. Tahap persiapan, pelaksanaan, hingga unduh dilakukan dalam kurun waktu sebelas jam.

15. Data CVR dan FDR menunjukkan, sebelum kejadian, pesawat tersebut menjelajah dengan stabil pada ketinggian 32 ribu kaki.

16. Data rekaman FDR dan CVR berakhir pada pukul 23.20 UTC (Universal Time Coordinate/Greenwich Mean Time 06.20 WIB)

17. Hingga tanggal 27 Januari, 70 jenazah ditemukan.

18. Evakuasi dan pencarian diteruskan dan akan di-update perihal data-data, serta akan dicantumkan dalam laporan akhir.

http://www.tempo.co/read/news/2015/01/31/090638943/18-Temuan-KNKT-QZ8501-Hadapi-Awan-44-Ribu-Kaki

Iklan