Kalau dipikir-pikir, tak teganya rasanya mendidik dia terlalu keras. Bagaimana tidak, sebagai anak terakhir, juga yang terakhir masih sekolah, perempuan pula.. secara adat, berhak rasanya ia DIMANJA. Tapi, begini lah kami adanya, beginilah yang kami mampu. Tak disangka, ia tegar menghadapi semua.

Berikut tulisannya yang membuatku menitikan air mata, tak sengaja kubaca saat mengirim persyaratan JALUR BIDIK MISI ke situs Universitas Padjajaran, Bandung.. makin terharu, karena ini juga hampir cita-citaku dulu.

PERJALANAN HIDUPKU

Perkenalkan namaku…Garut..17 tahun…

Saya berasal dari keluarga besar. Saya anak bungsu dari 12

bersaudara. Bapak saya berusia 72 tahun beliau dikenal sebagai

seorang ustadz, dan untuk menunjang kebutuhan ekonomi keluarga

beliau hidup bertani. Sedangkan ibu saya berusia 64 tahun sebagai ibu

rumah tangga dan seringkali ikut menemani bapak bertani di sawah.

Orangtua selalu mengajarkan hidup sederhana, saya dan kakak-kakak

saya selama sekolah tak pernah mengenal yang namanya uang jajan.

Saya berangkat sekolah dengan menggunakan angkutan umum, uang

saku yang saya dapatkan setiap hari tidak lebih 5000 rupiah, hanya

cukup untuk dua kali naik angkutan umum pulang dan pergi. Oleh

karenanya, saya diharuskan bisa mandiri dan tidak bergantung kepada

Orangtua dalam hal keuangan jika saya diberi kesempatan untuk dapat

melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan nanti.

Saya paham jika Orangtua hanya mampu memberi kami biaya

pendidikan sampai batas jenjang SMA. Akan tetapi semangat saya

tidak pemah kalah oleh kondisi dan lemahnya kemampuan Orangtua

saya dalam membayar biaya pendidikan.

Saya sangat bersyukur Allah SWT titipkan saya dalam keluarga

yang memiliki wawasan Islam yang cukup kentara, di sekolah dan

diluar sekolah pun saya aktif dalam organisasi kerohanian Islam.

sehingga hal itu cukup membentuk karakter pribadi saya untuk

menjadi perempuan yang sangat sadar akan syariat Islam. Saya

diajarkan untuk tidak berpacaran. Selain karena didalam Islam tidak

mengenal adanya pacaran, saya ingin bisa fokus terhadap pendidikan

terlebih dahulu. Selain itu, tentu karena saya masih tergantung

terhadap orangtua, maka sudah sepatutnya saya membahagiakan

mereka dengan tidak memikirkan orang yang spesial terlebih dahulu.

Untuk hal yang berhubungan dengan pekerjaan, keluarga saya

mayoritas terjun dalam bidang pendidikan. Akan tetapi harapan saya

kelak dapat menjadi seorang sarjana dalam bidang Teknologi

Pertanian. Saya tertarik dalam bidang tersebut karena Orangtua saya

adalah petani, profesi tersebut ditekuni secara otodidak sehingga

kuantitas dan kualitas hasilnya pun bisa dengan ruang lingkup

pemasaran yang kecil dengan kualitas konsumsi kalangan bawah. Hal

ini tentu sangat menginspirasi saya untuk membantu Orangtua saya

untuk dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas pertanian

mereka, terlebih lagi saya berharap mampu memberdayakan dan

mengolah hasil pertaniaan dengan melakukan aktivitas wirausaha

dibidang pengolahan hasil pertanian secara kreatif dan inovafif.

Selain saya bisa membatu orang tua, ketika saya menjadi

pengusaha “rumahan” kelak, waktu yang tersita pun tidak terlalu

banyak, sehingga saya memiliki cukup banyak waktu untuk mengurus

Orangtua saya yang sudah sering sakit karena faktor usia mereka yang

mulai renta.

Salah satu nasehat mengenai anak yang selalu saya ingat

adalah “Anak merupakan amanah yang akan dimintai

pertanggungjawabannya”. Apapun yang dilakukan anak tidak akan

mampu menebus jasa orangtua saat ia kecil. Mereka tidak akan pernah

berhenti memikirkan anaknya kapanpun, dan dimanapun ia berada.

Sedangkan anak, belum tentu ia memikirkan kedua orangtuanya. Hal

ini pulalah yang meyakinkan saya untuk memperhatikan orang tua.

Ajaran Orangtua saya mengenai kesederhanaan hidup dan

keberkahan hidup terhadap saya dan kakak-kakak saya akan selalu

saya ingat dan jika kelak saya menjadi seorang ibu. Saya akan didik anak-anak

saya pula untuk hidup beriman, berislam dan sederhana, tidak

tergantung pada orang lain, namun justru bisa membantu yang lain.

Sehingga, jika saya meninggal maka saya mempunyai investasi

terbesar dalam hidup yakni anak-anak yang sholeh dan sholehah yang

bisa mendoakan keselamatan saya diakhirat sana. Karena hidup pada

hakikatnya bukanlah tujuan tetapi sebuah perjalanan .

Ya, begitulah yang kami ajarkan padanya, bahwa sesulit apa pun kondisi yang dihadapi pendidikan nomor satu. Karena ilmu lah yang akan memberi ketenangan dalam susah ataupun senang.. dan ilmu lah yang akan memberimu petunjuk dalam keadaan berhasil maupun terpuruk.

Yang sabar ya, dik?! Do’a ku selalu menyertaimu. *_*

[ ]

Iklan