= = = = = =

S.SAHALA

Oleh :

S.SAHALA TUA SARAGIH

Dosen Prodi Jurnalistik, Fikom Unpad
= = = = = =

BANYAK orang muda Sunda
mengaku USA (urang Sunda `
asli). Ayah-bunda mereka
niscaya USA Mereka lahir dan
besar di Jawa Barat.” Akan tetapi
mereka tak bisa berbahasa
Sunda. ‘

“Ya, saya mengerti tapi tidak
bisa mengucapkannya/ `ujar
seorang mahasiswa geulis
tersenyum bangga.

”Mengucapkannya mah
Pake mulut atuh. Apa susahnya,”
tanggap saya heureuy tersenyum.

Baheula mah para’ tokoh
pejuang kemerdekaan Indone
sia yang menikmati pendidikan
tinggi di luar negeri, terutama
Eropa Barat, menguasai
beberapa bahasa  asing (interna-
sional). Ketika kembali ke ‘
Tanah Air mereka tetap ‘
menguasai bahasa ibu (bahasa
daerah) masing-masing. Bahkan
banyak di antara mereka yang
sangat fasih berkomunikasi i
dalam beberapa bahasa daerah;
Tentu saja mereka bukanlah
Sarjana-sarjana bahasa atau
Sosiologi-antropologi.

Pada tahun 19704an hingga
1980-an penulis mengamati `
bahasa mahasiswa di berbagai ,
kampus di Bandung. Umumnya
mereka fasih berbicara dalam
bahasa ibu (daerah) masing-
masing. Akan tetapi
keadaannya sudah berbalik
hampir 180 derajat.

Di ruang kuliah saya sering
bertanya kepada para mahasis-
wa, siapa yang mampu berbaha-
sa daerah? Dari 30 – 40 mahasiswa
di satu kelas, yang mampu
berbahasa daerah dalam
komunikasi lisan dan tulisan
rata-rata lima orang saja. Ironis-
nya, tak sedikit orang Sunda,
misalnya, yang lahir dan besar
di Bandung dan sekitarnya,
ternyata  mampu berbahasa
Sunda. Mereka mengungkap-
kan bahasa keluarga mereka di rumah
bahasa Indonesia. Padaha,ayah bunda mereka
sehari-hari berbahasa sunda di rumah.Hal yang sama
juga di alami banyak mahasiswa yang mengaku
orang jawa,Batak( yang lahir dan besar di sumatera utara),
Minangkabau,dan beberapa suku bangsa lainnya.
Hanya sedikit kosa kata bahasa ibu orangtua mereka yang dipahami
Hasil penelitian
budayawan Sunda, Tatang sumarsono
yang berjudul, Sikep masyarakat sunda
kana Basa Sunda ‘
(2002) mengungkapkan, hanya
sekitar 35,4 persen keluarga
Sunda yang menggunakan
bahasa Sunda sebagai bahasa
utama dalam komunikasi sosial
sehari-hari, 47 persen berbahasa
campuran Sunda-Indonesia, 64
persen berbahasa Indonesia
saja, sebanyak 1,6 persen .
berbahasa campuran Sunda-
]awa-Indonesia dan 8,8 persen
berbahasa campuran Sunda
Indonesia-Inggris.

Ini dikuatkan pula dengan
agak sulitnya ditemukan
keluarga Sunda di Jabar,
khususnya di Kota Bandung,
yang setiap harinya berbicara –
dalam bahasa Sunda di lingkungannya
. Ia mengakui, sekarang bahasa sunda
sudah tidak begitu laku di Jabar.
Bahkan di kalangan etnik Sunda
sendiri atensi-potensi bahasa,
sastra dan aksara Sunda kini bisa
dikatakan tidak terpelihara dan di kembangkan
lagi. Bila keadaan yang demikian dibiarkan terus,
tidak mustahil bahasa, sastra,
dan aksara Sunda musnah alias
mati tanpa bekas seperti yang
dialami oleh banyak bahasa, di
dunia.
Gejala yang lebih menarik,
bahkan ekstrem, sejak beberapa
tahun yang lalu di Jakarta dan sekitarnya
banyak orang tua muda yang
mengangap dirinya modern,
menyapa anak mereka –
sejak bayi dalam bahasa Inggris. ~
Padahal, dilihat .dari status sosial-
ekonomi, sesungguhnya .
mereka berasal dari keluarga
kelas bawah/ tengah yang
tinggal di pinggiran kota, di
gang-gang sempit. Akan tetapi
setelah mereka lulus dari
perguruan tinggi negeri

ternama, lalu bekerja di perusa-
haan-perusahaan multinasional,
dalam tempo relatif singkat _
kelas sosial-ekonomi mereka
melompat cukup tinggi.
Lalu mereka mengidentifikasi diri
sendiri sebagai manusia terpela-
jar dan modern, sehingga anak

, kandung harus disapa dalam
bahasa Inggris sejak bayi,
bahkan sejak dalam kandungan.
Mereka menyekolahkan
Anak – anak mereka sejak
Kelompok Bermain atau Taman
Kanak-kanak yang mengguna-
kan bahasa Inggris sebagai
bahasa pengantar. Mereka `
sangat bangga mampu menye-
kolahkan anak-anak mereka ke
sekolah-sekolah berlabel
international. Sejak bayi anak-
anak mereka diberi mainan dan
tontonan yang semuanya `

‘ bérbahasa Inggris. Semua
` perangkat rumah tangga juga’
disebut dalam bahasa Inggris. ~
Dengan kesadaran dan kebang
an yang sepenuh penuhnya,bahasa inggris
mereka jadiakan sebagai
bahasa ibu anak-anak
kandung mereka. Dengan
harapan  kelak anak-anak
mereka bisa kuliah di universi-
tas-universitas internasional
ternama di luar negeri
Fenomena yang lebih ekstrim
lagi, anak-anak mereka diajar
menyapa kakek nenek kan-
dun , paman, bibi, dan sanak
– saudara dalam bahasa Inggris
pula. Sejak bayi anak mereka
diajar menyapa nenek grandma
(grand mother), kakek disapa
grandpa (grand father), paman
paman di sapa ( uncle ) bibi disapa anti ( aunty)
dan setereusnya.
Para orang tua muda yang tergolong`
snobistis atau angk uh itu
benar-benar mengajar dan mendidik
anak-anak mereka seolah-olah
tak berpijak di bumi Indonesia.
,Mereka menjadi manusia
ahistoris dan  antitradisi serta
kebudayaan asli daerah orang

‘ tua kandung mereka. Padahal,
para kakek-nenek. yang
dianggap tradisional itu sangat
rindu disapa oleh cucu-cucu
mereka dalam bahaSa daerah
masing-masing, misalnya, aki-
nini (Sunda) atau eyang atau
mbah (Jawa) atau ompuñg (baca:
oppung) (Batak Toba dan Batak
Simalungun).

‘Yah, apa boleh buat, yang
berkuasa dalam rumah tangga
abad 21 tersebut adalah ayah
ibu yang menganggap diri
sebagai manusia
terpelajar dan modern. gara-
gara sapaan dalam bahasa
Inggris kepada kakek -nenek
kandung, kerap sekali hubung
an` keluarga antara Orangtua
`(kakek-nenek) dengan anak ‘
dan menantu menjadi retak
atau renggang. Para ‘kakek-
nenek itu marah besar
kepada anak dan menan-
tu masing-masing karena
sikap sok “modern” dan
angkuh mereka. Sayang nian
mereka tak mengetahui sejarah
para tokoh besar pejuang
merdekaan republik ini,
Mereka tak mau berguru-
kepada nenek moyang yang
prestasi dan kualitasnya jauh di
atas mereka sendiri.
Dapatlah kita bayangkan dan
. perkirakan bila jumlah orangtua
‘ ”modern” dan snobistis seperti
ini terus meningkat di negeri ini.
Jangankan berbahasa daerah,
berbahasa’Indonesia pun cucu-
cucu, generasi muda Indonesia
abad 21 itu, pasti terbata-bata.
Mereka bagaikan orang asing di
negeri sendiri. Entah di bumi
mana mereka berpijak, Bahasa
.ibu anak-cucu kita adalah bahasa
, Inggris. Mereka sangat bangga
tak mampu berbahasa daerah
sama sekali dan terbata-bata
berbahasa Indonesia.
Oleh karena itu dapatlah
dipastikan, semakin lama
semakin sedikit pengguna
bahasa-bahasa daerah di Tanah
Air. Niscaya pula semakin lama
semakin banyak bahasa daerah
yang MPP (mati pelan-pelan)
alias Dahulu kita , .
memiliki 743 bahasa daerah
namun kini sebagian besar (60 persen) sudah punah x
‘Apakah anak-cucu kita itu
peduli terhadap tragedi budaya
ini? Tentu saja tidak. Lalu siapa
yang masih peduli terhadap bahasa-bahasa
daerah, di tanah air pemerintah pusat dan daerah.serta media masa
seharusnya menjadi pihak yang

‘ paling peduli dan bertangung
jawab dalam pelestarian harta
asli bangsa kita ini.Haruslah disadari,
kepunahan bahasa bahasa daerah
niscaya diikuti kepunahan
budaya pula,dan
pada akhirnya kepunahan masyarakat.
Bahasa daerah
adalah refleksi dan jati diri yang ‘

paling kokoh dari sebuah
budaya. Oleh karennya, upaya `
serius dalam menyelamatkan
bahasa-bahasa daerah perlu
segera dilakukañl sehingga
Indonesia tetap menjadi negara
bhineka tunggal ika, Media
massa nasional dan lokal – kalau
mau dan peduli – bisa berperan
besar dalam penyelamatan .
bahasa-bahasa ibu (daerah) di
tanah Air.

= == =

Referensi :

Harian Umum Pikiran Rakyat, 22/02/2016

Iklan