Dialog Pagi TVRI bersama Bpk.Bimo Sasongko_Sekjen Alumni Ikatan Program Habibie

Minggu, 5 Juni 2016

 

 

-dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Eropa (MEA) yang mulai masuk 2016 ini kita perlu akan SDM yang handal, diantaranya pelajar-pelajar yang siap mengikuti Student Exchange. Persaingan yang akan kita hadapi bukan hanya antara sesama, tetapi juga dengan orang luar

-Bank-bank di Malaysia ada yang namanya agunan pendidikan, dimana seorang pelajar boleh meminjam untuk bea kuliahnya, nanti setelah lulus s/d bekerja diangsur dengan gaji di kantornya

-kita mh pinjamana bank kebanyakan untuk konsumtif

-Student Exchange jangan mengirim yang ‘tua-tua’ karena daya serap/gerak mereka dikhawatirkan terbatas, pun program S1-S3 di luar negeri banyak yang sudah gratis. Jadi yang pasca sarjana pake biaya sendiri lah, anggaran pendidikan buat mereka yang muda2 saja.

Nb: bagusnya juga program studi banding DPR diminimalkan, apa yang bisa diingat dari kunjungan beberapa hari/jam di suatu negara selain aji mumpung bisa liburan dengan fasilitas negara. Lebih baik mengundang mereka yang sedang belajar/ bekerja di negara tujuan studi banding untuk bertemu di suatu forum,lalu dimintai pendapat-pendapat/ pemikirannya. Mereka mungkin lebih paham.

-percuma kuliah bertahun-tahun kalo tak punya kepercayaan diri, ketemu orang asing langsung minder. Padahal mereka tak sehebat yang dibayangkan.

-sayang banyak sekolah-sekolah bahasa yang tutup dalam kurun waktu 10 tahun ini. Tinggal bahasa inggris, itu pun banyak yang dibawah standar

-Padahal negara-negara maju sudah mulai mengirim anak-anak mudanya ke pusat-pusat peradaban dunia

-boleh mendatangkan dosen dari luar (import), syaratnya: mesti berkualitas, difasilitasi, dan mampu membimbing muridnya dalam pelaksanaan Student Exchange

-Konsep Brain Drain ( dalam artian para sarjana yang tak mau lagi kembali ke Indonesia) tak perlu dibesar-besarkan. Ini jaman globalisasi, kita masih bisa saling berhubungan meski terpisah jarak. Mereka tentu saja ingin kembali ke tanah airnya, namun kurangnya fasilitas membuat mereka takut keahliannya menjadi tidak optimal.

*

masyarakat-ekonomi-asean

 

Iklan