Usai menyaksikan episode terakhir musim ke-3 kemarin, ada perasaan gembira bercampur sedih.. gembira karena tim animonsta telah merampungkan kerja kerasnya setahun ini, sedih takut tak ada sequel lanjutannya lagi .

>

>

Kuharap bukan saya saja orang dewasa peminat film ini, alasan saya sederhana; saya seorang pekerja keras, dan film ini begitu ‘easy listening’; saya pria berumur 30, kurang suka dengan film dengan plot yang begitu rumit.

Sebelumnya perlu dicatat mengenai perbedaan kartun dengan anime .. kartun lebih mengedepankan pada grafis dan bagaimana untuk menarik perhatian anak-anak meski kadang-kadang  terlihat sedikit konyol ..sekedar membuat rilex pikiran Anda. Sedang anime lebih maju dari itu.. lebih berhubungan dengan plot, pengembangan karakter , efek 3 D. Sebenarnya Malaysia  sebelum ini sudah punya upin ipin, namun nampak hearts concept nya lebih ditujukan kepada tema budaya , sedang Boboiboy LEBIH ditunjukan kepada aksi, pengembaraan, dan fiksi. Sebelumnya saya pikir ini sama saja, Tetapi setelah menonton beberapa episode ternyata berbeda. Dan saksikan episode terakhir tadi..when boboiboy have battle with Capt. Kaizo it seems like real anime !!

Saya pikir Boboiboy tak hanya nomor satu di Malaysia .. tapi juga disini; Indonesia. Sungguh baik jika kita bangsa melayu akhirnya punya ikon animasi tersendiri. Jepang punya Naruto, Amerika punya Marvel, dan kita punya; BoBoiBoy. Ya, setelah bertahun-tahun diserbu budaya luar (K-pop,boyband,manga,marvel,dsb) tanpa perlawanan yang berarti, kita akhirnya mampu tunjukan kepada dunia bahwa kita bisa.

Bila dikaitkan, sebenarnya Boboiboy sendiri terinspirasi dan dipengaruhi oleh anime Jepang sebagaimana diakui oleh sang produser NIZAM RAZAK. Alasan ia membuat jenis animasi adalah untuk mengingat kembali/ menghadirkan masa kanak-kanak, dimana era 80/90­-an bagi anak­-anak anime begitu terasa .. (tahu lah anak jaman sekarang SD-SMA lebih suka film yang tak mendidik, yang tak sesuai dengan usia mereka; tidak perlu saya sebutkan disini).

Dibandingkan dengan Naruto, juga One piece yang terkendala dengan beberapa konten yang dianggap vulgar hingga pernah masuk daftar pencekalan, Nizam membuat langkah yang lebih baik.  Ia ingin tayangan ini diminati oleh semua usia, berkelanjutan dan tak tanggung-tanggung Go International. Dengan team work yang ia miliki, sayayakin semua itu bisa segera terwujud.. amin.

>

>

Begitulah, beberapa orang memiliki mungkin ide­-ide yang sama tapi itu terserah hasil akhir bagaimana mereka mempresentasikan ide­-ide mereka dalam bentuk sebuah karya utuh yang mampu memenuhi permintaan pasar yang ada.
Demikian, semoga menginspirasi .

 

NB:

Maaf, bukannya saya anti karya2 luar tersebut, bahkan saya seorang penggemar anime sejak kecil hingga buku pelajaran SD saya dipenuhi coretan/ gambar Saint Seiya, Spiderman, Power Ranger, dsb. Ini lebih sebagai kritik halus agar kita tidak menjadi penonton/objek pasar semata tetapi harus ada timbal baliknya. Pertukaran budaya itu saling melengkapi, bukan mendominasi. Please review post sebelumnya Menuju Indonesia Maju 2030. Tvm.

 

 

 

 

 

Iklan