mudik

Meski hati tersentak oleh kabar meninggalnya beberapa pemudik yang terjebak kemacetan, dimana udara panas & panjangnya antrian membuat kondisi tubuh mereka drop hingga menyebabkan kematian. Mari kita melihat dan mengakui bahwa rutinitas tahunan ini secara sosiologis, mampu meningkatkan ketahanan bangsa

Bangsa yang kuat tercipta dari keluarga yang kuat, keluarga yang kuat tercipta dari pribadi yang kuat. Berarti masing masing kita adalah penentu kekuatan sebuah bangsa.Membuat desain kekuatan bangsa tidak akan lepas dari peran kita selama ini, jika kita abai dengan budaya hidup berkeluarga, bersifat cuek, masa bodoh dan tidak peduli sesama anggota keluarga maka persatuan keluarga akan terancam, maka jika ini secara keseluruhan dialami sebuah bangsa maka akan tercipta kelemahan sebuah bangsa.

Sehingga silaturrahmi menjadi perekat dan menciptakan ketahanan bangsa.Paling mudah jika kita masing masing keluarga mengalami perpecahan,pertikaian dan itu terjadi secara massal maka tentu akan melemahkan ketahanan bangsa secara keseluruhan. Silaturahmi mampu mengajarkan kita tentang nasionalisme, meski berawal dari lingkup yang kecil; kedaerahan;kampung halaman.

pemudik yang datang pun,bila punya sifat dermawan,jika mereka memberikan dana tali asih kepada sanak famili.Nah ketika tali asih tersebut dibelanjakan dilingkungan desa setempat, maka akan tergerak pula sektor perekonomian.

Nah yang paling terasa ialah pemudik ini juga menjamin kelangsungan pendidikan keluarga yang ditinggalkan sebagai bukti sikap kepeduliannya dan menunjukkan kesuksesannya menjadi pekerja di Ibukota. Misalnya dengan memberikan beasiswa, biaya pendidikan, biaya sekolah bagi para anggota keluarga, sanak famili, keluarga besarnya. Lebih lanjut, mereka terkadang sanak saudaranya yang belum mapan untuk ikut bekerja bersama mereka, sehingga timbul pula regenarasi pekerja yang  akan mendukung  laju perekonomian.

Dari sinilah, bermula dari suatu komunitas yang kuat.. tentunya dengan menyaring budaya negatif yang ikut terbawa ke desa.. lahirlah masyarakat yang kuat. Dan dari masyarakat yang kuat lahirlah pula bangsa yang kuat.

Mendukung hal ini, ada tuntunan Al-Quran dalam usaha kita menjalani kehidupan dalam suatu komunitas :

afwa

”Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah orang-orang yang bodoh

(QS Al A’raf, 7: 199).

Jika dialihbahasakan, ayat tersebut memiliki makna:

  • Jadilah pemaaf ; jangan emosional/ temperamental, apalagi mendendam.

Penelitian para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa orang yang mampu memaafkan akan lebih sehat jiwa dan raganya. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakitinya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara kejiwaan tetapi juga fisik. Gejala-gejala psikosomatis seperti sakit punggung akibat stres, tekanan jiwa, susah tidur dan sakit perut jadi berkurang pada orang-orang ini.

  • suruhlah orang mengerjakan yang makruf; saling koreksi.

Sungguh indah kata ini dikaitkan dengan perintah untuk menjadi pemaaf. Mengisyaratkan bahwa sikap untuk mengkoreksi harus didasari sikap memaafkan.tanpa itu, koreksi/kritik terhadap seseorang hanya bermaksud untuk MENJATUHKAN bukan meluruskan. Telah lumrah hal ini kita saksikan di media2 sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari

  • berpalinglah orang-orang yang bodoh; jangan dipedulikan, jangan sami mawon

Sudah dari sananya bahwa dalam hidup ini kita akan dikelilingi orang2 yang kadang rendah tingkat berpikirnya, rendah visi-misi hidupnya. Tak lain karena hidup ini ujian semata.

Kita berbuat baik,diomongin.. berbuat salah apalagi. Mereka orang bodoh, tapi tak sadar bahwa dirinya bodoh.Menghadapi orang-orang seperti ini kita mesti ekstra bersabar, lebih banyak memberikan bukti daripada melayani ocehannya.

Bahkan seorang imam ahlu sunnah, Imam As Syafie berkata :

Aku sering berkawan dengan orang pintar, dan aku mampu mempengaruhi mereka.

Dan aku sering berkawan dengan orang bodoh, tapi bukannya mempengaruhi, malah aku yang dipengaruhi oleh mereka.

Aku sering berdebat dengan orang pintar dan aku tak pernah kalah.

Dan aku sering berdebat dengan orang bodoh, dan aku tak pernah menang.

 

 

Demikian, semoga terinspirasi dan membawa manfaat.

Walllohul musta’an.

 

Ref:

-Muhammad Ab_ kompasiana.com/magungb

-khutbah I’edul fitri 1437 H, at Kp.Biru Desa Situjaya Kec.Karangpawitan-Garut.

 

Iklan