bila orang Persis ditanya ” bacaan iftitahnya apa?”

” allohumma ba’id..” “Kenapa tidak wajjahtu?..”

“itu bacaan tahajjud” ” suka tahajjud?”

“suka” “cba bacakan wajjahtu..” “..(gk hapal)”

— — —

“ustadz knapa sekarang menempel al adzkar (bacaan ba’da sholat) di mesjid, bukannya itu kebiasaan orang NU ”

” apa,ini kebiasaan Nabi,cuma NU lebih dulu mengamalkan dari kita”

— — —

“knp selesai solat jenazah tidak salaman?”

“itu kebiasaan NU”

“lalu kenapa selesai solat idul fitri salaman, bahkan sejalanan pulang?

ingatlah mau selesai salat wajib,salat id, maupun solat lainnya salaman itu tidak dicontohkan nabi…itu atsar (perbuatan) sahabat dg pertimbangan etika.. begitu jg ucapan “taqobbalollohu minna wa minkum” yg dianggap lebih baik dari “minal aidin wal faizin”..pdhl semua itu sama dalam serangkain kalimat yang panjang (silahkan search ..)

juga seperti halnya budaya ucapan pengantar dan penerima dalam pernikahan, dsb itu tidak dicontohkan Nabi..bukankah banyak kelurga Persis sendiri yang melakukannya? karena rukun nikah itu cm 4; wali-saksi-kedua mempelai-ijab kabul.. bila dihitung, 1o menit juga selesai.Tapi macam apa acara nikah cuma 10 menit ?? sekali lagi; etika..

Ingatlah agama tidak datang untuk menentang budaya,karena budaya adalah hasil cipta ide & rasa manusia dalam memahami perjalanan hidupnya.Ia hanya menentang hal yang tak sesuai dengan petunjuk Tuhan nya, karena Dia yang lebih tahu apa yang terbaik bagi mereka, sedang ide & rasa sekedar menerka-nerka.

— — —

sebentar lagi Pilkada, janganlah pula kita jadi korban disini.. politik itu termasuk fiqih, bab siyasah.. dan fiqih itu tidak ada yang final. selama calonnya masih sama-sama muslim, jangan saling menjelek kan.. yang membuat kita makin tercerai berai.

ingat firman Alloh Swt tentang yahudi & Nasrani :

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

Mereka tidak akan memerangi kamu dalam Keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. ( Al Hasyr : 14 ).

Ibnu Katsir menjelaskan : Mereka pada dasarnya bersifat pengecut dan was-was. Mereka tidak berani  perang tanding atau berhadapan langsung, tetapi dengan berlindung di dalam benteng atau dibalik tembok dalam keadaan terkepung. Mereka berperang karena terpaksa guna mempertahankan diri (di masa kini dipahami dengan berlindung dibalik persenjataan hebat / tank-tank & pesawat yang kuat).

Selanjutnya .. padahal hati mereka bercerai-berai, At Thabari  menjelaskan ”Mereka berkumpul tetapi tidak dapat disatukan. Karena orang yang tegak di atas yang batil itu berbeda pendapat mereka, berbeda kesaksian mereka dan berbeda Pula keinginan-keinginan mereka (politik,ekonomi, jabatan,dsb). Mereka hanya bersatu dalam satu hal saja, yaitu memusuhi kebenaran. ” .

— — —

namun kita rasanya lebih buruk lagi.. mereka masih berkumpul meski beda kepentingan, kita; tubuhnya bercerai-berai, hati pun juga.. tahsabuhum satta waqulubuhum satta…

 

alhamdulillah, dengan dibentuknya koalisi Annas (Anti syiah nasional) tahun kemarin semua ormas islam di indonesia makin sadar akan pentingnya persatuan dan ukhuwah, makin sadar siapa yang harus dimusuhi sebenarnya.

 

— – –

 

Asep Suryana,S.ag.

Mimbar jum’at, Mesjid Asy Syifa-Desa Situsari

Kecamatan Karangpawitan-Garut.

 

 

Iklan