Murid: Pak, saya punya dua pertanyaan, yang pertama adalah, kenapa sih Tuhan menguji Ibrahim dengan menyuruhnya mengorbankan anaknya? kenapa bukan istrinya, atau mengujinya dengan tugas yang lain saja? Kedua, kenapa kita disuruh mengorbankan binatang ternak? bukankah hal ini mirip dengan pengorbanan suku bar-bar jaman dulu?

Guru: Nak, kalau pertanyaan “kenapa Allah …” itu sebenarnya hanya Allah lah yang lebih tahu jawabannya. Namun bapak bisa berkhusnudzon kepada-NYA untuk menjawab pertanyaan kamu.
Pertanyaan kamu yang pertama, mungkin maksud Allah adalah ingin menaikkan derajat Ibrahim ketingkat IHSAN. Orang orang muhsinin itu adalah orang orang yang melakukan Kebajikan tingkat tinggi. Tidak semua orang dapat melakukannya. Salah satu Contoh Kebajikan tingkat tinggi ini adalah menafkahkan/memberikan sesuatu yang kita sukai/cintai dengan bersandarkan kepada ridho Allah.

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya“. (QS 3:92)

Nah, yang paling dicintai Ibrahim saat itu adalah anak laki lakinya Ismail. Ingat bahwa Ibrahim jauh jauh hari sudah sangat ingin punya anak, sampai-sampai Istrinya Sarah, yang melihat keinginan suaminya, merelakan suaminya untuk menikahi Hajar agar memiliki anak. Nah ketika Ismail lahir, maka Ismail inilah yang sangat di cintai oleh Ibrahim. Karena itulah mungkin Allah menguji Ibrahim dengan menyuruh mengorbankan Ismail yang sangat dicintainya. Mungkin juga sebagai pengingat kepada Ibrahim bahwa semua yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Allah, termasuk anak. Dan Ibrahim memang orang yang muhsinin, karena dia mengorbankan apa yang paling dicintainya dengan berharap ridho Allah.
Sedangkan pertanyaanmu yang kedua, jawabnya adalah TIDAK SAMA antara kurban kita dengan kurban-kurban yang kamu sebutkan tadi. Kurban mereka memang diperuntukkan untuk dewa-dewa mereka. Jadi kalau mereka mengurbankan hewan, maka artinya hewan itulah yang diperuntukkan bagi dewa mereka; ditinggalkan di tempat pemujaannya. Sedangkan kita, berkurban itu bukan hewan ternaknya yang kita peruntukkan untuk Allah, tetapi ketaqwaan kita dalam berkurbanlah yang kita sampaikan pada-NYA. Makanya daging kurban itu kita bagi-bagi kepada yang berhak menerimanya, karena bukan daging-daging itu yang kita persembahkan untuk-NYA.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik“. (QS 22:37)

Source : https://www.facebook.com/murtadha.kurniawan_11/2011

14237519_1173702012692275_3321461201631664093_n

NB: Iedul Qurban  1437H; Kp.Sukamukti Ds.Situsaeur Kec.Karangpawitan-Kab.GArut

Iklan