Archive for April, 2017


Posting ini merupakan tanggapan pribadi saya atas tulisan yth. Mudy Situmorang terkait pernyataan Pdt. Dr Ir Mangapul Sagala, MTh. (link Surat terbuka ) –yang saya rasa penting untuk dibahas karena tak hanya menyangkut dr. Zakir Naik tapi juga penceramah-penceramah serupa yang mungkin kedepan akan singgah ke negeri ini. Tak lain tak bukan agar kita dapat menjaga kerukunan antar umat beragama dalam hidup berbangsa dan bernegara yang kita cita-citakan bersama.

===================================================================

Pertama :

Bahwa negara kita menjamin Hak kebebasan beragama bagi setiap warga negara yang tertuang dalam pasal 29 UUD 1945 beserta pasal rinciannya. Kebebasan tersebut meliputi hak untuk menganut,menjalankan peribadatan, hingga hak untuk mengajar atau mendakwahkan agama yang dianutnya sepanjang tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku.

Kedua :

Bahwa konteks beragama dalam Islam adalah tak hanya menganut dan menjalankan peribadatan semata, tapi mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama demi ketaatan pada Tuhan semesta. Maka jika ada pertanyaan ” jika kita sama-sama menghormati keyakinan orang lain, mengapa harus mengajak-ajak segala? ya, karena itu salah satu perintah agama kami.. yang penting tidak ada unsur memaksa/ intimidasi.

Ketiga :

Bahwa dasar kami menentang ketuhanan Isa adalah murni bersumber dari ajaran kitab suci kami (al qur’an), bukan nalar logika semata, dimana secara garis besar definisi Tuhan harus memenuhi 4 syarat sebagai berikut :

  1. Esa; tidak berbilang, tidak bersekutu. Karena sifat Tuhan itu absolut; penguasa mutlak.. jika ada penguasa lain disisi Dia maka mestilah akan saling berperang untuk menegaskan eksistensinya.
  2. Tempat Bergantung semua makhluk; Allah adalah yang menciptakan,  semua makhluk bergantung kepada-Nya, namun Allah tidak bergantung kepada mereka. Ia tidak membutuhkan izin makhluk untuk melakukan kehendak-Nya, pula tak membutuhkan perbuatan makhluk untuk menegaskan kekuasaan-Nya.
  3. Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan; sifat Tuhan adalah qadim (terdahulu; namun tanpa awal, tanpa akhir), sedang makhluk adalah hadits (baru; diadakan).. jika Tuhan melahirkan anak, maka anak itu pun akan melahirkan pula.. pun sebelumnya dia adalah zat yang dilahirkan.. dari zat yang dilahirkan pula… maka semuanya akan menjadi tasalsul (tak berujung), dan ini adalah mustahil disandangkan kepada Tuhan.
  4. Tiada sesuatu yang menyamai-Nya; Tuhan berbeda dengan makhluk-Nya dengan demikian dia tak butuh menitis kepada mereka, pula sebaliknya makhluk tak layak menjelma kepada Tuhan. Dia berdiri sendiri dengan semua zat, sifat dan perbuatannya.

Demikian penjabaran singkat tentang Tuhan sebagaimana tersebut dalam Surat Al Ikhlash yang kami imani.

Keempat :

Kami menyadari bahwa ada diantara kami yang masih bersikap berlebihan bahkan ekstrim dalam menjalankan keyakinannya, namun hal ini tak bisa dijadikan generalisasi. Toh semua sikap ekstrim ada dalam setiap penganut agama tak hanya Islam semata.

Sebelum semua itu, perlu diketahui bahwa dalam menyeru oranglain kepada ajaran agama, setidaknya ada 4 rambu-rambu yang harus kami taati :

  1. memakai cara yang baik
  2. tidak memaksa orang lain keluar dari agamanya
  3. tidak mencela sesembahan orang lain
  4. tetap menghargai sebagai sesama pewaris ajaran Ketuhanan

 

Point 1 : bersumber dari  Surah An Nahl: 125

” Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

— hikmah ; alasan yang logis, tegas, sesuai kaidah teoritis — biasanya ditujukan kepada kaum pelajar ( sekolah s/d mahasiswa)

— pelajaran yang baik; lembut, halus, puitis, naratif — biasanya ditujukan kepada kaum pekerja atau masyarakat umum yang biasanya tak sreg dengan penjelasan yang terlalu teoritas karena beban pikiran (pekerjaan) yang mereka hadapi.

— bantahlah dengan cara yg lebih baik; memakai bahasa yg lebih elegan, data yang lebih relevan, namun tetap menjauhi sikap tercela atau sikap yang dapat menjatuhkan dan mempermalukan oranglain. Biasanya ditujukan kepada mereka yang memiliki kedudukan di masyarakatnya maupun bergelar tinggi demi menghormati keilmuannya.

Demikianlah menurut salah satu penafsiran meski secara umum bisa dilakukan terhadap semua orang.

 

Point 2 : bersumber dari  Surat Al-Baqarah Ayat 256

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat ”

Agama adalah nilai tertinggi dari seseorang; puncak hasrat; ultimate value. maka pelaksanaan darinya mestilah bersumber dari hati sanubari yang paling dalam, tanpa pemaksaan, tanpa tekanan.

Tuhan tak butuh untuk disembah, namun makhluk lah yang butuh menyembah Tuhan. Mereka akan menzalimi sendiri jika menyembah yang layak disembah. Sudah sifat makhluk suka mengagumi bahkan tunduk kepada sesuatu yang melebihi dirinya. Itulah mengapa ada istilah mesiah, ratu adil, imam besar, raja diraja, yang dipertuan agung, dsb dikalangan manusia. Maka tidak pantaskah ini berujung kepada ‘Sang Maha diatas Maha’; Tuhan Pencipta Semesta ?

 

Point 3 : bersumber dari Surah Al-An’aam: 108

” “Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekah kembalinya mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Allah melarang kami mencela tuhan-tuhan orang musyrik dengan pencelaan yang keras atau sampai merendah-rendahkan (secara terang-terangan) karena hal ini akan membuat mereka akan membalas dengan mencela Allah. Tentu termasuk maslahat besar bila kami tidak mencela tuhan orang kafir agar tidak berdampak celaan bagi Allah (sesembahan kami ). Jadi hal ini adalah peringatan tegas agar tidak berbuat seperti itu, supaya tidak menimbulkan dampak negatif  yang lebih parah.”
Jadi perlu diperhatikan bahwa kemungkaran tidaklah dibalas dengan kemungkaran yang semisal. Jika Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dicela, bukan berarti kita boleh mencela Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Karena mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu kekafiran, demikian pula dengan mencela Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.

================================================

jika mau teliti, jika mau dikaitkan dengan Ahok, maka patutlah diingat bahwa dia tak hanya sering menghina ajaran agama kami, bahkan di beberapa video yang mungkin sudah dihapus dia sering pula melecehkan pimpinan agamanya sendiri. Berteriak ‘amal-amal, iman-iman..’ seolah kebaikan bersumber dari dirinya, bukan dari karunia Tuhan. Seolah tersirat sikap chauvimisme (kesukuan) nan membanggakan golongannya sebagai salah satu yang terunggul di dunia. Pada tahap ini  dia pun ada dibenci oleh sesama rasnya sendiri dimana mereka berkata:

” Kami sudah turun-temurun tinggal disini, negri ini sudah kami anggap rumah sendiri. Untuk apa mengingat-ingat tempat asal kami, apa relevannya membangga-banggakan ETNIS kami ?? ”

 

Point 4 : bersumber dari  Surat Ali-Imran ayat 64 – 68
” Wahai ahlul-kitab! Marilah kemari! Kepada kalimah yang sama di antara kami dan di antara kamu yaitu bahwa janganlah klta menyembah melainkan kepada Allah, dan jangan kita menyekutukan sesuatu dengan Dia, dan jangan menjadikan sebahagian dari kita akan yang sebahagian menjadi Tuhan-tuhan selain dari Allah.”

Artinya, betapapun pada kulitnya kelihatan kita ada perbedaan, ada Yahudi, ada Nasrani dan ada Islam, namun pada kita ketiganya terdapat satu kalimat yang sama, satu kata yang menjadi titik pertemuan kita. Kalau sekiranya saudara-saudara sudi kembali kepada satu kalimat itu niscaya tidak akan ada selisih kita lagi
Mari kita bersama kembali kepada pokok ajaran itu, satu kalimat tidak berbilang, satu Allah tidak bersekutu dengan yang lain, satu derajat manusia di bawah kekuasaan Ilahi, tidak ada perantaraan. Dalam hal ini tidak ada selisih pokok kita. Ini sumber kekuatan kami dan ini pula sumber kekuatan kamu.

Kepada mereka yang menegakkan Syariat Musa, yang menamai diri mereka Yahudi kamu scrukan, marilah kemari, kita kembali kepada dasar ajaran yang ditinggalkan Musa sendiri, yang ada dalam catatan kamu, dalam Kitab yang kamu namai Taurat;

Janganlah padamu ada Allah lain di hadapan hadiratku. Janganlah diperbuat olehmu akan patung ukiran atau akan barang peta dari barang yang dalam langit di atas, atau barang yang di atas bumi di bawah, atau dari barang yang di dalam air di bawah bumi.Jangan kamu menyembah sujud atau berbuat bakti kepadanya, karena Akulah Tuhan, Allahmu, Allah yang cemburu adanya. (Keluaran Pasal 20, ayat 3 sampai 5).

Kepada orang Nasranipun diserukan, marilah kemari kepada kalimat yang satu diantara kita, yang sama sekali tidak ada perbedaan kita dalam pokok kalimat itu, sebagai sabda dari Nabi Isa Almasih sendiri;

Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal engkau, Allah Yang Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu. (Injil karangan Yahya (Yohannes), fasal 17 ayat 3).

inti kalimat persatuan itu ada, dan tidak sampai terhilang meskipun naskahnya telah banyak dari salin ke salin. Kita yang datang di belakang inilah yang telah bertemu kembali pokok itu, setelah kedua “Perjanjian Lama” dan “Perjanjian Baru” beredar pula di tangan kita.

Alangkah tepatnya apa yang dikatakan Rasul itu: renungkanlah apa yang tersebut di dalam ayat tentang Kalimatin sawa-in bainana atau “kata-kata yang sama di antara kita” itu, bandingkanlah ayat al-Qur’an dengan bunyi isi Kitab Keluaran itu, akan terdapatlah bahwa itulah pegangan kita kaum Muslimin. Dan itulah pokok asal pegangan ahlul kitab; Yahudi dan Nasrani.

 

=====

Demikan tanggapan  ini saya sampaikan, moga dipahami dengan hati yang berkenan.

Sebagai penutup saya kutip nasihat dari Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi  ; Gubernur NTB dalam salah satu ceramahnya ” Tersebarnya dakwah adalah tujuan kita, tetapi harus diingat betapa akhlak harus menjadi prioritas. Dakwah tanpa akhlak akan gagal bahkan bisa melahirkan kebencian ummat lain kepada kita. Berdakwah harus dengan akhlak terpuji. ”

 

— Alhamdulillah, wamannashru illaa min ‘indillah —

 

 

 

Iklan

Inti agama itu keyakinan tentang Tuhan yang timbul dari kebenaran pasti dan disetujui oleh akal. Kalau ada keyakinan yang ditolak oleh akal, artinya agama itu agama akal-akalan. Setiap manusia dikaruniai Tuhan akal, maka gunakan akal untuk mengenal sebenar-benar Tuhan.
Berikut ini argumentasi tentang Tuhan yang pasti diterima akal. Jadi catatan ini khusus bagi yang berakal. Yang gak berakal, ya udh ke pinggir…wkwkwkwk!!
Prinsip sederhana:
TUHAN TIDAK SAMA DENGAN MAKHLUK; PENCIPTA PASTI TIDAK SAMA DENGAN CIPTAAN.

– makhluk ada karena di-ada-kan Tuhan, PASTI Tuhan ADA tanpa ada yang meng-ada-kan.
– makhluk ber-awal dan ber-akhir, Tuhan PASTI tidak berawal dan tidak berakhir karena awal dan akhir juga makhluk Tuhan.
– makhluk beribu-bapak, Tuhan PASTI tidak beribu dan tidak berbapak karena Tuhan Pencipta segala sumber.
– makhluk bisa menitis pada makhluk, Tuhan PASTI tidak menitis pada makhluk, sebab menitis itu hanya terjadi pada sesama makhluk.
Kalau ada yang ngeyel lalu bilang:“Tuhan ‘kan Mahakuasa, Bisa Segalanya, pasti Tuhan Yang Mahabesar bisa “masuk” pada makhluk-Nya yang mahakecil.”
Jawab begini saja:“Ada keperluan apa Tuhan menyurup ke dalam makhluk-Nya? Untuk membantu manusia melawan kekuatan Iblis? Kalau begitu kekuatan Tuhan dan kekuatan Iblis itu setanding dan sebanding dong? Kalau begitu, artinya Tuhan tidak Mahakuasa dong?! [wek-weeew :D]
makhluk punya nama dari Sang Pemberi Nama, Tuhan tidak ada yang memberi Nama selain Diri-Nya sendiri. Itu pun untuk keperluan makhluk.
makhluk memiliki bentuk/rupa, Tuhan PASTI tidak berbentuk/rupa karena Tuhanlah Pencipta segala bentuk,
makhluk memiliki warna, Tuhan PASTI tidak berwarna karena Tuhanlah Pencipta segala wewarna.
makhluk memiliki bau, Tuhan PASTI tidak memiliki bau karena Tuhanlah Pencipta segala bebauan.
makhluk menempati ruang (bertempat), di dalam arah (kiri-kanan-atas-bawah-depan-belakang-samping), dan dipengaruhi waktu, Tuhan PASTI tidak memerlukan tempat, tidak di dalam ruang dan arah, dan tidak dipengaruhi waktu. Tuhan tidak ada keperluan pada makhluk2-Nya. Tuhan tidak bertempat di langit (seperti gemintang), tidak di surga (khayangan, nirwana, firdaus)  karena Tuhan Mahabesar, mustahil makhluk bernama langit dan sesurga itu lebih besar daripada Kemahabesaran Tuhan dan sanggup “menampung” Tuhan.
makhluk bergerak: datang dan pergi, naik dan turun, timbul-tenggelam. Tuhan tidak bergerak-tidak diam: tidak datang-pergi, tidak naik-turun, tidak timbul-tenggelam.
Simpelnya:
Ketahui bahwa wujud makhluk ciptaan Tuhan itu terdiri atas empat besar:
Sesuatu yang nyata dipandang mata: berbentuk, dapat dlihat, dan dapat diraba dengan pancaindera, seperti jasad manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda lainnya.
Sesuatu yang gaib: berbentuk, tetapi tidak dapat dilihat dan tidak dapat diraba dengan pancaindera, seperti angin, angan-angan, bebauan, surga-neraka, malaikat, iblis, jin, setan.
Sesuatu yang berupa cahaya-cahaya. Cahaya matahari, petir, lampu, dsb. Malaikat juga termasuk golongan ini.
Segenap kualitas makhluk, seperti baik-buruk, tinggi-rendah, putih-legam, keras-lunak, kasar-lembut, dsb.
Pastikan Tuhan itu tidak sama dengan semua di atas itu. Jadi kalau ada tuhan yang bisa dibayang-bayangkan, digambarkan, dipahatkan, diukirkan, diumpamakan begini-begitu, dsb. Pastikan itu tuhan batal. Tuhan palsu. Tuhan akal-akalan makhluk.
Jadi, apa susahnya mengenal Tuhan? Cukup dengan mengetahui yang bukan Tuhan.
Setiap yang berakal, pasti tunduk pada Tuhan yang tidak serupa dengan makhluk. Itulah namanya keyakinan yang kokoh.
Agama itu keyakinan, bukan keraguan.

 

======
Catatan ini sengaja tidak dilengkapi dengan kutipan dalil maupun istilah-istilah dari khazanah agama Islam sebab sejatinya catatan ini dulu dibuat untuk dimuat di grup Diskusi Agama (facebook) yang adminnya nonmuslim dan para anggotanya dari berbagai agama di Indonesia. [Kami di-kick taklama setelah memuat artikel “mematikan” ini, hehehe]
by : facebook.com-Adam Troy Effendy