Termenung melamunkan pundi-pundi uang yang lenyap satu persatu, hingga tak terasa kerugian itu telah memakan biaya berjuta-juta. Dari mulai yang dipercayakan pada saudara, hingga pada mereka yang sekedar kenal di sosial media.

Hingga kubaca sebuah tulisan di wikipedia tentang peristiwa ‘Sabra-Shatila’;

” Hari berikutnya, 15 September, tentara Israel menduduki kembali Beirut Barat, membunuh 88 orang dan melukai 254 orang. Tindakan Israel ini melanggar perjanjiannya dengan AS untuk tidak menduduki Beirut Barat. ([3]) AS pun telah memberikan jaminan tertulis bahwa AS akan menjamin perlindungan warga Muslim di Beirut Barat. Pendudukan Israel juga melanggar perjanjian perdamaiannya dengan tentara-tentara Muslim di Beirut dan dengan Suriah.

Menachem Begin membenarkan pendudukan Israel sebagai “hal yang perlu untuk mencegah langkah-langkah balasan oleh orang-orang Kristen terhadap orang Palestina” dan untuk “menjaga keamanan dan kestabilan setelah pembunuhan Gemayel.” Namun, beberapa hari kemudian, Sharon mengatakan kepada Knesset, parlemen Israel: “Masuknya kita ke Beirut Barat dimaksudkan untuk memerangi infrastruktur yang ditinggalkan oleh para teroris.”

Tentara Israel kemudian melucuti senjata para milisi yang tidak pro Israel maupun warga sipil di Beirut Barat, semampu mereka, sementara membiarkan para milisi Falangis Kristen di Beirut Timur tetap bersenjata lengkap.

Ariel Sharon kemudian mengundang satuan-satuan milisi Falangis Lebanon untuk memasuki kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila untuk membersihkannya dari para teroris. Di bawah rencana Israel, tentara-tentara Israel akan mengontrol daerah sekeliling kamp-kamp pengungsian itu dan memberikan dukungan logistik sementara milisi Falangis memasuki kamp-kamp itu, mencari para pejuang PLO dan menyerahkannya kepada pasukan-pasukan Israel.

Namun pada akhirnya tidak seorangpun yang diserahkan kepada pasukan-pasukan Israel. Tak ada pertempuran ataupun senjata yang ditemukan di kamp-kamp itu. Dokumen-dokumen yang diajukan kepada tuntutan atas kejahatan-kejahatan perang di Belgia terhadap Ariel Sharon konon memperlihatkan bahwa kalim mengenai kehadiran para pejuang PLO di kamp-kamp itu hanyalah sebuah cerita rekaan yang disiapkan oleh Israel.

==========================================================

Ya, itu adalah cerita pengantar peristiwa pembantaian Sabra & Satila, yang memakan korban ribuan warga Palestina. Tak ada reaksi dunia–dalam hal ini PBB–selain kecaman basa-basi. Hingga salah seorang penduduk yang selamat berkata ” Kalau saja kami tak menyerahkan senjata-senjata itu kepada pasukan perdamaian, kalau saja kami tak tertipu gencatan senjata, mungkin kami tak kan dibantai sebanyak ini. Hari itu bergantung pada diri sendiri adalah lebih baik dari pada bergantung pada orang lain yang kau anggap kuat sekalipun !!”


 

Mungkin nasib miris saya hanya sekian persen dari kisah mereka, namun  bukankah uang jutaan rupiah yang raib itu bila dapat saya gunakan dengan baik, dan hasilnya untuk nafkah keluarga atau biaya sekolah kerabat saya yang tak mampu, bukankah itu adalah penyelamatan kehidupan.

” Wa man ahyaahaa fa kaannamaa ahyannaasa jamii’a.. ( Q.S. 02 : 195)

 

Fasobrun jamiil, wa alallohi fal yatawakkalil mu’minuun.

 

 

Iklan