Category: Sastra


Serial kolosal ini telah disadur ulang dalam beberapa versi cerita TV, tak sedikit pula blog yang memuat tentang sinopsis ceritanya. Ini membuktikan seri ketiga dari trilogi rajawali ini merupakan karangan Jin Yong yang paling banyak diminati. Saya sendiri bukannya latah ikut memposting, namun begitu banyak pesan moral yang saya pelajari disini, terkhusus dari sini lah hobi akan sastra saya mulai tumbuh ( seri Yoko hanya sekedar menonton, tapi seri ini saya tulis di buku resumenya waktu kelas 6 SD, sayang hilang entah kemana.. T_T ).

PERLU DIGARIS BAWAHI, meski kemudian disadur ulang beberapa kali namun versi 1986 ini lah yang terbaik dalam segala hal. Penokohan, dialog, aksi, dan busana yang elegan di setiap episode nya. yang paling utama versi 1986 ini masuk kategori ‘ramah keluarga’ karena tiada adegan romantisme vulgar yang ditampilkan disini, malah terbilang santun.. seolah mengajari bagaimana seorang laki-laki memperlakukan wanita dengan seharusnya.

19756778_1473121399417000_3929480922658383658_n

sebagaimana judul yang saya tulis, seri ini tak hanya mengajari saya tentang sastra tapi juga hal lain diantaranya psikologi karakter yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. simplenya saya sebut saja contoh karakter-karakter wanita:

Anggun, cantik (Tio Beng, Nona Yo/Gaun Kuning)

cerdas, lihai,licik (In So So, Tio Beng)

setian, pengertian  (Tio Beng, Siao Ciao)

pura-pura, penipu (Jhianzeng)

Ingatan, penantian ( Cie Jak, In Lee)

cemburu buta, sadis (Cie Jak)

lembut, tulus ( Yo Put Hui)

Arogan,kejam ( Biat Coat)

ZMWJ 3

Memutuskan hubungan keluarga demi tinggal bersama   Bu kie

pengorbanan, totalitas (In so so & Tio Beng).

dll.

 

 

 

 

 

Oke, mari kita tambah dengan menyebutkan beberapa tokoh utamanya  :

— Thio Bu Kie

mulanya kita mengira orangnya plin-plan karena sulit menjatuhkan pilihan. Namun ini justru sesuai dengan pembawaannya yang yatim-piatu sejak lahir,dimana mereka lebih ingin memuaskan dahaga kasih-sayangnya dibandingkan membahas cinta.  Sayang sikap tak tega dan lembut dari Bu kie inilah yang sering disalahpahami oleh wanita-wanita yang mengelilinginya.

secara benang merah, karakter Bu kie adalah muka sastrawan/kutu buku, wataknya halus dan welas asih, bukan tipe gagah nan ganteng macam Yo Siaw, cenderung cakep culun gk suka ribut, muka lugu yang terkesan tanpa ekspresi dan tidak berpretensi, peragu tapi pemikir–tanpa kehilangan aura seorang pendekar. Semua ini dilatarbelakangi perjalanan hidupnya; Tumbuh sebagai anak yang kurang gaul karena tinggal di pulau, begitu berinteraksi dengan orang-orang langsung kehilangan orang tuanya, terlunta-lunta sendirian, tiba-tiba dibebani amanat besar sebagai ketua partai. Wajar kalau ia terlihat ‘datar’ soal cinta, walau mudah iba pada wanita cantik. Selalu melihat kebaikannya saja tanpa terlalu memikirkan kelicikan mereka.

The four girls

4 Gadis Bu Kie

Bu kie juga digambarkan memiliki bakat alamiah yang kadang dimiliki seorang yatim, diantaranya Fotografik Memori; kemampuan mengingat sesuatu secara detail meski hanya melihatnya sekilas atau telah lama sekali berselang. Seperti yang ia peragakan saat mempelajari Tai Chi dari Thio sam hong, dan meniru jurus cakar shaolin sewaktu pertarungan di bukit terang.

—  Tio Beng (Minmin Temur)
Wanita satu ini dilukiskan sebagai sangat mempesona sekaligus kejam menakutkan. Ia diberi tugas ayahnya menumpas pemberontak dan membawahi banyak pesilat-pesilat tangguh karena kepiawaiannya berstrategi dan berdiplomasi. Dalam novel, disebutkan “dibalik kecantikannya, terdapat hawa keangkeran dan kegagahan yang membuat orang hormat kepadanya”. Sifatnya dominan dan autoritatif namun juga penuh pengorbanan terhadap orang yang dicintainya yaitu Thio Bu Kie.

Tujuan sebenar Tio Beng  mendekati Bu Kie adalah berharap ia mau mengabdi kepada pemerintah mongol dan sekaligus menjadi suaminya, sehingga bisa menghindari perjodohannya dengan seorang pangeran. Namun akhirnya ia memilih untuk mengikuti Bu kie meski menolak untuk berperang dengan ayahnya.

Sebagai pemeran Tio Beng, Kitty Lai Me han adalah talenta paling tinggi di film ini. Di usianya yang ke-20, ia mampu menyaingi rekan”nya yang lebih tua. Meski wajahnya cantik semanis gula, tapi lihai pula menyamar sebagai pria tampan. Apalagi waktu datang ke Butong pertama kali, aduh laganya ‘BANGSAWAN abis !!.. hahaa..

ZM 4

Sang Bangsawan

— Ciu Ci Jiak.

Orantuanya dibunuh perampok, lalu ia diselamatkan Thio Sam Hong. Karena Butong tidak menerima murid wanita, ia pun diserahkan pada Gobi/ Biat Coat untuk diasuh. Ia sempat merawat Bu Ki yang saat itu telah terkena racun tapak dingin.Ciu Ci Jiak segera jatuh cinta pada Thio Boe Ki, tetapi kemudian berbalik melawan Boe Ki setelah dia diminta bersumpah di hadapan gurunya, Biat Coat Suthay, yang membenci dan tidak mempercayai siapa pun dari aliran Bengkaw yang dianggap sesat.

—Siao Ciao

Sia Ciao adalah anak dari nenek bunga emas/ naga ungu. Ia disuruh ibunya untuk mencuri kitab pusaka aliran Bengkaw/ Ming dengan menyamar menjadi seorang pelayan. ketika gerak-geriknya terbaca, Yo Siaw merantai kakinya dengan borgol keras yang konon terbuat dari ekstrak meteorit. Hanya ditengok ibunya 1-2 kali setahun, bahkan pernah tak diakui anak membuat ia begitu luluh melihat kebaikan dan sikap lembut Bu Ki padanya. Ia malah membantu Bu Ki membacakan kitab pusaka (ilmu pergeseran langit dan bumi) ketika telah ditemukan. Ia pun enggan meneruti perintah untuk meracuni Bu Ki saat di pulau ular.

Siao Ciao kembali ke Persia setelah terungkap kenyataan bahwa dia telah ditakdirkan untuk menjadi ketua aliran Bengkauw cabang Persia. Meski mulanya enggan, ia akhirnya menyanggupi demi menyelamatkan ibunya dari hukuman mati, pula agar kapal Bu Ki tak ditembak meriam. Yang menarik, saat perpisahan Sia Ciao masih memposisikan dirinya sebagai pelayan dengan memakaikan selendang persia pada pada Bu Ki..persis dengan gaya biasanya ( In Fact; ia lebih tinggi kedudukannya karena Bengkaw disini adalah anak cabang).   Sad Ending bngt… T_T

 

— Para Pejabat Sekte Ming

Ketua : Thio Bu Kie
2 Utusan:
1.Utusan Kiri: Yo Siao. Digambarkan tegas, tampan, berwibawa, dan ilmunya sangat tinggi. Ialah ayah Yo Put Hui.
2.Utusan Kanan: Fan Yao. Keberadaannya masih misterius, belum ada yang tahu bahwa ia menyusup (menyelidiki Seng Kun) sebagai salah satu jago silat bawahan Minmin/Tio Beng.
4 Raja Pelindung:
1. Raja Naga Ungu, atau Nenek Kim Hoa/Nenek Bunga Emas. Ia berdarah Cina-Persia dan kabur dari Sekte Ming Persia karena melanggar aturan tidak menikah. Sebenarnya ia merupakan wanita cantik primadona Sekte Ming. Ibu kandung dari Siao Ciao.
2. Raja Elang Alis Putih: In Thian Cheng, ayah In So So yang sempat mendirikan partai sendiri saat Sekte Ming penuh konflik
3. Raja Singa Emas: Cia Sun. Ialah sebenarnya yang ditunjuk sebagai Ketua Sekte Ming, namun akibat perbuatan Seng Kun, hidupnya berantakan
4. Raja Kelelawar Hijau: We Yisiao, ilmu meringankan tubuhnya termasuk yang paling tinggi di antara pesilat pada jamannya. Kebiasaannya menghisap darah untuk menyambung hidup telah disembuhkan oleh Thio Bu Ki.

Ming Sect

 

Kredit point

lost world

1. Aspek wuxia (cerita dunia persilatan). Kita boleh terpukau oleh cerita cinta, tetapi kalau suatu wuxia hanya fokus di cerita cinta, bukan wuxia namanya . Adegan silat harus digarap serius. Tetapi jangan salah, adegan silat yang keren tentu tidak cukup kalau emosi kita tidak melekat pada karakter yang sedang bertarung. Seperti hanya melihat pertarungan yang indah tapi sebenarnya kita tidak peduli pada tokoh yang bertarung. Oleh karena itu aspek wuxia selain soal adegan silat atau peperangan, penggambaran ilmu-ilmu silat yang memukau, ada juga nilai-nilai seperti persaudaraan, kesetiakawanan,dan kepahlawanan.

2. Sama sekali tidak terkesan mengeksploitasi sisi kecantikan ataupun kelemahan wanita. Tiada isu kesetaraan gender disini. Tidak under (jadi objek tertindas) macam bollywood & telenovela, tidak pula hiper macam Holywood & korean drama. Semua tampil dengan proporsinya masing2.

3. Penokohan yang kuat oleh para aktornya. Sangat tahu bagaimana harus bermain sebagai pemain muda, tahu pula saat berperan sebagai yang sudah menua. Talent-Costum-Chemistry, nilai 10 pokoknya.

3 catatan saya :

1. Aspek wuxia (cerita dunia persilatan). Kita boleh terpukau oleh cerita cinta, tetapi kalau suatu wuxia hanya fokus di cerita cinta, bukan wuxia namanya . Adegan silat harus digarap serius. Tetapi jangan salah, adegan silat yang keren tentu tidak cukup kalau emosi kita tidak melekat pada karakter yang sedang bertarung. Seperti hanya melihat pertarungan yang indah tapi sebenarnya kita tidak peduli pada tokoh yang bertarung. Oleh karena itu aspek wuxia selain soal adegan silat atau peperangan, penggambaran ilmu-ilmu silat yang memukau, ada juga nilai-nilai seperti persaudaraan, kesetiakawanan,dan kepahlawanan.

2. Sama sekali tidak terkesan mengeksploitasi sisi kecantikan ataupun kelemahan wanita. Tiada isu kesetaraan gender disini. Tidak under (jadi objek tertindas) macam bollywood & telenovela, tidak pula hiper macam Holywood & korean drama. Semua tampil dengan proporsinya masing2.

3. Penokohan yang kuat oleh para aktornya. Sangat tahu bagaimana harus bermain sebagai pemain muda, tahu pula saat berperan sebagai yang sudah menua. Talent-Costum-Chemistry,

 

*  *  *

Source 1

Source 2

Source 3 Baca lebih lanjut

Bahagiakan Dia, Probe !

Ternyata suatu karya ketika sudah dipublikasikan–baik lewat sebuah situs ataupun media sosial– ia mampu menciptakan makna yang lain sesuai sudut pandang pemerhatinya. Seperti kisah persahabatan Steve  Roger dengan Bucky Burnes dalam Film Captain America, ternyata mampu menginspirasi youtubers untuk membuat klip-klip video yang menceritakan tentang mereka. Iseng-iseng saya pun menemukan sebuah drama naratif tentang hubungan Adudu dengan Probe, 2 tokoh dalam seri animasi Boboiboy. Berikut tulisannya :

 

Bahagiakan Dia, Probe, a boboiboy fanfic | FanFiction

“Buatlah dia bahagia, Probe .” Detik-detik selama napas Adu Du masih terjaga, Probe dengan setia me nemani sang majikan yang gampang temperamen itu. Sampai waktu pun m emanggil sang pemungut Probe .

.

“Probe, aku baru mendeteksi bahwa bos mengidap penyakit C. .A.”

“Itu penyakit apa?”

“Cancer Indentify in Alien. Penyakit baru yang pertama dikenal melalui jenis manusia. Aku tidak tahu mengapa penyakit ini bias mewabah menuju bos. Mungkin dari makanan yang ia makan di bumi ini.”

“Jadi Probe, buat dia bahagia selagi nyawa masih digenggamnya

Selagi bos memang makhluk yang tidak pernah meraih tujuan hidup sekalipun

Karena umurnya yang tidak lama lagi…”

“incik; tuan bos? ”

Aku memanggil ramah dengan nada yang senga ja diim ut-imutk an pada sosok makhluk be rkulit hijau yang saat ini tengah memakan nasi lemak – makanan khas dari negeri Jiran.

“Apa?” sosok tersebut berhenti menyuap dengan membiarkan nasi dalam sendok perak nya diam . Ia melirik k u dingin dengan iris mata kotak coklatnya , menunggu lontaran kataku selanjutnya.

“Apak ah tuan bos akan selalu dan selalu menjadi tuan bos ku?” tanyaku disamping beliau yang duduk di atas meja .

“Mengapa bertanya tentang hal itu?”

“Soalnya…”

.

Jangan pernah beritahu kalau aku memberitahumu tentang penyakit yang diderita bos

.

“Ya, soalnya tuan bos mau membuangku, kan?!”

Aku baru saja nyaris melanggar kesepakatan tentang merahasiakan obrolanku bersama kom puter pe rihal umur tuan bos! Ah

tidak , kalau tuan bos tahu aku telah mendapat kabarnya, bisa-bisa aku dimarahi habis-habisan oleh salah satu alat elektronik buatan alien di depanku ini!

10004082_440120162808210_1699170438_n

“Hngg…” sang atasan bergumam .

Aku berkeringat dingin- ketakutan dibua tnya .

“Untuk apa membuangmu? Walau aku sudah punya kartu dari mama, tapi aku tak kan membeli robot tempur penggantim u,”

lanjutnya.

Aku menghela napas lega , “Ah, syukurlah tuan bos”

“Me ngapa tiba-tiba bertanya hal seperti itu?” potong Adu Du, nama bos ku. Sang atasan menatapku

menunggu, berharap

mendapat jawaban m asuk ak al yang ku suara kan.

“Engh yah, tuan bos mau jalan-jalan tidak ?” ucapku m engalihk an.

“Jawab dulu pe rtanyaank u, Probe !” ketusnya dengan nada galak .

“Enghh… Ya, soalnya ak u khawatir sejak tuan bos membeli robot pango apak ah tuan bos akan

membe li robot baru setelah itu,” alasanku de ngan kalim at blak-blak k an yang tidak sengaja

terpikirk an dari benakk u. Sang atasan m emalingkan

wajahnya dan ke mbali m enyuap nasi lemak _sarapannya itu.

“Sebenarnya, aku baru saja terpikir akan membeli beberapa robot canggih,” ucapnya selesai mem akan semua nasi lemak dalam piringnya.

“Wah ide bagus tuan bos!” seruku.

Dalam hati yang terdalam , aku merasa kecewa dengan penuturan tuan bos barusan. Berarti tuan bos sudah menyadari pe nyak itnya dan membeli beberapa robot karena tahu um urnya tak kan lama lagi namun masih teguh ingin mencapai tujuannya? Atau tuan bos membeli mereka sebagai temanku dan kom puter saat ia tiada? Entah, namun aku berpik ir seperti itu tiba-tiba saja.

Langsung kembali aku bertanya, “Apak ah tuan bos akan selalu menjadi tuan bosk u?”

Adu Du terdiam sejenak , lalu menggeleng kecil-ge li.

“Te ntu, bodoh.”

Iseng-iseng tidak tahu ingin melak ukan apa , aku melayang-layang mengelilingi m arkas kotak tak tentu arah. Kom puter yang sedari tadi melototiku hanya bisa bertam pang datar.

“Probe , daripada k au tidak ada kerjaan mending temani tuan bos deh,” kata komputer sarkasme .

“Ak u saja tidak tahu dim ana tuan bos,” ucap ku.

“Dia ada diluar m ark as kotak . Mencari referensi kali,” balas komputer.

“Eh iya k ah?” aku melesat melayang ke luar dari markas kotak , meninggalk an computer tetap dalam ruangan gelap tersebut.

 

Sang majikan duduk di suatu besi dengan meringkuk-memeluk kedua lututnya. Ia mendongakk an

kepalanya menatap langit dengan ekspresi datar. Seakan tidak tahu apa yang ia pikirkan sek arang.

Selintas aku merasa tuan bos didera kesepian sekarang. Sebagai robot ungu yang bertanggung jawab

Memuaskan pemilik nya baik lahir pun atau batin, aku pun nekad mendekati sang atasan setelah

mempersiapkan segudang lawakan garing-hal yang paling tuan bos senangi dari diriku sampai rela

melakukan apapun untuk m enghidupk an sumber ke hidupanku kembali.

“Tuan bos~ Tahu tidak kalau k ucing bisa beranak ?” tegurku mencoba menghangatkan suasana.

Namun tidak biasanya dia akan membentak k u sembari melempar gelas berbahan aluminium tepat pada wajahku, ia masih mendongak kan kepalanya

menatap langit dengan raut wajah kosong.

Entah apa, aku me rasa k an isyarat bahwa ak u tidak bole h m e lawak se k arang. Te rpak sa de ngan be rat hati ak u hanya diam di

be lak ang posisi tuan bos m e nunggu jawa ban tida k pasti.

“Probe …”

De sisan suara yang m e m anggil na m ak u langsung m e nce rcahk an harapank u se dik it.

“Apa yang ak an k au lak uk an saa t a k u tiada ?”

Ak u te rpak u di te m pat. Apak a h ia se da ng m e m ik irk an pe nyak it yang dibicarak an kom pute r be be rapa jam yang la lu?

C uk up lam a ak u m e ncari jawa ban ya ng cocok untuk m e njadi landasan pe rtanyaan sang m ajik an. Hingga Adu Du ke m bali la gi

m e nde sah ke cil.

“Tujuan hidupk u buk an untuk m e ngalahk a n Boboiboy—walau itu adalah syarat untuk nya. Tujuan hidupk u adala h untuk

m e m buat se luruh m ak hluk dalam pla ne t Ata Ta Tiga m e ngak ui ke be radaank u dan tidak lagi m e ngasingk ank u.”

Ke inginan be rkorban de m i se sam a ra s rupa nya …

“Tuan bos…”

Sang m ajik an m e ngge rak k a n le he rnya m e m a ndangk u. Be rusaha ia le ngk ungk an se nyum dari bibirnya walau k uta hu itu

sangat dipak sak an dirinya.

“Ak u ingin dim aafk an ole h m e re k a. Ak u ingin m e njadi orang yang be rguna bagi m e re k a. Bila m asa Boboiboy dan k awank awannya dapat k uk alahk an, saa t ke be radaa nk u sudah diak ui ak u bak al m e m inta m aaf pada m e re k a,” k atanya te nang

walau ak u m e nde ngar sa m ar-sam a r isak se dih.

“Tuan bos, tidak pe rlu m e rasa be rsalah k are na te lah m e nce m ari pandangan m e re k a de ngan ke lahiran tuan bos di ga la k si

ini!” sahutk u re fle k . Sang ata san m e m bulatk an m a tanya se m e ntara, k age t. Lalu ke m bali e k spre si tatapan le m but yang

jarang dipe rlihatk an ia tunjuk k an pada k u.

“Tapi jik a ak hirnya ak u tidak bisa m e ng-se jarahk an nam ak u pada m e re k a, m ungk in itu m e m ang tak dirk u. Se te lah

m e re potk an m am a yang m e nja gak u se jak la hir, pada se m uanya, uk hhh—”

“TUAN BO S!” ak u be rte ria k pa nik dan langsung m e nangk ap tubuh sang atasan spontan saat ia nyaris am bruk . Iris m atanya

m e natapk u ke cil saat ak u m e ngge ndongnya untuk diantar m asuk ke m ark as kotak .

“Probe … te tap disam pingk u…”

Sudah e m pat hari ak u dan kom pute r m e rawa t sang m ajik an se cara be rgantian. Mulai dari m e ngurus saat m andi, m a k an,

m aupun obat.

“Ahh bos sudah m e ncapai le ve l ata s,” k ata kom pute r le m as sam bil m e nunjuk k an data dari layar wajahnya ke pa dak u.

“Pe nyak itnya m e nggana s se k ali. Nam un jik a saja m anusia bisa be rtahun-tahun te rke na pe nyak it ini se m asa hidup, ha rusnya

alie n le bih lam a lagi be rta han. Me nginga t 1 um ur a lie n itu sam a de ngan e nghh… saya lupa.”

Ak u hanya diam m e natap data disam ping kom pute r yang se dang m e rasa payah de ngan ke m am puannya se k arang.

“Ke napa rancanga obatk u tida k be rhasil se pe rti buatan bos? Me nye dihk an!”

“C oba saja buat lagi. Siapa tahu be rhasil,” re sponk u. “Mungk in alat canggih yang bisa m e m bunuh m ak hluk itu dari tubuh

tuan bos,” lanjutk u yang m a sih m e m andang laya r kom pute r agak nge ri k are na se suatu yang be rge rak-ge rak dari x-ray.

“Ya sudah de h, ak u coba buat lagi,” sang kom pute r be rge rak m e njauhik u. “Jaga bos ya Probe .”

Ak u langsung m e layang m e nde k ati sosok be rwaja h kotak yang k ini te rbaring dari k asurnya. Kubisik k an k ata, “Tua n bos…”

Sang atasan m e m andang lurus langit-langit ruanga n pe m baringannya de ngan m ata se te ngah m e ngatup. Wajah le lahnya

te rlihat se k arang.

Ak u m e rasa ge ram dibuatnya.

“Tuan bos tidak bisa be rbohong pa dak u! Se ge ralah bangun dan ayo buat rancangan untuk k m e nginvasi bum i ini ke m bali!”

be ntak k u. Langsung panda ngan sang m a jik a n te rtuju padak u—walau m e ngge rak k an le he r saja susah baginya.

Ia m e ngam bil ge las be rba han alum inium di se be lah k asurnya. Be rharap ia ak an m e le m park an be nda te rse but te pa t pada

wajahk u ke m bali k are na de ngan itu justru be rarti tuan bos te rtanda m asih be re ne rgi.

Nam un lain dari harapank u, ia m e nyodork an ge las te rse but de ngan ke dua m atanya yang ia pe jam —bahagia. Uca pannya

be gitu je las te rde ngar wa la u nnada sua ra nya be gitu halus.

“Maaf Probe , ak u buk an tuan bosm u lagi,” k a tanya. Ak u langsung m e layang m e nde k ati sisi satu sang m ajik an, m e ne rim a

ge las alum inium yang dise ra hk a nnya . Ala t pe nde te k si jantung be rnada le m ah se iring wak tu.

 

 

“Tolong jaga ge las itu. Da n ingatlah—”

Tangannya ia usahak an m e ngge nggam bagian tangank u de ngan k uat.

“—Ak u.”

Piiippppppp…

Nada suara alat pe nde te k si ja ntung be rna da se pe rti suara salah satu channel te le visi yang dise nsor.

Kom pute r yang tiba-tiba m uncul itu pun m e nde k a ti sosok tuan bos de ngan sudah m e m bawa k ain dari tangannya . Ia

k ibark an k ain te rse but m e nutupi wajah sang ata san. Ak u hanya bisa m e natap datar tangan sang m ajik an yang m e ndingin.

Sang kom pute r m e m e rhatik an wajah pe m buatnya le k at, be gitu de ngank u.

“… tuan bos?” ucapk u ke cil, be rharap se k a li a k an se tidak nya tuan bos langsung bangun dan m e le m par ge las dari tanga nk u

ini ke m bali pada wajahk u.

“Probe ?” tanya kom pute r hati-ha ti.

Ak u m e m ak u di te m pat.

“Baik lah. Ak u ak an m e nghubungi m a m a bos di ruang utam a,” k ata kom pute r m e ninggalk ank u be se rta badan sang m a jik a n

disana.

“Tuan bos…” k atak u se k ali lagi se te la h m e m a stik a n kom pute r tidak lagi disana.

Untuk k ali ini, ak u tidak bisa be rbohong de nga n pe rasaank u se ndiri. Se tidak nya ak u bisa m e lawak lalu m e m ba nting tubuh

tuan bos lalu m e ngangga p ke ja dia n ini ha nyalah fik tif be lak a.

Be be rapa wak tu be rse la ng de ngan hanya m e m ilih diam , m e m ori ingatan m asa lalu saat sang m ajik an m asih hidup te ringa t

dalam batink u.

“Tak guna!”

Nam un untuk ini, bole hk ah robot tida k be rguna ini—

“Probe! Jangan tinggalkan aku Probe!”

“Robot tempur Probe… misi terakhir, SELESAI”

“Probe! Aku sudah membangkitkanmu! Aku berhasil!”

“Tu-tuan bos?”

—Me nangis jujur?

Me sk i hanya se k ali se um ur hidup sa ja ?

.

.

“Se pe rtinya k ini ak u, be ra da dalam posisi yang sam a de ngan tuan bos ke tik a be liau ak u tinggalk an ya? Tuan bos…”

 

PROBE!_NOOOOOO!

 

-Finn A /N: Jujur, saya nyesek soal kematian. Makasih lagunya, ngena banget nadanya.

Source : FanFiction

 

Demikian, semoga meninspirasi.

Salam blogger.

 

NB :

Entah kebetulan atau tidak, hal ini belum saya tanyakan. Nama probe serupa dengan film jadul tahun 1990-an, the six million dollar man-episode death probe. Mengisahkan tentang robot tempur buatan Rusia yang mengalami kerusakan sistem hingga out kontrol dan melawan tuannya. link : death-probe

 

 

Usai menyaksikan episode terakhir musim ke-3 kemarin, ada perasaan gembira bercampur sedih.. gembira karena tim animonsta telah merampungkan kerja kerasnya setahun ini, sedih takut tak ada sequel lanjutannya lagi .

>

>

Kuharap bukan saya saja orang dewasa peminat film ini, alasan saya sederhana; saya seorang pekerja keras, dan film ini begitu ‘easy listening’; saya pria berumur 30, kurang suka dengan film dengan plot yang begitu rumit.

Sebelumnya perlu dicatat mengenai perbedaan kartun dengan anime .. kartun lebih mengedepankan pada grafis dan bagaimana untuk menarik perhatian anak-anak meski kadang-kadang  terlihat sedikit konyol ..sekedar membuat rilex pikiran Anda. Sedang anime lebih maju dari itu.. lebih berhubungan dengan plot, pengembangan karakter , efek 3 D. Sebenarnya Malaysia  sebelum ini sudah punya upin ipin, namun nampak hearts concept nya lebih ditujukan kepada tema budaya , sedang Boboiboy LEBIH ditunjukan kepada aksi, pengembaraan, dan fiksi. Sebelumnya saya pikir ini sama saja, Tetapi setelah menonton beberapa episode ternyata berbeda. Dan saksikan episode terakhir tadi..when boboiboy have battle with Capt. Kaizo it seems like real anime !!

Saya pikir Boboiboy tak hanya nomor satu di Malaysia .. tapi juga disini; Indonesia. Sungguh baik jika kita bangsa melayu akhirnya punya ikon animasi tersendiri. Jepang punya Naruto, Amerika punya Marvel, dan kita punya; BoBoiBoy. Ya, setelah bertahun-tahun diserbu budaya luar (K-pop,boyband,manga,marvel,dsb) tanpa perlawanan yang berarti, kita akhirnya mampu tunjukan kepada dunia bahwa kita bisa.

Bila dikaitkan, sebenarnya Boboiboy sendiri terinspirasi dan dipengaruhi oleh anime Jepang sebagaimana diakui oleh sang produser NIZAM RAZAK. Alasan ia membuat jenis animasi adalah untuk mengingat kembali/ menghadirkan masa kanak-kanak, dimana era 80/90­-an bagi anak­-anak anime begitu terasa .. (tahu lah anak jaman sekarang SD-SMA lebih suka film yang tak mendidik, yang tak sesuai dengan usia mereka; tidak perlu saya sebutkan disini).

Dibandingkan dengan Naruto, juga One piece yang terkendala dengan beberapa konten yang dianggap vulgar hingga pernah masuk daftar pencekalan, Nizam membuat langkah yang lebih baik.  Ia ingin tayangan ini diminati oleh semua usia, berkelanjutan dan tak tanggung-tanggung Go International. Dengan team work yang ia miliki, sayayakin semua itu bisa segera terwujud.. amin.

>

>

Begitulah, beberapa orang memiliki mungkin ide­-ide yang sama tapi itu terserah hasil akhir bagaimana mereka mempresentasikan ide­-ide mereka dalam bentuk sebuah karya utuh yang mampu memenuhi permintaan pasar yang ada.
Demikian, semoga menginspirasi .

 

NB:

Maaf, bukannya saya anti karya2 luar tersebut, bahkan saya seorang penggemar anime sejak kecil hingga buku pelajaran SD saya dipenuhi coretan/ gambar Saint Seiya, Spiderman, Power Ranger, dsb. Ini lebih sebagai kritik halus agar kita tidak menjadi penonton/objek pasar semata tetapi harus ada timbal baliknya. Pertukaran budaya itu saling melengkapi, bukan mendominasi. Please review post sebelumnya Menuju Indonesia Maju 2030. Tvm.