Inti agama itu keyakinan tentang Tuhan yang timbul dari kebenaran pasti dan disetujui oleh akal. Kalau ada keyakinan yang ditolak oleh akal, artinya agama itu agama akal-akalan. Setiap manusia dikaruniai Tuhan akal, maka gunakan akal untuk mengenal sebenar-benar Tuhan.
Berikut ini argumentasi tentang Tuhan yang pasti diterima akal. Jadi catatan ini khusus bagi yang berakal. Yang gak berakal, ya udh ke pinggir…wkwkwkwk!!
Prinsip sederhana:
TUHAN TIDAK SAMA DENGAN MAKHLUK; PENCIPTA PASTI TIDAK SAMA DENGAN CIPTAAN.

– makhluk ada karena di-ada-kan Tuhan, PASTI Tuhan ADA tanpa ada yang meng-ada-kan.
– makhluk ber-awal dan ber-akhir, Tuhan PASTI tidak berawal dan tidak berakhir karena awal dan akhir juga makhluk Tuhan.
– makhluk beribu-bapak, Tuhan PASTI tidak beribu dan tidak berbapak karena Tuhan Pencipta segala sumber.
– makhluk bisa menitis pada makhluk, Tuhan PASTI tidak menitis pada makhluk, sebab menitis itu hanya terjadi pada sesama makhluk.
Kalau ada yang ngeyel lalu bilang:“Tuhan ‘kan Mahakuasa, Bisa Segalanya, pasti Tuhan Yang Mahabesar bisa “masuk” pada makhluk-Nya yang mahakecil.”
Jawab begini saja:“Ada keperluan apa Tuhan menyurup ke dalam makhluk-Nya? Untuk membantu manusia melawan kekuatan Iblis? Kalau begitu kekuatan Tuhan dan kekuatan Iblis itu setanding dan sebanding dong? Kalau begitu, artinya Tuhan tidak Mahakuasa dong?! [wek-weeew :D]
makhluk punya nama dari Sang Pemberi Nama, Tuhan tidak ada yang memberi Nama selain Diri-Nya sendiri. Itu pun untuk keperluan makhluk.
makhluk memiliki bentuk/rupa, Tuhan PASTI tidak berbentuk/rupa karena Tuhanlah Pencipta segala bentuk,
makhluk memiliki warna, Tuhan PASTI tidak berwarna karena Tuhanlah Pencipta segala wewarna.
makhluk memiliki bau, Tuhan PASTI tidak memiliki bau karena Tuhanlah Pencipta segala bebauan.
makhluk menempati ruang (bertempat), di dalam arah (kiri-kanan-atas-bawah-depan-belakang-samping), dan dipengaruhi waktu, Tuhan PASTI tidak memerlukan tempat, tidak di dalam ruang dan arah, dan tidak dipengaruhi waktu. Tuhan tidak ada keperluan pada makhluk2-Nya. Tuhan tidak bertempat di langit (seperti gemintang), tidak di surga (khayangan, nirwana, firdaus)  karena Tuhan Mahabesar, mustahil makhluk bernama langit dan sesurga itu lebih besar daripada Kemahabesaran Tuhan dan sanggup “menampung” Tuhan.
makhluk bergerak: datang dan pergi, naik dan turun, timbul-tenggelam. Tuhan tidak bergerak-tidak diam: tidak datang-pergi, tidak naik-turun, tidak timbul-tenggelam.
Simpelnya:
Ketahui bahwa wujud makhluk ciptaan Tuhan itu terdiri atas empat besar:
Sesuatu yang nyata dipandang mata: berbentuk, dapat dlihat, dan dapat diraba dengan pancaindera, seperti jasad manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda lainnya.
Sesuatu yang gaib: berbentuk, tetapi tidak dapat dilihat dan tidak dapat diraba dengan pancaindera, seperti angin, angan-angan, bebauan, surga-neraka, malaikat, iblis, jin, setan.
Sesuatu yang berupa cahaya-cahaya. Cahaya matahari, petir, lampu, dsb. Malaikat juga termasuk golongan ini.
Segenap kualitas makhluk, seperti baik-buruk, tinggi-rendah, putih-legam, keras-lunak, kasar-lembut, dsb.
Pastikan Tuhan itu tidak sama dengan semua di atas itu. Jadi kalau ada tuhan yang bisa dibayang-bayangkan, digambarkan, dipahatkan, diukirkan, diumpamakan begini-begitu, dsb. Pastikan itu tuhan batal. Tuhan palsu. Tuhan akal-akalan makhluk.
Jadi, apa susahnya mengenal Tuhan? Cukup dengan mengetahui yang bukan Tuhan.
Setiap yang berakal, pasti tunduk pada Tuhan yang tidak serupa dengan makhluk. Itulah namanya keyakinan yang kokoh.
Agama itu keyakinan, bukan keraguan.

 

======
Catatan ini sengaja tidak dilengkapi dengan kutipan dalil maupun istilah-istilah dari khazanah agama Islam sebab sejatinya catatan ini dulu dibuat untuk dimuat di grup Diskusi Agama (facebook) yang adminnya nonmuslim dan para anggotanya dari berbagai agama di Indonesia. [Kami di-kick taklama setelah memuat artikel “mematikan” ini, hehehe]
by : facebook.com-Adam Troy Effendy