Category: Humaniora


Murid: Pak, saya punya dua pertanyaan, yang pertama adalah, kenapa sih Tuhan menguji Ibrahim dengan menyuruhnya mengorbankan anaknya? kenapa bukan istrinya, atau mengujinya dengan tugas yang lain saja? Kedua, kenapa kita disuruh mengorbankan binatang ternak? bukankah hal ini mirip dengan pengorbanan suku bar-bar jaman dulu?

Guru: Nak, kalau pertanyaan “kenapa Allah …” itu sebenarnya hanya Allah lah yang lebih tahu jawabannya. Namun bapak bisa berkhusnudzon kepada-NYA untuk menjawab pertanyaan kamu.
Pertanyaan kamu yang pertama, mungkin maksud Allah adalah ingin menaikkan derajat Ibrahim ketingkat IHSAN. Orang orang muhsinin itu adalah orang orang yang melakukan Kebajikan tingkat tinggi. Tidak semua orang dapat melakukannya. Salah satu Contoh Kebajikan tingkat tinggi ini adalah menafkahkan/memberikan sesuatu yang kita sukai/cintai dengan bersandarkan kepada ridho Allah.

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya“. (QS 3:92)

Nah, yang paling dicintai Ibrahim saat itu adalah anak laki lakinya Ismail. Ingat bahwa Ibrahim jauh jauh hari sudah sangat ingin punya anak, sampai-sampai Istrinya Sarah, yang melihat keinginan suaminya, merelakan suaminya untuk menikahi Hajar agar memiliki anak. Nah ketika Ismail lahir, maka Ismail inilah yang sangat di cintai oleh Ibrahim. Karena itulah mungkin Allah menguji Ibrahim dengan menyuruh mengorbankan Ismail yang sangat dicintainya. Mungkin juga sebagai pengingat kepada Ibrahim bahwa semua yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Allah, termasuk anak. Dan Ibrahim memang orang yang muhsinin, karena dia mengorbankan apa yang paling dicintainya dengan berharap ridho Allah.
Sedangkan pertanyaanmu yang kedua, jawabnya adalah TIDAK SAMA antara kurban kita dengan kurban-kurban yang kamu sebutkan tadi. Kurban mereka memang diperuntukkan untuk dewa-dewa mereka. Jadi kalau mereka mengurbankan hewan, maka artinya hewan itulah yang diperuntukkan bagi dewa mereka; ditinggalkan di tempat pemujaannya. Sedangkan kita, berkurban itu bukan hewan ternaknya yang kita peruntukkan untuk Allah, tetapi ketaqwaan kita dalam berkurbanlah yang kita sampaikan pada-NYA. Makanya daging kurban itu kita bagi-bagi kepada yang berhak menerimanya, karena bukan daging-daging itu yang kita persembahkan untuk-NYA.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik“. (QS 22:37)

Source : https://www.facebook.com/murtadha.kurniawan_11/2011

14237519_1173702012692275_3321461201631664093_n

NB: Iedul Qurban  1437H; Kp.Sukamukti Ds.Situsaeur Kec.Karangpawitan-Kab.GArut

Pepatah dari penduduk sungai amazon yang sejalan dengan sebuah ayat dalam Al-Qur’an :
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS al-A’raf: 56)

= = = = = =

S.SAHALA

Oleh :

S.SAHALA TUA SARAGIH

Dosen Prodi Jurnalistik, Fikom Unpad
= = = = = =

BANYAK orang muda Sunda
mengaku USA (urang Sunda `
asli). Ayah-bunda mereka
niscaya USA Mereka lahir dan
besar di Jawa Barat.” Akan tetapi
mereka tak bisa berbahasa
Sunda. ‘

“Ya, saya mengerti tapi tidak
bisa mengucapkannya/ `ujar
seorang mahasiswa geulis
tersenyum bangga.

”Mengucapkannya mah
Pake mulut atuh. Apa susahnya,”
tanggap saya heureuy tersenyum.

Baheula mah para’ tokoh
pejuang kemerdekaan Indone
sia yang menikmati pendidikan
tinggi di luar negeri, terutama
Eropa Barat, menguasai
beberapa bahasa  asing (interna-
sional). Ketika kembali ke ‘
Tanah Air mereka tetap ‘
menguasai bahasa ibu (bahasa
daerah) masing-masing. Bahkan
banyak di antara mereka yang
sangat fasih berkomunikasi i
dalam beberapa bahasa daerah;
Tentu saja mereka bukanlah
Sarjana-sarjana bahasa atau
Sosiologi-antropologi.

Pada tahun 19704an hingga
1980-an penulis mengamati `
bahasa mahasiswa di berbagai ,
kampus di Bandung. Umumnya
mereka fasih berbicara dalam
bahasa ibu (daerah) masing-
masing. Akan tetapi
keadaannya sudah berbalik
hampir 180 derajat.

Di ruang kuliah saya sering
bertanya kepada para mahasis-
wa, siapa yang mampu berbaha-
sa daerah? Dari 30 – 40 mahasiswa
di satu kelas, yang mampu
berbahasa daerah dalam
komunikasi lisan dan tulisan
rata-rata lima orang saja. Ironis-
nya, tak sedikit orang Sunda,
misalnya, yang lahir dan besar
di Bandung dan sekitarnya,
ternyata  mampu berbahasa
Sunda. Mereka mengungkap-
kan bahasa keluarga mereka di rumah
bahasa Indonesia. Padaha,ayah bunda mereka
sehari-hari berbahasa sunda di rumah.Hal yang sama
juga di alami banyak mahasiswa yang mengaku
orang jawa,Batak( yang lahir dan besar di sumatera utara),
Minangkabau,dan beberapa suku bangsa lainnya.
Hanya sedikit kosa kata bahasa ibu orangtua mereka yang dipahami
Hasil penelitian
budayawan Sunda, Tatang sumarsono
yang berjudul, Sikep masyarakat sunda
kana Basa Sunda ‘
(2002) mengungkapkan, hanya
sekitar 35,4 persen keluarga
Sunda yang menggunakan
bahasa Sunda sebagai bahasa
utama dalam komunikasi sosial
sehari-hari, 47 persen berbahasa
campuran Sunda-Indonesia, 64
persen berbahasa Indonesia
saja, sebanyak 1,6 persen .
berbahasa campuran Sunda-
]awa-Indonesia dan 8,8 persen
berbahasa campuran Sunda
Indonesia-Inggris.

Ini dikuatkan pula dengan
agak sulitnya ditemukan
keluarga Sunda di Jabar,
khususnya di Kota Bandung,
yang setiap harinya berbicara –
dalam bahasa Sunda di lingkungannya
. Ia mengakui, sekarang bahasa sunda
sudah tidak begitu laku di Jabar.
Bahkan di kalangan etnik Sunda
sendiri atensi-potensi bahasa,
sastra dan aksara Sunda kini bisa
dikatakan tidak terpelihara dan di kembangkan
lagi. Bila keadaan yang demikian dibiarkan terus,
tidak mustahil bahasa, sastra,
dan aksara Sunda musnah alias
mati tanpa bekas seperti yang
dialami oleh banyak bahasa, di
dunia.
Gejala yang lebih menarik,
bahkan ekstrem, sejak beberapa
tahun yang lalu di Jakarta dan sekitarnya
banyak orang tua muda yang
mengangap dirinya modern,
menyapa anak mereka –
sejak bayi dalam bahasa Inggris. ~
Padahal, dilihat .dari status sosial-
ekonomi, sesungguhnya .
mereka berasal dari keluarga
kelas bawah/ tengah yang
tinggal di pinggiran kota, di
gang-gang sempit. Akan tetapi
setelah mereka lulus dari
perguruan tinggi negeri

ternama, lalu bekerja di perusa-
haan-perusahaan multinasional,
dalam tempo relatif singkat _
kelas sosial-ekonomi mereka
melompat cukup tinggi.
Lalu mereka mengidentifikasi diri
sendiri sebagai manusia terpela-
jar dan modern, sehingga anak

, kandung harus disapa dalam
bahasa Inggris sejak bayi,
bahkan sejak dalam kandungan.
Mereka menyekolahkan
Anak – anak mereka sejak
Kelompok Bermain atau Taman
Kanak-kanak yang mengguna-
kan bahasa Inggris sebagai
bahasa pengantar. Mereka `
sangat bangga mampu menye-
kolahkan anak-anak mereka ke
sekolah-sekolah berlabel
international. Sejak bayi anak-
anak mereka diberi mainan dan
tontonan yang semuanya `

‘ bérbahasa Inggris. Semua
` perangkat rumah tangga juga’
disebut dalam bahasa Inggris. ~
Dengan kesadaran dan kebang
an yang sepenuh penuhnya,bahasa inggris
mereka jadiakan sebagai
bahasa ibu anak-anak
kandung mereka. Dengan
harapan  kelak anak-anak
mereka bisa kuliah di universi-
tas-universitas internasional
ternama di luar negeri
Fenomena yang lebih ekstrim
lagi, anak-anak mereka diajar
menyapa kakek nenek kan-
dun , paman, bibi, dan sanak
– saudara dalam bahasa Inggris
pula. Sejak bayi anak mereka
diajar menyapa nenek grandma
(grand mother), kakek disapa
grandpa (grand father), paman
paman di sapa ( uncle ) bibi disapa anti ( aunty)
dan setereusnya.
Para orang tua muda yang tergolong`
snobistis atau angk uh itu
benar-benar mengajar dan mendidik
anak-anak mereka seolah-olah
tak berpijak di bumi Indonesia.
,Mereka menjadi manusia
ahistoris dan  antitradisi serta
kebudayaan asli daerah orang

‘ tua kandung mereka. Padahal,
para kakek-nenek. yang
dianggap tradisional itu sangat
rindu disapa oleh cucu-cucu
mereka dalam bahaSa daerah
masing-masing, misalnya, aki-
nini (Sunda) atau eyang atau
mbah (Jawa) atau ompuñg (baca:
oppung) (Batak Toba dan Batak
Simalungun).

‘Yah, apa boleh buat, yang
berkuasa dalam rumah tangga
abad 21 tersebut adalah ayah
ibu yang menganggap diri
sebagai manusia
terpelajar dan modern. gara-
gara sapaan dalam bahasa
Inggris kepada kakek -nenek
kandung, kerap sekali hubung
an` keluarga antara Orangtua
`(kakek-nenek) dengan anak ‘
dan menantu menjadi retak
atau renggang. Para ‘kakek-
nenek itu marah besar
kepada anak dan menan-
tu masing-masing karena
sikap sok “modern” dan
angkuh mereka. Sayang nian
mereka tak mengetahui sejarah
para tokoh besar pejuang
merdekaan republik ini,
Mereka tak mau berguru-
kepada nenek moyang yang
prestasi dan kualitasnya jauh di
atas mereka sendiri.
Dapatlah kita bayangkan dan
. perkirakan bila jumlah orangtua
‘ ”modern” dan snobistis seperti
ini terus meningkat di negeri ini.
Jangankan berbahasa daerah,
berbahasa’Indonesia pun cucu-
cucu, generasi muda Indonesia
abad 21 itu, pasti terbata-bata.
Mereka bagaikan orang asing di
negeri sendiri. Entah di bumi
mana mereka berpijak, Bahasa
.ibu anak-cucu kita adalah bahasa
, Inggris. Mereka sangat bangga
tak mampu berbahasa daerah
sama sekali dan terbata-bata
berbahasa Indonesia.
Oleh karena itu dapatlah
dipastikan, semakin lama
semakin sedikit pengguna
bahasa-bahasa daerah di Tanah
Air. Niscaya pula semakin lama
semakin banyak bahasa daerah
yang MPP (mati pelan-pelan)
alias Dahulu kita , .
memiliki 743 bahasa daerah
namun kini sebagian besar (60 persen) sudah punah x
‘Apakah anak-cucu kita itu
peduli terhadap tragedi budaya
ini? Tentu saja tidak. Lalu siapa
yang masih peduli terhadap bahasa-bahasa
daerah, di tanah air pemerintah pusat dan daerah.serta media masa
seharusnya menjadi pihak yang

‘ paling peduli dan bertangung
jawab dalam pelestarian harta
asli bangsa kita ini.Haruslah disadari,
kepunahan bahasa bahasa daerah
niscaya diikuti kepunahan
budaya pula,dan
pada akhirnya kepunahan masyarakat.
Bahasa daerah
adalah refleksi dan jati diri yang ‘

paling kokoh dari sebuah
budaya. Oleh karennya, upaya `
serius dalam menyelamatkan
bahasa-bahasa daerah perlu
segera dilakukañl sehingga
Indonesia tetap menjadi negara
bhineka tunggal ika, Media
massa nasional dan lokal – kalau
mau dan peduli – bisa berperan
besar dalam penyelamatan .
bahasa-bahasa ibu (daerah) di
tanah Air.

= == =

Referensi :

Harian Umum Pikiran Rakyat, 22/02/2016

Ilusi Sosial Media

Paling kesel klo jauh-jauh maen ke sodara/ kerabat, anak-anaknya cium tangan sebentar, terus pada sibuk sendiri .. :{

gadget-anak

(Ilustration)

 

link to video : illution of socmed

 

 

Renungan Akhir Tahunku

Mengevaluasi kinerja pribadi itu mudah, banyak contohnya
Mengevaluasi kinerja perusahaan juga mudah, banyak contohnya
Mempelajari gaya hidup orang lain juga mudah, banyak contohnya
Mempelajari kemajuaan usaha orang lain  juga mudah, banyak contohnya
bahkan meniru kemajuan bangsa lain juga mudah, banyak contohnya.

Andai umurku begitu panjang,niscaya kupelajari pula cara membuat kapal tuk kita pergi ke bulan
Sayangnya umur itu terlalu pendek untuk mempelajari segala hal, dan dunia juga bukan tempat yang abadi tuk mewujudkan semua mimpi..

Maka yang susah itu mengevaluasi KEMATIAN; sesuatu yang tak ada contoh selain permulaanya, setelah itu kita tak tahu cerita apa setelahnya. Adakah bahagia di alam penantian sana, ataukah menderita karena disiksa setiap harinya.
Sungguh tak bisa kita lihat, sungguh tak bisa dipelajari, sungguh tak bisa dievaluasi.

Yang bisa kita lakukan hanyalah percaya bahwa kita semua kan mengalami,
dan percaya akan semua janji Sang Pemilik Mati..
bahwa Dia akan membalas segala perbuatan kita selama di dunia ini tanpa ada yang terlewat dan tersisa
Siapa banyak berbuat baik akan berakhir bahagia, dan siapa banyak berbuat jahat akan berakhir celaka.

Semua kembali kepada kita.

===================

Bila Tiba

by :  Ungu

Saat tiba nafas tiba diujung hela

Mata tinggi tak sanggup bicara

Mulut terkunci tanpa suara

Bila tiba saat berganti dunia

Alam yang sangat jauh berbeda

Siapkah kita menjawab semua pertanyaan

Bila nafas akhir berhenti sudah

Jantung hati pun tak berdaya

Hanya menangis tanpa suara

Mati, tak bisa untuk kau hindari

Tak mungkin bisa engkau lari

Ajalmu pasti menghampiri

Mati, tinggal menunggu saat nanti

Kemana kita bisa lari

Kita pasti kan mengalami mati

Mati, tak bisa untuk kau hindari

Tak mungkin bisa engkau lari

Ajalmu pasti menghampiri

Mati, tinggal menunggu saat nanti

Kemana kita bisa lari

Kita pasti kan mengalami mati

_________________________
Ungu – Bila Tiba ( Ost. Sang Kiai )

 

*

Berdo’a, itulah pilihan terbaik . karena tiada ciptaan Tuhan yang salah !

Iwan Yuliyanto

pilihan hidup

Bismillah …

Jurnal “Runtuhnya Teori ‘Gen Gay'” yang saya rilis kurang lebih 2 tahun lalu, kembali menjadi Most Viewed Pages di blog ini bersamaan dengan kehebohan publik atas sikap mereka (yang pro dan kontra) atas pelegalan perkawinan sesama jenis oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 26 Juni 2015.

Tidak sedikit mereka yang pro LGBT memberikan komentar dalam jurnal tersebut, kebanyakan berisi pembelaan diri atas nama ‘given by the Creator’, dan tidak sedikit pula diantara mereka yang curhat. Ada juga yang mengaku mengalami kecenderungan disorientasi seksual menulis komentar nasehat ditujukan kepada para pelaku yang memiliki disorientasi seksual juga. Insya Allah curhat dan nasehatnya tersebut akan saya bahas dalam jurnal berikutnya.

Lihat pos aslinya 1.016 kata lagi

Kalau dipikir-pikir, tak teganya rasanya mendidik dia terlalu keras. Bagaimana tidak, sebagai anak terakhir, juga yang terakhir masih sekolah, perempuan pula.. secara adat, berhak rasanya ia DIMANJA. Tapi, begini lah kami adanya, beginilah yang kami mampu. Tak disangka, ia tegar menghadapi semua.

Berikut tulisannya yang membuatku menitikan air mata, tak sengaja kubaca saat mengirim persyaratan JALUR BIDIK MISI ke situs Universitas Padjajaran, Bandung.. makin terharu, karena ini juga hampir cita-citaku dulu.

PERJALANAN HIDUPKU

Perkenalkan namaku…Garut..17 tahun…

Saya berasal dari keluarga besar. Saya anak bungsu dari 12

bersaudara. Bapak saya berusia 72 tahun beliau dikenal sebagai

seorang ustadz, dan untuk menunjang kebutuhan ekonomi keluarga

beliau hidup bertani. Sedangkan ibu saya berusia 64 tahun sebagai ibu

rumah tangga dan seringkali ikut menemani bapak bertani di sawah.

Orangtua selalu mengajarkan hidup sederhana, saya dan kakak-kakak

saya selama sekolah tak pernah mengenal yang namanya uang jajan.

Saya berangkat sekolah dengan menggunakan angkutan umum, uang

saku yang saya dapatkan setiap hari tidak lebih 5000 rupiah, hanya

cukup untuk dua kali naik angkutan umum pulang dan pergi. Oleh

karenanya, saya diharuskan bisa mandiri dan tidak bergantung kepada

Orangtua dalam hal keuangan jika saya diberi kesempatan untuk dapat

melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan nanti.

Saya paham jika Orangtua hanya mampu memberi kami biaya

pendidikan sampai batas jenjang SMA. Akan tetapi semangat saya

tidak pemah kalah oleh kondisi dan lemahnya kemampuan Orangtua

saya dalam membayar biaya pendidikan.

Saya sangat bersyukur Allah SWT titipkan saya dalam keluarga

yang memiliki wawasan Islam yang cukup kentara, di sekolah dan

diluar sekolah pun saya aktif dalam organisasi kerohanian Islam.

sehingga hal itu cukup membentuk karakter pribadi saya untuk

menjadi perempuan yang sangat sadar akan syariat Islam. Saya

diajarkan untuk tidak berpacaran. Selain karena didalam Islam tidak

mengenal adanya pacaran, saya ingin bisa fokus terhadap pendidikan

terlebih dahulu. Selain itu, tentu karena saya masih tergantung

terhadap orangtua, maka sudah sepatutnya saya membahagiakan

mereka dengan tidak memikirkan orang yang spesial terlebih dahulu.

Untuk hal yang berhubungan dengan pekerjaan, keluarga saya

mayoritas terjun dalam bidang pendidikan. Akan tetapi harapan saya

kelak dapat menjadi seorang sarjana dalam bidang Teknologi

Pertanian. Saya tertarik dalam bidang tersebut karena Orangtua saya

adalah petani, profesi tersebut ditekuni secara otodidak sehingga

kuantitas dan kualitas hasilnya pun bisa dengan ruang lingkup

pemasaran yang kecil dengan kualitas konsumsi kalangan bawah. Hal

ini tentu sangat menginspirasi saya untuk membantu Orangtua saya

untuk dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas pertanian

mereka, terlebih lagi saya berharap mampu memberdayakan dan

mengolah hasil pertaniaan dengan melakukan aktivitas wirausaha

dibidang pengolahan hasil pertanian secara kreatif dan inovafif.

Selain saya bisa membatu orang tua, ketika saya menjadi

pengusaha “rumahan” kelak, waktu yang tersita pun tidak terlalu

banyak, sehingga saya memiliki cukup banyak waktu untuk mengurus

Orangtua saya yang sudah sering sakit karena faktor usia mereka yang

mulai renta.

Salah satu nasehat mengenai anak yang selalu saya ingat

adalah “Anak merupakan amanah yang akan dimintai

pertanggungjawabannya”. Apapun yang dilakukan anak tidak akan

mampu menebus jasa orangtua saat ia kecil. Mereka tidak akan pernah

berhenti memikirkan anaknya kapanpun, dan dimanapun ia berada.

Sedangkan anak, belum tentu ia memikirkan kedua orangtuanya. Hal

ini pulalah yang meyakinkan saya untuk memperhatikan orang tua.

Ajaran Orangtua saya mengenai kesederhanaan hidup dan

keberkahan hidup terhadap saya dan kakak-kakak saya akan selalu

saya ingat dan jika kelak saya menjadi seorang ibu. Saya akan didik anak-anak

saya pula untuk hidup beriman, berislam dan sederhana, tidak

tergantung pada orang lain, namun justru bisa membantu yang lain.

Sehingga, jika saya meninggal maka saya mempunyai investasi

terbesar dalam hidup yakni anak-anak yang sholeh dan sholehah yang

bisa mendoakan keselamatan saya diakhirat sana. Karena hidup pada

hakikatnya bukanlah tujuan tetapi sebuah perjalanan .

Ya, begitulah yang kami ajarkan padanya, bahwa sesulit apa pun kondisi yang dihadapi pendidikan nomor satu. Karena ilmu lah yang akan memberi ketenangan dalam susah ataupun senang.. dan ilmu lah yang akan memberimu petunjuk dalam keadaan berhasil maupun terpuruk.

Yang sabar ya, dik?! Do’a ku selalu menyertaimu. *_*

[ ]

46.718 jasad tertanam disini

dDom16Rkse

Banda Aceh: Salah satu sudut jalan menuju dan dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda tampak ramai, Sabtu (27/12/2014) pagi. Hamparan rumput nan hijau laiknya yang tertanam di taman memberikan efek teduh pada pandangan mata.

_

Tempat itu ternyata bukan sembarang ‘lapangan’. Di padang rumput sekitar dua hektare itu dimakamkan puluhan ribu tubuh korban Tsunami Aceh, sepuluh tahun lalu. Ya, tempat itu adalah salah satu kuburan massal korban bencana mahadahsyat yang sempat menyedot perhatian dunia, pada 2004 silam.

Sekitar 46.718 jasad tertanam di padang rumput yang dikelilingi pohon rindang itu. Tidak seperti kuburan biasa, pemakaman massal tersebut tidak disertai batu nisan, by name and by date. Hanya beberapa batu berukuran sedang berwarna merah yang terpancang.

Wajar rasanya jika tempat itu belakangan dikunjungi banyak kerabat korban. Mereka membacakan doa dan surat yassin untuk korban. Mereka juga memanjatkan doa di tiga saung yang tersedia. Adapula yang duduk di sisi batas pemakaman yang di atasnya bertabur kepingan bunga. Mereka tampak khidmat, khusyuk dan sesekali menyeka air mata yang mungkin sudah tak bisa ditahan untuk menetes.

Mereka yang tak tahu pasti di titik mana keluarga mereka dikuburkan seolah tak peduli. Doa demi doa tetap dialunkan dengan indah dalam rangka memeringati sepuluh tahun tragedi tragis itu. Sebagian dari mereka bahkan sama sekali tak tahu apakah kerabat yang mereka cintai ditemukan atau bahkan tetap hilang bersama puing akibat Tsunami.

“Saya tidak tahu apakah anak saya dimakamkan di sini atau masih belum ditemukan,” kata Yusril Syah (64), kepada Metrotvnews.com, di Pemakaman Massal, Siron, Lambaro, Aceh Besar, Sabtu, (27/12/2014).

Warga asal Kaju, Baitussalam, Aceh Besar ini mengaku dirinya kehilangan banyak sanak saudara. Bencana yang melanda Kaju yang hanya berjarak 1 kilometer dari laut, turut menghilangkan satu anaknya, yang saat itu baru saja lulus SMA dan sedang mengikuti tes kepolisian. Semua sanak saudara, termasuk sang anak, tidak diketahui di mana keberadaannya hingga detik ini.

“Yang jelas, setiap Jumat saya selalu luangkan waktu untuk ke sini dan pemakaman massal lainnya. Utamanya, saya mendoakan keluarga saya, tapi juga mendoakan semua korban,” ucap dia.

Sang istri, Nurlela, (62) mengisahkan, dirinya dan anggota keluarga intinya, sempat terpisah satu sama lain pasca tsunami.

“Kami semua kayak orang setengah gila. Kami bertemu setelah satu minggu,” ujar Nurlela yang kini hidup dengan tiga anak lain.

Semakin siang, warga atau keluarga korban semakin ramai mengunjungi pemakaman di mana bendera merah putih setengah tiang terpancang di pintu masuk makam.
OJE

http://news.metrotvnews.com/read/2014/12/27/337308/di-padang-rumput-ini-korban-tsunami-aceh-beristirahat

Suatu ketika pada satu sesi training Chelsea seorang raja asal Italia bernama Zola melakukan tekel teramat keras. Keadaan baik-baik saja sampai ada seorang bocah ingusan bernama John Terry datang menghampiri dan membentak Zola. “Hei, itu keterlaluan, apa yang kamu lakukan? Mau mematahkan kakinya?” teriak Terry kepada Zola.

Seluruh anggota tim terlihat kaget dengan apa yang Terry lakukan. Jody Morris teman ‘nakal’ seperjuangan John Terry sampai harus berkomentar “bagaimana bisa seorang pemain ingusan seperti Terry bisa memarahi Zola didepan satu anggota tim, tidak pernah ada orang yang berani melakukan itu terhadap Zola, bahkan seorang Marcell Desailly pun tidak akan pernah melakukannya” ucap Jody Morris. Sebuah kejadian legendaris dalam sesi training Chelsea yang akhirnya harus terjadi.

Gianfranco Zola di London julukannya adalah “King” alias raja. Dia merupakan salah satu legiun asing tersukses dan disegani di seantero Inggris raya. Jika anda mencari 10 pemain asing tersukses di Liga Inggris sepanjang masa di mesin pencari google, Zola sudah pasti ada di list teratas, tidak mungkin tidak. Segala atribusi itu tidak berlaku bagi John Terry. Reaksinya terhadap tekel Zola merupakan salah satu bentuk perlawanan dan jiwa kepemimpiman yang ternyata benih-benihnya sudah ada sejak dia kecil, Terry merasa tidak ada yang salah dengan itu.

Hingga akhirnya seorang raja bernomor punggung 25 itu harus pensiun dari Chelsea untuk kembali ke Italia. Saat sesi wawancara menjelang Zola pulang kampung, jurnalis bertanya “apa pesan untuk Chelsea sebelum anda pergi?” Zola dengan tegas menjawab “Chelsea harus mulai memperhatikan potensi John Terry. Dia akan tumbuh menjadi pemain besar jika diberikan kesempatan”.

Sebuah pesan dari sang legenda yang ternyata terbukti kebenarannya. Terry bukan saja tumbuh menjadi pemain besar lagi, tetapi dia yang menyandang ban kapten Chelsea hingga kini. Memenangkan Liga Inggris setelah 50 tahun tidak pernah juara, memenangkan Liga Champions untuk pertama kalinya, lalu menjadi kapten tim nasional Inggris. Bocah ingusan yang membentak Zola pada sesi latihan itu kini benar-benar menjadi pemain besar.

Ucapan Zola adalah doa? Entahlah…

Berpindah ke bagian bumi yang lain, Hari itu di stadion Siliwangi Bandung tahun 2007. Skuad Persib asuhan seorang Moldova bernama Arcan Iiurie melakukan ujicoba melawan juniornya. Prototype pemain junior Bandung selalu sama ketika melawan tim senior dari tahun ke tahun. Bermain sopan, tidak boleh kasar, takut melakukan tekel, bangga bisa satu lapangan dengan para senior sambil sesekali berkhayal suatu saat mereka bisa di posisi para senior yaitu menggunakan jersey Persib senior. Sama halnya dengan para pemain senior. Merasa sebagai pemain senior, mereka seperti haram untuk kalah. Gengsi dan marah ketika ditekel.

Terlalu menghargai senior dan someah. Ini yang lazim terjadi jika tim junior Persib sedang berhadapan dengan seniornya. Sikap bangga akan tim ini mengalahkan rasa bahwa sebetulnya selama 90’ menit dilapangan apapun yang terjadi lawanmu adalah lawanmu yang harus dikalahkan.

Sampai pada satu kejadian dimana ada bocah kecil, botak, berlari sangat cepat dan bermain ngotot. Kemudian diketahui anak itu bernama Ferdinand Alfred Sinaga. Ferdinand hari itu bermain sangat merepotkan Patricio Jimenez, seorang libero paling stylish yang pernah ada di Persib asal Chile.

Pato Jimenez ditekuk, digocek, diajak sprint, dan yang paling membuat malu adalah Jimenez “dikolongin” alias di nutmeg oleh Ferdinand. Hal yang membuat bobotoh tertawa melihat kejadian itu. Jimenez tidak terima diperlakukan seperti itu hingga pada satu kesempatan ketika Ferdinand sedang menguasai bola, Pato berlari lalu menghajar tulang kering Ferdinand. Bukannya jatuh dan kesakitan, Ferdinand malah bangkit dan berdiri untuk membentak Jimenez, Pato yang merasa lebih senior membentak balik. Unik, Ferdinand tidak mundur sedikitpun malah maju untuk melawan. Hal paling rock n roll yang pernah saya lihat untuk ukuran bocah berumur 19 tahun. Keributan sekitar 10 menit yang harus dipisahkan oleh kedua belah tim. Partai dilanjutkan, bukannya menghindar, Ferdinand malah “menantang” Jimenez untuk kembali berduel. Alhasil keributan – keributan kecil terjadi lagi hingga akhirnya Ferdinand harus ditarik keluar untuk diganti. Bobotoh yang hadir di Siliwangi saat itu sontak meneriaki Ferdinand. Beberapa ada yang melempar dengan botol air mineral. Pemandangan yang jarang terjadi untuk sebuah partai persahabatan.

Ferdinand yang masih emosi keluar dengan hujatan dan makian dari bobotoh. Hingga akhirnya Arcan Iiurie harus keluar dari bench untuk menghampiri Ferdinand. Mulanya Arcan menyalami Ferdinand, untuk kemudian ia memeluk Ferdinand agak lama dan menepuk pundaknya. Di akhir pertandingan, pelatih beruban itu menjelaskan alasan kenapa dia memeluk Ferdinand. “Dia pemain bagus. Percayalah dia akan menjadi pemain besar” ucap Arcan Iiurie.

Waktu berlalu, tujuh tahun kemudian anak ingusan yang mengolong-ngolongi Pato Jimenez itu tumbuh menjadi penyerang asli produk Bandung yang paling produktif. Siapa pemain Bandung yang selama tiga musim terakhir rasio golnya selalu diatas 10 gol per musim di liga level top flight? tidak ada. Hanya Ferdinand yang mampu melakukannya. 10 gol di Persiwa Wamena musim 2010/2011 termasuk golnya ke gawang Cecep Supriatna di Si Jalak Harupat, Topskor IPL mengalahkan duetnya Edward Wilson Junior di Semen Padang dengan 16 gol musim 2011/2012, kemudian memproduksi 10 gol lagi bersama Persisam Samarinda di musim berikutnya. Produktif dan Stabil.

Waktu pengembaraannya sudah selesai seiring dengan panggilan pulang yang dilakukan oleh gurunya Djadjang Nurjaman. Djanur dan Ferdinand sebelumnya pernah berkolaborasi mempersembahkan emas untuk Kota Bandung pada Porda Karawang tahun 2006 dan menjuarai ISL U21 tahun 2009 bersama Pelita Jaya junior. Lebih dari itu, Ferdinand kecil sering tidur di rumahnya Djanur. Djanur sudah bukan lagi pelatih di mata Ferdinand melainkan seperti orang tuanya sendiri. Waktu untuk mematangkan di Batang, Magelang, Wamena, Padang dan Samarinda dirasa sudah cukup. Ferdinand akhirnya pulang kerumahnya, Persib Bandung. Djanur dan Ferdinand kali ini mencoba mengulang chemistry kesuksesan mereka sebelumnya di tanah yang sudah berjasa membesarkan karir mereka.

Bangga rasanya melihat Ferdinand memimpin tim ini di Inter Island Cup bersama Atep dan Tantan di lini serang. Tiga pituin yang menghabiskan masa kecil sepakbolanya di Bandung sekarang mimpinya terwujud, bermain untuk jersey biru Persib.

Saya lalu teringat omongan Arcan Iiurie di Siliwangi tujuh tahun lalu. Omomngan Arcan adalah doa? Entahlah…

Selalu ada sisi menarik dari seorang badboy semodel John Terry dan Ferdinand. Mereka berdua adalah contoh badboy yang sukses. Bandel, nakal, urakan, liar tetapi dirindukan dan diandalkan. Setelah Boy Jati Asmara, akhirnya kita bisa melihat lagi pemain yang bermain penuh semangat, meledak-ledak dan tidak takut akan apapun. Pengalamannya bermain diluar Bandung telah menguatkan karakternya. Kita melihat Boy Jati Asmara dengan level yang lebih canggih pada diri Ferdinand. Akhirnya kita bisa melihat garda terdepan orang yang maju untuk berperang dalam dirinya. Seakan melihat Will Smith dalam film Hancock, pahlawan memang tidak selalu harus berasal dari orang yang bersih suci. Ferdinand Alfred Sinaga adalah sosok anti-hero yang keren. Menjadi pahlawan dari sisi yang “kotor”.

Jika waktu memang berulang dan dejavu itu benar ada, mari berharap pada tweet Ferdinand pada tanggal 28 Januari ini: “Saya yakin Rudiyana akan menjadi pemain yang besar dan menjadi striker yang tajam untuk Persib dimasa depan…”

Omongan Ferdinand adalah doa? Entahlah…

Re-post :
http://simamaung.com/bocah-ingusan-itu-bernama-ferdinand-alfred-sinaga/

Jas Merah, Couch ..!

Bagaimana pun, saya akan tetap mendukung seberapa pun hasil yang kalian capai. Namun sebagai ‘kakak’, boleh kan saya marah sedikit ?! Setidaknya saya hanya ingin mengingatkan satu pepatah pada kalian, pepatah dari salah satu pendiri bangsa; Ir. Soekarno, yang berbunyi : Jas Merah.. Jangan Melupakan Sejarah ! ( sebenarnya tulisan ini lebih ditujukan kepada couch INDRA SJAFRI selaku yang bertanggung jawab atas mereka, istilah pribahasanya; masa anak-anak disalahin ?! ) Ya, ingatkah puncak performa terbaik yang kalian tampilkan, ingatkah pula apa yang membuat kalian seperti itu ? Setidaknya saya tinjau 3 hal :

  1. Jadwal berimbang

Saya lihat, jarak antara final Vs Vietnam hingga laga melawan korsel tidak terlalu berdekatan. Malahan dengan pulang dulu ke halaman masing-masing, dimana kalian dieluk-elukan,, itu adalah obat penawar lelah yang luar biasa bagi kalian. Bandingkan dengan jadwal kalian sebelum Turnamen bulan ini (AFC); Tour Nusantara, Tur Timur Tengah (plus Umroh), Tur Nusantara 2, Hasanal Bolkiah Tropy, dan terakhir, dimana seharusnya kalian beristirahat, malah berangkat ke Spanyol menghadapi lawan-lawan yang begitu berat. Saya lihat, kalian terlalu muda untuk menghadapi jadwal sepadat itu.. andai fisik kuat, mental diragukan.

  1. No Over Eksposed

Sebaimana komitment awal, Couch INDRA SJAFRI bertekad agar kalian fokus terhadap tugas dan tidak diekspos media berlebihan sebagaimana senior-senior kalian (youtube_Hitam Putih_Trans TV_25 September 2013). Namun apa kenyataannya, meski tak jadi artis iklan, pemberitaan media, satus fb, twitter, dsb tak kalah hebatnya. Bahkan saya sesalkan sekali kalian saling mengumbar Presiden pilihan masing-masing, yang mestinya itu aib bagi kalian. Juga saya yakin berbagai tur yang bisa disaksikan secara publik (live streaming) tentu membuat semua lawan makin tahu karakter bermain kalian.

  1. First Time

Apa yang ada dipikiran kalian dengan berlama-lama menggiring bola di area kotak sedang lawan umumnya bertubuh lebih besar lebih dari kalian. Seharusnya kalian lakukan apa yang kalian lakukan saat melawan Korea Selatan.. yang dikenal dengan istilah ‘ Tipikal Timnas U19 ‘ .. saling oper bola  hingga ke sisi pertahanan lawan, diumpan ke tengah, hingga disambut tembakan first time oleh second line.. hasilnya, 3 gol bersarang dengan proses yang hampir sama. Itulah saat kali pertama saya mengagumi kalian ! .

Kemenangan lain di balik kekalahan

Selain kiamat, tiada bencana di dunia ini yang benar-benar menghapus semua harapan. Tiada istilah gagal total. Setidaknya ‘Pendidikan Karakter’ ala Coach Indra membuahkan hasil, itu tampak ketika usai Paolo mencetak gol ke gawang Uzbekistan, dia mengisyaratkan rekan-rekannya untuk sujud syukur meski ia sendiri beda agama. https://www.youtube.com/watch?v=EF_F4iN_y_E

Kendati mayoritas beragama Islam, namun tidak ada pengkotak-kotakan secara sekterian dan primordial di tubuh Timnas U-19. Semua pemain dibebaskan untuk mengekspresikan keyakinannya dan pemain lain yang tidak sekeyakinan didorong untuk menghormati perbedaan tersebut. Mereka semua hidup bersama dalam keberagaman yang dipenuhi toleransi.

Terdapat nama-nama yang berasal dari berbagai suku dan agama. Sebut saja Evan Dimas yang berdarah jawa dan beragama Islam, Maldini Pali; Anak Sulawesi Barat yang beragama Kristen, Putu Gede asal Bali yang tentu beragama Hindu, dan Yabes yang Katolik dari NTT. Tak lupa Ryuji Utomo, anak muda keturunan Jepang & Jawa. Sangat beragam.

Alih-alih menjadi terpecah belah, perbedaan latar belakang itu justru dijadikan sebagai model awal untuk menguatkan identitas kebangsaan.

” Indonesia ini tidak hanya kaya keragaman agama, tetapi juga terdiri atas beragam agama. Para pemain saya rekrut juga dari awal harus mencerminkan keberagaman itu, jadi timnas ini benar-benar mewakili wajah bangsa kita, ” Ujar sang Couch.

Akhir kata, meski kita pulang dengan tangan hampa, ada satu yang tetap kita banggakan; kembalinya identitas kebangsaan lewat sekelompok anak muda penerus kita. Menyadur ucapan rakyat Prancis saat menyambut kedatangan Timnas mereka usai kalah ‘kontroversial’ dari Italia di Piala Dunia 2006 :

No matter, they go home with the trophy, we go home with Zidane, it was more .. “

( Tak mengapa, mereka pulang membawa piala, kita pulang membawa zidane, itu sudah lebih..) _ _ _ Nasi sudah menjadi bubur, mari kita jadikan bubur ayam spesial.

#Keepspirit

pesepakbola-indonesia-evan-dimas-melakukan-selebrasi-usai-mencetak-gol-_131012212709-950

Refferensi :

– Republika Online

http://coachindrasjafri.com/