Category: Humaniora


 

 

 

Termenung melamunkan pundi-pundi uang yang lenyap satu persatu, hingga tak terasa kerugian itu telah memakan biaya berjuta-juta. Dari mulai yang dipercayakan pada saudara, hingga pada mereka yang sekedar kenal di sosial media.

Hingga kubaca sebuah tulisan di wikipedia tentang peristiwa ‘Sabra-Shatila’;

” Hari berikutnya, 15 September, tentara Israel menduduki kembali Beirut Barat, membunuh 88 orang dan melukai 254 orang. Tindakan Israel ini melanggar perjanjiannya dengan AS untuk tidak menduduki Beirut Barat. ([3]) AS pun telah memberikan jaminan tertulis bahwa AS akan menjamin perlindungan warga Muslim di Beirut Barat. Pendudukan Israel juga melanggar perjanjian perdamaiannya dengan tentara-tentara Muslim di Beirut dan dengan Suriah.

Menachem Begin membenarkan pendudukan Israel sebagai “hal yang perlu untuk mencegah langkah-langkah balasan oleh orang-orang Kristen terhadap orang Palestina” dan untuk “menjaga keamanan dan kestabilan setelah pembunuhan Gemayel.” Namun, beberapa hari kemudian, Sharon mengatakan kepada Knesset, parlemen Israel: “Masuknya kita ke Beirut Barat dimaksudkan untuk memerangi infrastruktur yang ditinggalkan oleh para teroris.”

Tentara Israel kemudian melucuti senjata para milisi yang tidak pro Israel maupun warga sipil di Beirut Barat, semampu mereka, sementara membiarkan para milisi Falangis Kristen di Beirut Timur tetap bersenjata lengkap.

Ariel Sharon kemudian mengundang satuan-satuan milisi Falangis Lebanon untuk memasuki kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila untuk membersihkannya dari para teroris. Di bawah rencana Israel, tentara-tentara Israel akan mengontrol daerah sekeliling kamp-kamp pengungsian itu dan memberikan dukungan logistik sementara milisi Falangis memasuki kamp-kamp itu, mencari para pejuang PLO dan menyerahkannya kepada pasukan-pasukan Israel.

Namun pada akhirnya tidak seorangpun yang diserahkan kepada pasukan-pasukan Israel. Tak ada pertempuran ataupun senjata yang ditemukan di kamp-kamp itu. Dokumen-dokumen yang diajukan kepada tuntutan atas kejahatan-kejahatan perang di Belgia terhadap Ariel Sharon konon memperlihatkan bahwa kalim mengenai kehadiran para pejuang PLO di kamp-kamp itu hanyalah sebuah cerita rekaan yang disiapkan oleh Israel.

==========================================================

Ya, itu adalah cerita pengantar peristiwa pembantaian Sabra & Satila, yang memakan korban ribuan warga Palestina. Tak ada reaksi dunia–dalam hal ini PBB–selain kecaman basa-basi. Hingga salah seorang penduduk yang selamat berkata ” Kalau saja kami tak menyerahkan senjata-senjata itu kepada pasukan perdamaian, kalau saja kami tak tertipu gencatan senjata, mungkin kami tak kan dibantai sebanyak ini. Hari itu bergantung pada diri sendiri adalah lebih baik dari pada bergantung pada orang lain yang kau anggap kuat sekalipun !!”


 

Mungkin nasib miris saya hanya sekian persen dari kisah mereka, namun  bukankah uang jutaan rupiah yang raib itu bila dapat saya gunakan dengan baik, dan hasilnya untuk nafkah keluarga atau biaya sekolah kerabat saya yang tak mampu, bukankah itu adalah penyelamatan kehidupan.

” Wa man ahyaahaa fa kaannamaa ahyannaasa jamii’a.. ( Q.S. 02 : 195)

 

Fasobrun jamiil, wa alallohi fal yatawakkalil mu’minuun.

 

 

Iklan

Serial kolosal ini telah disadur ulang dalam beberapa versi cerita TV, tak sedikit pula blog yang memuat tentang sinopsis ceritanya. Ini membuktikan seri ketiga dari trilogi rajawali ini merupakan karangan Jin Yong yang paling banyak diminati. Saya sendiri bukannya latah ikut memposting, namun begitu banyak pesan moral yang saya pelajari disini, terkhusus dari sini lah hobi akan sastra saya mulai tumbuh ( seri Yoko hanya sekedar menonton, tapi seri ini saya tulis di buku resumenya waktu kelas 6 SD, sayang hilang entah kemana.. T_T ).

PERLU DIGARIS BAWAHI, meski kemudian disadur ulang beberapa kali namun versi 1986 ini lah yang terbaik dalam segala hal. Penokohan, dialog, aksi, dan busana yang elegan di setiap episode nya. yang paling utama versi 1986 ini masuk kategori ‘ramah keluarga’ karena tiada adegan romantisme vulgar yang ditampilkan disini, malah terbilang santun.. seolah mengajari bagaimana seorang laki-laki memperlakukan wanita dengan seharusnya.

19756778_1473121399417000_3929480922658383658_n

sebagaimana judul yang saya tulis, seri ini tak hanya mengajari saya tentang sastra tapi juga hal lain diantaranya psikologi karakter yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. simplenya saya sebut saja contoh karakter-karakter wanita:

Anggun, cantik (Tio Beng, Nona Yo/Gaun Kuning)

cerdas, lihai,licik (In So So, Tio Beng)

setian, pengertian  (Tio Beng, Siao Ciao)

pura-pura, penipu (Jhianzeng)

Ingatan, penantian ( Cie Jak, In Lee)

cemburu buta, sadis (Cie Jak)

lembut, tulus ( Yo Put Hui)

Arogan,kejam ( Biat Coat)

ZMWJ 3

Memutuskan hubungan keluarga demi tinggal bersama   Bu kie

pengorbanan, totalitas (In so so & Tio Beng).

dll.

 

 

 

 

 

Oke, mari kita tambah dengan menyebutkan beberapa tokoh utamanya  :

— Thio Bu Kie

mulanya kita mengira orangnya plin-plan karena sulit menjatuhkan pilihan. Namun ini justru sesuai dengan pembawaannya yang yatim-piatu sejak lahir,dimana mereka lebih ingin memuaskan dahaga kasih-sayangnya dibandingkan membahas cinta.  Sayang sikap tak tega dan lembut dari Bu kie inilah yang sering disalahpahami oleh wanita-wanita yang mengelilinginya.

secara benang merah, karakter Bu kie adalah muka sastrawan/kutu buku, wataknya halus dan welas asih, bukan tipe gagah nan ganteng macam Yo Siaw, cenderung cakep culun gk suka ribut, muka lugu yang terkesan tanpa ekspresi dan tidak berpretensi, peragu tapi pemikir–tanpa kehilangan aura seorang pendekar. Semua ini dilatarbelakangi perjalanan hidupnya; Tumbuh sebagai anak yang kurang gaul karena tinggal di pulau, begitu berinteraksi dengan orang-orang langsung kehilangan orang tuanya, terlunta-lunta sendirian, tiba-tiba dibebani amanat besar sebagai ketua partai. Wajar kalau ia terlihat ‘datar’ soal cinta, walau mudah iba pada wanita cantik. Selalu melihat kebaikannya saja tanpa terlalu memikirkan kelicikan mereka.

The four girls

4 Gadis Bu Kie

Bu kie juga digambarkan memiliki bakat alamiah yang kadang dimiliki seorang yatim, diantaranya Fotografik Memori; kemampuan mengingat sesuatu secara detail meski hanya melihatnya sekilas atau telah lama sekali berselang. Seperti yang ia peragakan saat mempelajari Tai Chi dari Thio sam hong, dan meniru jurus cakar shaolin sewaktu pertarungan di bukit terang.

—  Tio Beng (Minmin Temur)
Wanita satu ini dilukiskan sebagai sangat mempesona sekaligus kejam menakutkan. Ia diberi tugas ayahnya menumpas pemberontak dan membawahi banyak pesilat-pesilat tangguh karena kepiawaiannya berstrategi dan berdiplomasi. Dalam novel, disebutkan “dibalik kecantikannya, terdapat hawa keangkeran dan kegagahan yang membuat orang hormat kepadanya”. Sifatnya dominan dan autoritatif namun juga penuh pengorbanan terhadap orang yang dicintainya yaitu Thio Bu Kie.

Tujuan sebenar Tio Beng  mendekati Bu Kie adalah berharap ia mau mengabdi kepada pemerintah mongol dan sekaligus menjadi suaminya, sehingga bisa menghindari perjodohannya dengan seorang pangeran. Namun akhirnya ia memilih untuk mengikuti Bu kie meski menolak untuk berperang dengan ayahnya.

Sebagai pemeran Tio Beng, Kitty Lai Me han adalah talenta paling tinggi di film ini. Di usianya yang ke-20, ia mampu menyaingi rekan”nya yang lebih tua. Meski wajahnya cantik semanis gula, tapi lihai pula menyamar sebagai pria tampan. Apalagi waktu datang ke Butong pertama kali, aduh laganya ‘BANGSAWAN abis !!.. hahaa..

ZM 4

Sang Bangsawan

— Ciu Ci Jiak.

Orantuanya dibunuh perampok, lalu ia diselamatkan Thio Sam Hong. Karena Butong tidak menerima murid wanita, ia pun diserahkan pada Gobi/ Biat Coat untuk diasuh. Ia sempat merawat Bu Ki yang saat itu telah terkena racun tapak dingin.Ciu Ci Jiak segera jatuh cinta pada Thio Boe Ki, tetapi kemudian berbalik melawan Boe Ki setelah dia diminta bersumpah di hadapan gurunya, Biat Coat Suthay, yang membenci dan tidak mempercayai siapa pun dari aliran Bengkaw yang dianggap sesat.

—Siao Ciao

Sia Ciao adalah anak dari nenek bunga emas/ naga ungu. Ia disuruh ibunya untuk mencuri kitab pusaka aliran Bengkaw/ Ming dengan menyamar menjadi seorang pelayan. ketika gerak-geriknya terbaca, Yo Siaw merantai kakinya dengan borgol keras yang konon terbuat dari ekstrak meteorit. Hanya ditengok ibunya 1-2 kali setahun, bahkan pernah tak diakui anak membuat ia begitu luluh melihat kebaikan dan sikap lembut Bu Ki padanya. Ia malah membantu Bu Ki membacakan kitab pusaka (ilmu pergeseran langit dan bumi) ketika telah ditemukan. Ia pun enggan meneruti perintah untuk meracuni Bu Ki saat di pulau ular.

Siao Ciao kembali ke Persia setelah terungkap kenyataan bahwa dia telah ditakdirkan untuk menjadi ketua aliran Bengkauw cabang Persia. Meski mulanya enggan, ia akhirnya menyanggupi demi menyelamatkan ibunya dari hukuman mati, pula agar kapal Bu Ki tak ditembak meriam. Yang menarik, saat perpisahan Sia Ciao masih memposisikan dirinya sebagai pelayan dengan memakaikan selendang persia pada pada Bu Ki..persis dengan gaya biasanya ( In Fact; ia lebih tinggi kedudukannya karena Bengkaw disini adalah anak cabang).   Sad Ending bngt… T_T

 

— Para Pejabat Sekte Ming

Ketua : Thio Bu Kie
2 Utusan:
1.Utusan Kiri: Yo Siao. Digambarkan tegas, tampan, berwibawa, dan ilmunya sangat tinggi. Ialah ayah Yo Put Hui.
2.Utusan Kanan: Fan Yao. Keberadaannya masih misterius, belum ada yang tahu bahwa ia menyusup (menyelidiki Seng Kun) sebagai salah satu jago silat bawahan Minmin/Tio Beng.
4 Raja Pelindung:
1. Raja Naga Ungu, atau Nenek Kim Hoa/Nenek Bunga Emas. Ia berdarah Cina-Persia dan kabur dari Sekte Ming Persia karena melanggar aturan tidak menikah. Sebenarnya ia merupakan wanita cantik primadona Sekte Ming. Ibu kandung dari Siao Ciao.
2. Raja Elang Alis Putih: In Thian Cheng, ayah In So So yang sempat mendirikan partai sendiri saat Sekte Ming penuh konflik
3. Raja Singa Emas: Cia Sun. Ialah sebenarnya yang ditunjuk sebagai Ketua Sekte Ming, namun akibat perbuatan Seng Kun, hidupnya berantakan
4. Raja Kelelawar Hijau: We Yisiao, ilmu meringankan tubuhnya termasuk yang paling tinggi di antara pesilat pada jamannya. Kebiasaannya menghisap darah untuk menyambung hidup telah disembuhkan oleh Thio Bu Ki.

Ming Sect

 

Kredit point

lost world

1. Aspek wuxia (cerita dunia persilatan). Kita boleh terpukau oleh cerita cinta, tetapi kalau suatu wuxia hanya fokus di cerita cinta, bukan wuxia namanya . Adegan silat harus digarap serius. Tetapi jangan salah, adegan silat yang keren tentu tidak cukup kalau emosi kita tidak melekat pada karakter yang sedang bertarung. Seperti hanya melihat pertarungan yang indah tapi sebenarnya kita tidak peduli pada tokoh yang bertarung. Oleh karena itu aspek wuxia selain soal adegan silat atau peperangan, penggambaran ilmu-ilmu silat yang memukau, ada juga nilai-nilai seperti persaudaraan, kesetiakawanan,dan kepahlawanan.

2. Sama sekali tidak terkesan mengeksploitasi sisi kecantikan ataupun kelemahan wanita. Tiada isu kesetaraan gender disini. Tidak under (jadi objek tertindas) macam bollywood & telenovela, tidak pula hiper macam Holywood & korean drama. Semua tampil dengan proporsinya masing2.

3. Penokohan yang kuat oleh para aktornya. Sangat tahu bagaimana harus bermain sebagai pemain muda, tahu pula saat berperan sebagai yang sudah menua. Talent-Costum-Chemistry, nilai 10 pokoknya.

3 catatan saya :

1. Aspek wuxia (cerita dunia persilatan). Kita boleh terpukau oleh cerita cinta, tetapi kalau suatu wuxia hanya fokus di cerita cinta, bukan wuxia namanya . Adegan silat harus digarap serius. Tetapi jangan salah, adegan silat yang keren tentu tidak cukup kalau emosi kita tidak melekat pada karakter yang sedang bertarung. Seperti hanya melihat pertarungan yang indah tapi sebenarnya kita tidak peduli pada tokoh yang bertarung. Oleh karena itu aspek wuxia selain soal adegan silat atau peperangan, penggambaran ilmu-ilmu silat yang memukau, ada juga nilai-nilai seperti persaudaraan, kesetiakawanan,dan kepahlawanan.

2. Sama sekali tidak terkesan mengeksploitasi sisi kecantikan ataupun kelemahan wanita. Tiada isu kesetaraan gender disini. Tidak under (jadi objek tertindas) macam bollywood & telenovela, tidak pula hiper macam Holywood & korean drama. Semua tampil dengan proporsinya masing2.

3. Penokohan yang kuat oleh para aktornya. Sangat tahu bagaimana harus bermain sebagai pemain muda, tahu pula saat berperan sebagai yang sudah menua. Talent-Costum-Chemistry,

 

*  *  *

Source 1

Source 2

Source 3 Baca lebih lanjut

Murid: Pak, saya punya dua pertanyaan, yang pertama adalah, kenapa sih Tuhan menguji Ibrahim dengan menyuruhnya mengorbankan anaknya? kenapa bukan istrinya, atau mengujinya dengan tugas yang lain saja? Kedua, kenapa kita disuruh mengorbankan binatang ternak? bukankah hal ini mirip dengan pengorbanan suku bar-bar jaman dulu?

Guru: Nak, kalau pertanyaan “kenapa Allah …” itu sebenarnya hanya Allah lah yang lebih tahu jawabannya. Namun bapak bisa berkhusnudzon kepada-NYA untuk menjawab pertanyaan kamu.
Pertanyaan kamu yang pertama, mungkin maksud Allah adalah ingin menaikkan derajat Ibrahim ketingkat IHSAN. Orang orang muhsinin itu adalah orang orang yang melakukan Kebajikan tingkat tinggi. Tidak semua orang dapat melakukannya. Salah satu Contoh Kebajikan tingkat tinggi ini adalah menafkahkan/memberikan sesuatu yang kita sukai/cintai dengan bersandarkan kepada ridho Allah.

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya“. (QS 3:92)

Nah, yang paling dicintai Ibrahim saat itu adalah anak laki lakinya Ismail. Ingat bahwa Ibrahim jauh jauh hari sudah sangat ingin punya anak, sampai-sampai Istrinya Sarah, yang melihat keinginan suaminya, merelakan suaminya untuk menikahi Hajar agar memiliki anak. Nah ketika Ismail lahir, maka Ismail inilah yang sangat di cintai oleh Ibrahim. Karena itulah mungkin Allah menguji Ibrahim dengan menyuruh mengorbankan Ismail yang sangat dicintainya. Mungkin juga sebagai pengingat kepada Ibrahim bahwa semua yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Allah, termasuk anak. Dan Ibrahim memang orang yang muhsinin, karena dia mengorbankan apa yang paling dicintainya dengan berharap ridho Allah.
Sedangkan pertanyaanmu yang kedua, jawabnya adalah TIDAK SAMA antara kurban kita dengan kurban-kurban yang kamu sebutkan tadi. Kurban mereka memang diperuntukkan untuk dewa-dewa mereka. Jadi kalau mereka mengurbankan hewan, maka artinya hewan itulah yang diperuntukkan bagi dewa mereka; ditinggalkan di tempat pemujaannya. Sedangkan kita, berkurban itu bukan hewan ternaknya yang kita peruntukkan untuk Allah, tetapi ketaqwaan kita dalam berkurbanlah yang kita sampaikan pada-NYA. Makanya daging kurban itu kita bagi-bagi kepada yang berhak menerimanya, karena bukan daging-daging itu yang kita persembahkan untuk-NYA.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik“. (QS 22:37)

Source : https://www.facebook.com/murtadha.kurniawan_11/2011

14237519_1173702012692275_3321461201631664093_n

NB: Iedul Qurban  1437H; Kp.Sukamukti Ds.Situsaeur Kec.Karangpawitan-Kab.GArut

Pepatah dari penduduk sungai amazon yang sejalan dengan sebuah ayat dalam Al-Qur’an :
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS al-A’raf: 56)

= = = = = =

S.SAHALA

Oleh :

S.SAHALA TUA SARAGIH

Dosen Prodi Jurnalistik, Fikom Unpad
= = = = = =

BANYAK orang muda Sunda
mengaku USA (urang Sunda `
asli). Ayah-bunda mereka
niscaya USA Mereka lahir dan
besar di Jawa Barat.” Akan tetapi
mereka tak bisa berbahasa
Sunda. ‘

“Ya, saya mengerti tapi tidak
bisa mengucapkannya/ `ujar
seorang mahasiswa geulis
tersenyum bangga.

”Mengucapkannya mah
Pake mulut atuh. Apa susahnya,”
tanggap saya heureuy tersenyum.

Baheula mah para’ tokoh
pejuang kemerdekaan Indone
sia yang menikmati pendidikan
tinggi di luar negeri, terutama
Eropa Barat, menguasai
beberapa bahasa  asing (interna-
sional). Ketika kembali ke ‘
Tanah Air mereka tetap ‘
menguasai bahasa ibu (bahasa
daerah) masing-masing. Bahkan
banyak di antara mereka yang
sangat fasih berkomunikasi i
dalam beberapa bahasa daerah;
Tentu saja mereka bukanlah
Sarjana-sarjana bahasa atau
Sosiologi-antropologi.

Pada tahun 19704an hingga
1980-an penulis mengamati `
bahasa mahasiswa di berbagai ,
kampus di Bandung. Umumnya
mereka fasih berbicara dalam
bahasa ibu (daerah) masing-
masing. Akan tetapi
keadaannya sudah berbalik
hampir 180 derajat.

Di ruang kuliah saya sering
bertanya kepada para mahasis-
wa, siapa yang mampu berbaha-
sa daerah? Dari 30 – 40 mahasiswa
di satu kelas, yang mampu
berbahasa daerah dalam
komunikasi lisan dan tulisan
rata-rata lima orang saja. Ironis-
nya, tak sedikit orang Sunda,
misalnya, yang lahir dan besar
di Bandung dan sekitarnya,
ternyata  mampu berbahasa
Sunda. Mereka mengungkap-
kan bahasa keluarga mereka di rumah
bahasa Indonesia. Padaha,ayah bunda mereka
sehari-hari berbahasa sunda di rumah.Hal yang sama
juga di alami banyak mahasiswa yang mengaku
orang jawa,Batak( yang lahir dan besar di sumatera utara),
Minangkabau,dan beberapa suku bangsa lainnya.
Hanya sedikit kosa kata bahasa ibu orangtua mereka yang dipahami
Hasil penelitian
budayawan Sunda, Tatang sumarsono
yang berjudul, Sikep masyarakat sunda
kana Basa Sunda ‘
(2002) mengungkapkan, hanya
sekitar 35,4 persen keluarga
Sunda yang menggunakan
bahasa Sunda sebagai bahasa
utama dalam komunikasi sosial
sehari-hari, 47 persen berbahasa
campuran Sunda-Indonesia, 64
persen berbahasa Indonesia
saja, sebanyak 1,6 persen .
berbahasa campuran Sunda-
]awa-Indonesia dan 8,8 persen
berbahasa campuran Sunda
Indonesia-Inggris.

Ini dikuatkan pula dengan
agak sulitnya ditemukan
keluarga Sunda di Jabar,
khususnya di Kota Bandung,
yang setiap harinya berbicara –
dalam bahasa Sunda di lingkungannya
. Ia mengakui, sekarang bahasa sunda
sudah tidak begitu laku di Jabar.
Bahkan di kalangan etnik Sunda
sendiri atensi-potensi bahasa,
sastra dan aksara Sunda kini bisa
dikatakan tidak terpelihara dan di kembangkan
lagi. Bila keadaan yang demikian dibiarkan terus,
tidak mustahil bahasa, sastra,
dan aksara Sunda musnah alias
mati tanpa bekas seperti yang
dialami oleh banyak bahasa, di
dunia.
Gejala yang lebih menarik,
bahkan ekstrem, sejak beberapa
tahun yang lalu di Jakarta dan sekitarnya
banyak orang tua muda yang
mengangap dirinya modern,
menyapa anak mereka –
sejak bayi dalam bahasa Inggris. ~
Padahal, dilihat .dari status sosial-
ekonomi, sesungguhnya .
mereka berasal dari keluarga
kelas bawah/ tengah yang
tinggal di pinggiran kota, di
gang-gang sempit. Akan tetapi
setelah mereka lulus dari
perguruan tinggi negeri

ternama, lalu bekerja di perusa-
haan-perusahaan multinasional,
dalam tempo relatif singkat _
kelas sosial-ekonomi mereka
melompat cukup tinggi.
Lalu mereka mengidentifikasi diri
sendiri sebagai manusia terpela-
jar dan modern, sehingga anak

, kandung harus disapa dalam
bahasa Inggris sejak bayi,
bahkan sejak dalam kandungan.
Mereka menyekolahkan
Anak – anak mereka sejak
Kelompok Bermain atau Taman
Kanak-kanak yang mengguna-
kan bahasa Inggris sebagai
bahasa pengantar. Mereka `
sangat bangga mampu menye-
kolahkan anak-anak mereka ke
sekolah-sekolah berlabel
international. Sejak bayi anak-
anak mereka diberi mainan dan
tontonan yang semuanya `

‘ bérbahasa Inggris. Semua
` perangkat rumah tangga juga’
disebut dalam bahasa Inggris. ~
Dengan kesadaran dan kebang
an yang sepenuh penuhnya,bahasa inggris
mereka jadiakan sebagai
bahasa ibu anak-anak
kandung mereka. Dengan
harapan  kelak anak-anak
mereka bisa kuliah di universi-
tas-universitas internasional
ternama di luar negeri
Fenomena yang lebih ekstrim
lagi, anak-anak mereka diajar
menyapa kakek nenek kan-
dun , paman, bibi, dan sanak
– saudara dalam bahasa Inggris
pula. Sejak bayi anak mereka
diajar menyapa nenek grandma
(grand mother), kakek disapa
grandpa (grand father), paman
paman di sapa ( uncle ) bibi disapa anti ( aunty)
dan setereusnya.
Para orang tua muda yang tergolong`
snobistis atau angk uh itu
benar-benar mengajar dan mendidik
anak-anak mereka seolah-olah
tak berpijak di bumi Indonesia.
,Mereka menjadi manusia
ahistoris dan  antitradisi serta
kebudayaan asli daerah orang

‘ tua kandung mereka. Padahal,
para kakek-nenek. yang
dianggap tradisional itu sangat
rindu disapa oleh cucu-cucu
mereka dalam bahaSa daerah
masing-masing, misalnya, aki-
nini (Sunda) atau eyang atau
mbah (Jawa) atau ompuñg (baca:
oppung) (Batak Toba dan Batak
Simalungun).

‘Yah, apa boleh buat, yang
berkuasa dalam rumah tangga
abad 21 tersebut adalah ayah
ibu yang menganggap diri
sebagai manusia
terpelajar dan modern. gara-
gara sapaan dalam bahasa
Inggris kepada kakek -nenek
kandung, kerap sekali hubung
an` keluarga antara Orangtua
`(kakek-nenek) dengan anak ‘
dan menantu menjadi retak
atau renggang. Para ‘kakek-
nenek itu marah besar
kepada anak dan menan-
tu masing-masing karena
sikap sok “modern” dan
angkuh mereka. Sayang nian
mereka tak mengetahui sejarah
para tokoh besar pejuang
merdekaan republik ini,
Mereka tak mau berguru-
kepada nenek moyang yang
prestasi dan kualitasnya jauh di
atas mereka sendiri.
Dapatlah kita bayangkan dan
. perkirakan bila jumlah orangtua
‘ ”modern” dan snobistis seperti
ini terus meningkat di negeri ini.
Jangankan berbahasa daerah,
berbahasa’Indonesia pun cucu-
cucu, generasi muda Indonesia
abad 21 itu, pasti terbata-bata.
Mereka bagaikan orang asing di
negeri sendiri. Entah di bumi
mana mereka berpijak, Bahasa
.ibu anak-cucu kita adalah bahasa
, Inggris. Mereka sangat bangga
tak mampu berbahasa daerah
sama sekali dan terbata-bata
berbahasa Indonesia.
Oleh karena itu dapatlah
dipastikan, semakin lama
semakin sedikit pengguna
bahasa-bahasa daerah di Tanah
Air. Niscaya pula semakin lama
semakin banyak bahasa daerah
yang MPP (mati pelan-pelan)
alias Dahulu kita , .
memiliki 743 bahasa daerah
namun kini sebagian besar (60 persen) sudah punah x
‘Apakah anak-cucu kita itu
peduli terhadap tragedi budaya
ini? Tentu saja tidak. Lalu siapa
yang masih peduli terhadap bahasa-bahasa
daerah, di tanah air pemerintah pusat dan daerah.serta media masa
seharusnya menjadi pihak yang

‘ paling peduli dan bertangung
jawab dalam pelestarian harta
asli bangsa kita ini.Haruslah disadari,
kepunahan bahasa bahasa daerah
niscaya diikuti kepunahan
budaya pula,dan
pada akhirnya kepunahan masyarakat.
Bahasa daerah
adalah refleksi dan jati diri yang ‘

paling kokoh dari sebuah
budaya. Oleh karennya, upaya `
serius dalam menyelamatkan
bahasa-bahasa daerah perlu
segera dilakukañl sehingga
Indonesia tetap menjadi negara
bhineka tunggal ika, Media
massa nasional dan lokal – kalau
mau dan peduli – bisa berperan
besar dalam penyelamatan .
bahasa-bahasa ibu (daerah) di
tanah Air.

= == =

Referensi :

Harian Umum Pikiran Rakyat, 22/02/2016

Ilusi Sosial Media

Paling kesel klo jauh-jauh maen ke sodara/ kerabat, anak-anaknya cium tangan sebentar, terus pada sibuk sendiri .. :{

gadget-anak

(Ilustration)

 

link to video : illution of socmed

 

 

Renungan Akhir Tahunku

Mengevaluasi kinerja pribadi itu mudah, banyak contohnya
Mengevaluasi kinerja perusahaan juga mudah, banyak contohnya
Mempelajari gaya hidup orang lain juga mudah, banyak contohnya
Mempelajari kemajuaan usaha orang lain  juga mudah, banyak contohnya
bahkan meniru kemajuan bangsa lain juga mudah, banyak contohnya.

Andai umurku begitu panjang,niscaya kupelajari pula cara membuat kapal tuk kita pergi ke bulan
Sayangnya umur itu terlalu pendek untuk mempelajari segala hal, dan dunia juga bukan tempat yang abadi tuk mewujudkan semua mimpi..

Maka yang susah itu mengevaluasi KEMATIAN; sesuatu yang tak ada contoh selain permulaanya, setelah itu kita tak tahu cerita apa setelahnya. Adakah bahagia di alam penantian sana, ataukah menderita karena disiksa setiap harinya.
Sungguh tak bisa kita lihat, sungguh tak bisa dipelajari, sungguh tak bisa dievaluasi.

Yang bisa kita lakukan hanyalah percaya bahwa kita semua kan mengalami,
dan percaya akan semua janji Sang Pemilik Mati..
bahwa Dia akan membalas segala perbuatan kita selama di dunia ini tanpa ada yang terlewat dan tersisa
Siapa banyak berbuat baik akan berakhir bahagia, dan siapa banyak berbuat jahat akan berakhir celaka.

Semua kembali kepada kita.

===================

Bila Tiba

by :  Ungu

Saat tiba nafas tiba diujung hela

Mata tinggi tak sanggup bicara

Mulut terkunci tanpa suara

Bila tiba saat berganti dunia

Alam yang sangat jauh berbeda

Siapkah kita menjawab semua pertanyaan

Bila nafas akhir berhenti sudah

Jantung hati pun tak berdaya

Hanya menangis tanpa suara

Mati, tak bisa untuk kau hindari

Tak mungkin bisa engkau lari

Ajalmu pasti menghampiri

Mati, tinggal menunggu saat nanti

Kemana kita bisa lari

Kita pasti kan mengalami mati

Mati, tak bisa untuk kau hindari

Tak mungkin bisa engkau lari

Ajalmu pasti menghampiri

Mati, tinggal menunggu saat nanti

Kemana kita bisa lari

Kita pasti kan mengalami mati

_________________________
Ungu – Bila Tiba ( Ost. Sang Kiai )

 

*

Berdo’a, itulah pilihan terbaik . karena tiada ciptaan Tuhan yang salah !

Iwan Yuliyanto

pilihan hidup

Bismillah …

Jurnal “Runtuhnya Teori ‘Gen Gay'” yang saya rilis kurang lebih 2 tahun lalu, kembali menjadi Most Viewed Pages di blog ini bersamaan dengan kehebohan publik atas sikap mereka (yang pro dan kontra) atas pelegalan perkawinan sesama jenis oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 26 Juni 2015.

Tidak sedikit mereka yang pro LGBT memberikan komentar dalam jurnal tersebut, kebanyakan berisi pembelaan diri atas nama ‘given by the Creator’, dan tidak sedikit pula diantara mereka yang curhat. Ada juga yang mengaku mengalami kecenderungan disorientasi seksual menulis komentar nasehat ditujukan kepada para pelaku yang memiliki disorientasi seksual juga. Insya Allah curhat dan nasehatnya tersebut akan saya bahas dalam jurnal berikutnya.

Lihat pos aslinya 1.016 kata lagi

Kalau dipikir-pikir, tak teganya rasanya mendidik dia terlalu keras. Bagaimana tidak, sebagai anak terakhir, juga yang terakhir masih sekolah, perempuan pula.. secara adat, berhak rasanya ia DIMANJA. Tapi, begini lah kami adanya, beginilah yang kami mampu. Tak disangka, ia tegar menghadapi semua.

Berikut tulisannya yang membuatku menitikan air mata, tak sengaja kubaca saat mengirim persyaratan JALUR BIDIK MISI ke situs Universitas Padjajaran, Bandung.. makin terharu, karena ini juga hampir cita-citaku dulu.

PERJALANAN HIDUPKU

Perkenalkan namaku…Garut..17 tahun…

Saya berasal dari keluarga besar. Saya anak bungsu dari 12

bersaudara. Bapak saya berusia 72 tahun beliau dikenal sebagai

seorang ustadz, dan untuk menunjang kebutuhan ekonomi keluarga

beliau hidup bertani. Sedangkan ibu saya berusia 64 tahun sebagai ibu

rumah tangga dan seringkali ikut menemani bapak bertani di sawah.

Orangtua selalu mengajarkan hidup sederhana, saya dan kakak-kakak

saya selama sekolah tak pernah mengenal yang namanya uang jajan.

Saya berangkat sekolah dengan menggunakan angkutan umum, uang

saku yang saya dapatkan setiap hari tidak lebih 5000 rupiah, hanya

cukup untuk dua kali naik angkutan umum pulang dan pergi. Oleh

karenanya, saya diharuskan bisa mandiri dan tidak bergantung kepada

Orangtua dalam hal keuangan jika saya diberi kesempatan untuk dapat

melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan nanti.

Saya paham jika Orangtua hanya mampu memberi kami biaya

pendidikan sampai batas jenjang SMA. Akan tetapi semangat saya

tidak pemah kalah oleh kondisi dan lemahnya kemampuan Orangtua

saya dalam membayar biaya pendidikan.

Saya sangat bersyukur Allah SWT titipkan saya dalam keluarga

yang memiliki wawasan Islam yang cukup kentara, di sekolah dan

diluar sekolah pun saya aktif dalam organisasi kerohanian Islam.

sehingga hal itu cukup membentuk karakter pribadi saya untuk

menjadi perempuan yang sangat sadar akan syariat Islam. Saya

diajarkan untuk tidak berpacaran. Selain karena didalam Islam tidak

mengenal adanya pacaran, saya ingin bisa fokus terhadap pendidikan

terlebih dahulu. Selain itu, tentu karena saya masih tergantung

terhadap orangtua, maka sudah sepatutnya saya membahagiakan

mereka dengan tidak memikirkan orang yang spesial terlebih dahulu.

Untuk hal yang berhubungan dengan pekerjaan, keluarga saya

mayoritas terjun dalam bidang pendidikan. Akan tetapi harapan saya

kelak dapat menjadi seorang sarjana dalam bidang Teknologi

Pertanian. Saya tertarik dalam bidang tersebut karena Orangtua saya

adalah petani, profesi tersebut ditekuni secara otodidak sehingga

kuantitas dan kualitas hasilnya pun bisa dengan ruang lingkup

pemasaran yang kecil dengan kualitas konsumsi kalangan bawah. Hal

ini tentu sangat menginspirasi saya untuk membantu Orangtua saya

untuk dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas pertanian

mereka, terlebih lagi saya berharap mampu memberdayakan dan

mengolah hasil pertaniaan dengan melakukan aktivitas wirausaha

dibidang pengolahan hasil pertanian secara kreatif dan inovafif.

Selain saya bisa membatu orang tua, ketika saya menjadi

pengusaha “rumahan” kelak, waktu yang tersita pun tidak terlalu

banyak, sehingga saya memiliki cukup banyak waktu untuk mengurus

Orangtua saya yang sudah sering sakit karena faktor usia mereka yang

mulai renta.

Salah satu nasehat mengenai anak yang selalu saya ingat

adalah “Anak merupakan amanah yang akan dimintai

pertanggungjawabannya”. Apapun yang dilakukan anak tidak akan

mampu menebus jasa orangtua saat ia kecil. Mereka tidak akan pernah

berhenti memikirkan anaknya kapanpun, dan dimanapun ia berada.

Sedangkan anak, belum tentu ia memikirkan kedua orangtuanya. Hal

ini pulalah yang meyakinkan saya untuk memperhatikan orang tua.

Ajaran Orangtua saya mengenai kesederhanaan hidup dan

keberkahan hidup terhadap saya dan kakak-kakak saya akan selalu

saya ingat dan jika kelak saya menjadi seorang ibu. Saya akan didik anak-anak

saya pula untuk hidup beriman, berislam dan sederhana, tidak

tergantung pada orang lain, namun justru bisa membantu yang lain.

Sehingga, jika saya meninggal maka saya mempunyai investasi

terbesar dalam hidup yakni anak-anak yang sholeh dan sholehah yang

bisa mendoakan keselamatan saya diakhirat sana. Karena hidup pada

hakikatnya bukanlah tujuan tetapi sebuah perjalanan .

Ya, begitulah yang kami ajarkan padanya, bahwa sesulit apa pun kondisi yang dihadapi pendidikan nomor satu. Karena ilmu lah yang akan memberi ketenangan dalam susah ataupun senang.. dan ilmu lah yang akan memberimu petunjuk dalam keadaan berhasil maupun terpuruk.

Yang sabar ya, dik?! Do’a ku selalu menyertaimu. *_*

[ ]

46.718 jasad tertanam disini

dDom16Rkse

Banda Aceh: Salah satu sudut jalan menuju dan dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda tampak ramai, Sabtu (27/12/2014) pagi. Hamparan rumput nan hijau laiknya yang tertanam di taman memberikan efek teduh pada pandangan mata.

_

Tempat itu ternyata bukan sembarang ‘lapangan’. Di padang rumput sekitar dua hektare itu dimakamkan puluhan ribu tubuh korban Tsunami Aceh, sepuluh tahun lalu. Ya, tempat itu adalah salah satu kuburan massal korban bencana mahadahsyat yang sempat menyedot perhatian dunia, pada 2004 silam.

Sekitar 46.718 jasad tertanam di padang rumput yang dikelilingi pohon rindang itu. Tidak seperti kuburan biasa, pemakaman massal tersebut tidak disertai batu nisan, by name and by date. Hanya beberapa batu berukuran sedang berwarna merah yang terpancang.

Wajar rasanya jika tempat itu belakangan dikunjungi banyak kerabat korban. Mereka membacakan doa dan surat yassin untuk korban. Mereka juga memanjatkan doa di tiga saung yang tersedia. Adapula yang duduk di sisi batas pemakaman yang di atasnya bertabur kepingan bunga. Mereka tampak khidmat, khusyuk dan sesekali menyeka air mata yang mungkin sudah tak bisa ditahan untuk menetes.

Mereka yang tak tahu pasti di titik mana keluarga mereka dikuburkan seolah tak peduli. Doa demi doa tetap dialunkan dengan indah dalam rangka memeringati sepuluh tahun tragedi tragis itu. Sebagian dari mereka bahkan sama sekali tak tahu apakah kerabat yang mereka cintai ditemukan atau bahkan tetap hilang bersama puing akibat Tsunami.

“Saya tidak tahu apakah anak saya dimakamkan di sini atau masih belum ditemukan,” kata Yusril Syah (64), kepada Metrotvnews.com, di Pemakaman Massal, Siron, Lambaro, Aceh Besar, Sabtu, (27/12/2014).

Warga asal Kaju, Baitussalam, Aceh Besar ini mengaku dirinya kehilangan banyak sanak saudara. Bencana yang melanda Kaju yang hanya berjarak 1 kilometer dari laut, turut menghilangkan satu anaknya, yang saat itu baru saja lulus SMA dan sedang mengikuti tes kepolisian. Semua sanak saudara, termasuk sang anak, tidak diketahui di mana keberadaannya hingga detik ini.

“Yang jelas, setiap Jumat saya selalu luangkan waktu untuk ke sini dan pemakaman massal lainnya. Utamanya, saya mendoakan keluarga saya, tapi juga mendoakan semua korban,” ucap dia.

Sang istri, Nurlela, (62) mengisahkan, dirinya dan anggota keluarga intinya, sempat terpisah satu sama lain pasca tsunami.

“Kami semua kayak orang setengah gila. Kami bertemu setelah satu minggu,” ujar Nurlela yang kini hidup dengan tiga anak lain.

Semakin siang, warga atau keluarga korban semakin ramai mengunjungi pemakaman di mana bendera merah putih setengah tiang terpancang di pintu masuk makam.
OJE

http://news.metrotvnews.com/read/2014/12/27/337308/di-padang-rumput-ini-korban-tsunami-aceh-beristirahat